January 21, 2011

Antara Kepekaan dan Kepatutan



Di tengah gemuruh soal kasus Gayus yang ramai belakangan apalagi yang bersangkutan hanya divonis hukuman 7 tahun saja, denda Rp. 300 juta atau diganti selama 3 bulan tahanan, lagi-lagi presiden SBY menyatakan bahwa ia selama 7 tahun ini belum pernah mendapatkan kenaikan gaji.

Pernyataan SBY ini disampaikan di tengah Rapat Pimpinan TNI dan Polri, di Balai Samudera, Jum'at, 21 Januari 2011.

Seperti yang ditulis oleh inilah.com di hari yang sama, "SBY bisa saja mengatakan, itu adalah fakta dan dirinya hanya memakai fakta itu untuk membesarkan hati para pimpinan TNI.

Tetapi melacak rekam jejak adalah hal yang sangat mudah di era superinformasi ini. Karena itu, dengan mudah akan diketahui bahwa yang dinyatakan Presiden, Jumat (21/1) pagi ini jelas-jelas curhat.

Bagaimana tidak bila, pada 3 April 2009, di hadapan guru-guru di Surabaya pun presiden pernah melakukan hal yang sama. “Gaji saya belum pernah naik. Nggak apa-apa," kata SBY saat itu.

Sebelumnya, presiden pun melakukan hal serupa. Pada 5 Januari 2009, saat presiden berpidato dalam penyerahan daftar isian penyelenggaraan anggaran (DIPA), SBY juga mengeluhkan gajinya. Saat itu soal nominal yang ia terima. "Gaji presiden harusnya yang paling tinggi, tapi ternyata tidak," ujar SBY saat itu.

Baiklah, berapa gaji presiden saat ini? Kantor Presiden pernah melansir, gaji presiden Indonesia mencapai US$74,9 ribu per tahun, atau sekitar Rp 62,4 juta per bulan. Publik tahu, seperti yang terjadi juga pada pimpinan daerah, ada berbagai dana dan tunjangan lain yang besarnya belum dirilis resmi.

Tetapi persoalannya, untuk negeri dengan kemiskinan dan sejumlah problem sosial akut seperti Indonesia, besaran gaji plus aneka tunjangan yang tak jelas besarnya itu sudah lebih dari cukup. Menurut majalah kredibel The Economist, gaji presiden Indonesia justru merupakan gaji pemimpin dengan kesenjangan tertinggi ketiga dari 22 negara yang disurvei 2010 lalu.

Majalah itu menulis, berbeda dengan rilis resmi Kantor Presiden, gaji per tahun yang diterima Presiden SBY mencapai 124.171 dolar AS per tahun. The Economist mencatat, dengan angka tersebut artinya gaji SBY itu 28 kali lipat dari pendapatan per kapita rakyat Indonesia.

Saya sendiri menilai bahwa sekarang pers sepertinya manipulatif sehingga akan memancing berbagai opini yang negatif terhadap presiden. Sementara, menurut saya, sikap dan pernyataan SBY sendiri juga kurang tepat dan seakan tidak peka dengan apa yang sekarang ini tengah terjadi di masyarakat. Barangkali bila menyatakan hal tersebut pada saat yang tepat, mungkin saja respon dan opini dari masyarakat akan lebih bersifat positif.

Kebiasaan Kedelapan (Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan)



Karya Stephen R Covey

Ringkasan oleh Alfred Untung

Bab 1. Derita Kita

Kenapa Kebiasaan Ke-8?
Banyak orang bertanya, apakah 7 Habits masih relevan dalam konteks realitas saat ini? (7 Habits diperkenalkan pada tahun 1989). Jawabannya, semakin besar perubahan dan semakin sulit tantangannya, 7 Habits/ 7 Kebiasaan itu justru semakin relevan. 7 Kebiasaan menampilkan kerangka kerja yang lengkap dari prinsip-prinsip karakter dan efektivitas manusia yang universal dan abadi, tak terikat oleh waktu tertentu.

Kebiasaan ke-8 bukan sekedar merupakan penambahan satu kebiasaan lagi terhadap 7 Kebiasaan yang sudah ada. Kebiasaan ke-8 adalah tentang melihat dan memanfaatkan Dimensi Ke-Tiga dari 7 Kebiasaan (Membuat Diagram 7 Kebiasaan menjadi Tiga Dimensi), yang bisa menjawab tantangan sentral dari Abad Pekerja Pengetahuan (Knowledge Worker Age) yang baru.

Kebiasaan Ke-8 adalah Menemukan Suara Panggilan Jiwa Anda dan Mengilhami Orang Lain untuk Menemukan Suara Kemerdekaan Jiwa Mereka. Makna dari Suara yang dimaksud dapat berarti Potensi Tertinggi, Panggilan Hidup, Arah Hidup Panggilan Jiwa, Suara Panggilan Jiwa, hal-hal yang menuntut perangkat pikiran baru, keahlian baru, perangkat peralatan baru dan Kebiasaan Baru, untuk menjangkau dan memanfaatkan tingkat kejeniusan dan motivasi manusia yang lebih tinggi dan tertinggi.

Deritanya – Masalahnya – Solusinya

Buku ini dimulai dengan menggambarkan derita di tempat kerja. Penderitaan ini dirasakan oleh semua orang di semua tingkatan, di setiap jenia organisasi. Hal yang sama dirasakan juga dalam keluarga, dalam komunitas dan dalam masyarakat umumnya.

Bab 2. Masalahnya

Untuk Memahami Masalah Inti dan Implikasi yang mendalam dari Perubahan Zaman.
Lima zaman peradapan manisia yaitu
Zaman Berburu dan Mengumpulkan Makanan,
Zaman Pertanian,
Zaman Industri,
Zaman Pekerja Pengetahuan dan Informasi,
dan akhirnya, Zaman Kebijaksanaan, yang sedang mulai.

Apabila Anda ingin membuat perubahan dan perbaikan besar dan dan berarti, lakukan sesuatu pada Paradigma. Paradigma secara umum berarti persepsi, asumsi, teori, kerangka acuan atau “kacamata“ yang Anda gunakan untuk memandang dunia.

Manusia bukanlah barang atau benda mati, manusia memiliki 4 dimensi, Tubuh, Pikiran, Hati dan Jiwa, yang membentuk Pribadi Utuh. Dengan Pribadi Utuh manusia dapat melihat dan menentukan pilihan-pilihan dalam kehidupan.

Terdapat 6 Pilihan yaitu:
- Memberontak atau Keluar
- Menurut tapi Culas
- Bersedia Memenuhi Aturan
- Kerjasama dengan Sukarela
- Komitmen Sepenuh Hati
- Kegairahan yang Kreatif

Bab 3. Pemecahan Masalah

Kebiasaan Ke-8 menawarkan Pemecahan Masalah / Solusi, yaitu :
1. Menemukan Suara Anda
2. Mengilhami Orang Lain untuk Menemukan Suara Mereka

Cara Menemukan Suara Anda
1. Temukan Suara Anda dengan memahami kodrat Anda yang sebenarnya, sesuatu yang disebut Tiga Anugrah Luar Biasa, yang sudah dimiliki sejak lahir dan mengembangkan serta memanfaatkan kecerdasan yang terkait dengan keempat bagian dari kodrat Anda.

2. Nyatakan Suara Anda dengan memelihara perwujudan tertinggi dari kecerdasan manusia, yaitu Visi, Disiplin, Gairah Hidup dan Nurani.

Bab 4. Menemukan Suara Anda

Anugrah Bawaan Sejak Lahir yang Belum Anda Buka

3 Anugrah Bawaan Sejak Lahir (Sebagian Besar Belum Dibuka)
1. Kebebasan dan Kemampuan untuk Memilih
2. Prinsip-Prinsip (Hukum Alam) :
- Universal
- Abadi
- Tidak membutuhkan bukti lain
3. 4 Kecerdasan / Kemampuan :
- Kecerdasan Mental (IQ) Visi
- Kecerdasan Fisik (PQ) Disiplin
- Kecerdasan Emosional (EQ) Gairah Hidup
- Kecerdsasan Spiritual (SQ) Nurani

Anugrah Bawaan Kita Pertama : Kebebasan untuk Memilih

Pada dasarnya, kita ini adalah hasil dari pilihan-pilihan kita, tentu saja gen dan budaya sering amat berpengaruh, tetapi tidak menentukan. Antara Rangsangan dan Tanggapan terdapat sebuah ruang. Di ruang itu terdapat Kebebasan dan Kemampuan kita untuk memilih Tanggapan Kita.Dalam pilihan-pilihan kita terdapat Perkembangan dan Kebahagiaan Kita. Kesadaran mengenai Kebebasan dan Kemampuan Diri untuk memilih itu, akan menguatkan diri kita, karena kesadaran tersebut dapat menimbulkan pemahaman akan pilihan-pilihan yang ada dan besarnya potensi kita untuk memilih.

Anugrah Bawaan Kita Kedua : Hukum Alam dan Prinsip-Prinsip

Hukum alam (seperti gravitasi dan medan magnet bumi) dan prinsip-prinsip (seperti rasa hormat, kejujuran, kebaikan hati , integritas, pelayanan dan keadilan) mengendalikan akibat dari pilihan-pilihan kita. Hukum alam juga mengendalikan karakter dan keagungan manusia beserta seluruh hubungan yang memiliki ciri manusiawi.

Anugrah Bawaan Kita Ketiga : Empat Kecerdasan/ Kemampuan dari Kodrat Kita

1. Kecerdasan Mental (IQ)
Intelligence Quotient yaitu kemampuan kita untuk menganalisis, berpikir dan menentukan sebab akibat, berpikir secara abstrak, menggunakan bahasa, memvisualisasikan sesuatu dan memahami sesuatu.

2. Kecerdasan Fisik (PQ)
Physical Quotient yaitu kecerdasan yang dimiliki oleh tubuh kita untuk menjalankan dan mengatur sistem tubuh kita secara otomatis dan beradaptasi dengan lingkungan hidup.

3. Kecerdasan Emosional (EQ)
Emotional Quotient yaitu kecerdasan penyesuaian diri yang berhubungan dengan kepekaan social, kepatutan sosial, kepekaan mengenai waktu yang tepat, kemampuan berkomunikasi secara baik dengan orang lain, keberanian untuk mengakui kelemahan serta kemampuan untuk menyatakan dan menghormati perbedaan.

4. Kecerdsasan Spiritual (SQ)
Spiritual Quotient merupakan pusat dan paling mendasar diantara kecerdasan lainnya. Kecerdasan ini menjadi sumber bimbingan dan pengarahan bagi tiga kecerdasan lainnya. Kecerdasan Spiritual membantu kita mencerna dan memahami prinsip-prinsip sejati, yang dilambangkan dengan “Kompas”. Kompas merupakan gambaran yang bagus bagi prinsip, karena selalu menunjukkan satu arah yaitu Utara. Kunci untuk pertahanan otoritas moral yang tinggi, yang terus menerus secara konsisten, dilambangkan dengan Kompas yang mengikuti prinsip “Utara yang Sesungguhnya”.

Bab 5. Ekspresikan Suara Anda

Visi, Disiplin, Gairah dan Nurani

Perwujudan tertinggi dari ke-4 Kecerdasan itu adalah :
- Kecerdasan Mental (IQ) Visi
- Kecerdasan Fisik (PQ) Disiplin
- Kecerdasan Emosional (EQ) Gairah Hidup
- Kecerdsasan Spiritual (SQ) Nurani (Suara Hati)

Perwujudan ini juga merupakan sarana kita yang paling ampuh untuk Mengekspresikan Suara Kita.

Visi berarti menggunakan mata batin untuk melihat kemungkinan yang terdapat dalam diri orang, kelompok, sebuah proyek, hal-hal yang pantas diperjuangkan dan dalam setiap usaha yang kita kerjakan. Visi dihasilkan ketika pikiran kita menghubungkan kebutuhan dan kemungkinan yang dapat terjadi (pilihan-pilihan).

Disiplin adalah harga yang harus dibayar untuk mewujudkan visi kita tersebut. Disiplin akan muncul ketika Visi bertemu dengan Komitmen.

Gairah Hidup adalah api, hasrat dan kekuatan yang tumbuh dari keyakinan. Merupakan dorongan untuk mempertahankan Disiplin untuk terus menerus berjuang menggapai Visi.
Gairah itu muncul kalau kita menemukan dan memanfaatkan Suara Kita untuk menggapai tujuan/ cita-cita yang besar dan luhur.

Suara Hati/ Nurani adalah kesadaran moral mengenai hal yang baik dan buruk, juga menjadi dorongan untuk menggapai sebuah makna, serta memberikan sumbangan nyata. Nurani sebagai kekuatan yang mengarahkan kita dalam pencapaian Visi, mendayagunakan Disiplin dan menciptakan Gairah Hidup.


VISI
Sebelum berbicara mengenai Visi di luar diri kita (saya), penting sekali untuk mengembangkan pemahaman mengenai diri sendiri, pemahaman mengenai diri garis hidup kita, pemahaman misi hidup dan peran unik kita dalam kehidupan ini, mencoba untuk mengenal dan memahami Visi dari kehirupan diri kita di dunia, di lingkungan kita.
Kemudian baru kita mencoba untuk melihat Visi dalam diri orang lain, yaitu potensi yang belum berkembang dalam diri mereka. Visi ini juga berkaitan dengan upaya kita untuk menemukan dan memperluas pandangan kita mengenai orang lain, menegaskan keberadaan mereka, mempercayai mereka dan membantu mereka menemukan serta mewujudkan segala potensi di dalam diri mereka, membantu mereka untuk menemukan Suara Mereka. Setelah itu semua baru kita berbicara mengenai Visi dari organisasi.

DISIPLIN
Disiplin adalah pelaksanaan dari Visi, yang membuat Visi terjadi, suatu tindakan nyata dan pengorbanan yang harus dilakukan untuk mewujudkan Visi. Disiplin merupakan kekuatan kehendak yang diwujudkan dalam tindakan.

GAIRAH
Gairah muncul dai dalam hati dan tampak nyata sebagai optimisme, semangat, hubungan emosional dan tekad; Merupakan dorongan untuk menjalankan disiplin dalam pencapaian Visi. Kunci untuk menciptakan Gairah Hidup adalah menemukan bakat unik, peran dan tujuan khusus kita (saya) di dunia ini.

SUARA HATI/ NURANI
Nurani adalah suara yang lembut dan pelan (bisikan) yang berasal dari hati (batin). Nurani merupakan kesadaran moral, cahaya batin kita, suatu fenomena yang universal.
Nurani secara terus menerus mengingatkan kita akan prinsip dan nilai dari tujuan dan cara pencapaian Visi kita.

Bab 6. Mengilhami Orang Lain Untuk Menemukan Suara Mereka

Tantangan Kepemimpinan
Tantangan Kepeminpinan adalah tantangan terbesar di dalam organisasi, termasuk keluarga, adalah membentuk dan menjalankan organisasi dengan cara yang memungkinkan setiap orang dalam organisasi dapat mengetahui dan merasakan nilai dan potensi dirinya guna mencapai keagungan dan menyumbangkan bakat maupun gairahnya (Suara Mereka) untuk mencapai tujuan dan prioritas-prioritas tertinggi dari organisasi tersebut.
Kepemimpinan adalah mengomunikasikan kepada orang lain nilai dan potensi mereka secara amat jelas, sehingga mereka bisa melihat hal-hal tersebut dalam diri mereka,

Kepemimpinan (Leadership) dan Manajemen
Leadership (Leader) Manajemen (Manager)

“Para Pemimpin adalah orang-orang yang melakukan hal-hal yang benar“
“Warren

“Para Manajer adalah orang-orang yang melakukan hal-hal dengan benar“
Bennis“

“Kepemimpinan berurusan dengan upaya untuk menghadapi perubahan“
“John

“Manajemen berurusan dengan upaya untuk menghadapi kompleksitas”
Kotter”

“Kepemimpinan punya nuansa kinestetik; ada gerakan di situ“
“Kouezes

“Mengelola berarti menjaga keteraturan, mengatur dan mengotrol”
Posner”

“Para pemimpin peduli terhadap apa makna berbagai hal bagi orang-orangnya“
“Abraham

“Para Manager peduli pada bagaimana hal-hal dikerjakan”
Zalesnik”

“Pemimpinan adalah arsitek“
“John

“Manager adalah pembangun”
Mariotti”

“Pemimpin berfokus pada penciptaan visi bersama“
“George

“Manajemen adalah melakukan disign pekerjaan dan berurusan dengan kontrol”
Weathersby”

Empat Peran Kepemimpinan :

1. Panutan (Hati Nurani) Budaya
Menjadi Contoh yang baik

2. Perintis (Visi) Strategi
Bersama-sama menentukan arah yang dituju

3. Penyelaras (Disiplin) Struktur
Menyusun dan mengelola system agar tetap pada arah yang telah ditetapkan

4. Pemberdaya (Gairah) Pelaksanaan
Memfokuskan bakat pada hasil, bukan pada metode, lalu menyingir agar tidak menghalangi dan memberi bantuan jika diminta

Empat Peran Kepemimpinan sebenarnya adalah Empat Karakteristik Kepemimpinan Pribadi, yaitu Visi, Disiplin, Gairah Hidup dan Hati Nurani, keempatnya akan membentuk Empat Praktek Manajemen Primer.

Empat Praktek Manajemen Primer :
1. Budaya
Mengembangkan dan memelihara budaya yang berorientasi kepada kinerja

2. Strategi
Menyusun dan memelihara strategi yang dinyatakan dengan jelas dan terfokus

3. Struktur
Membangun dan memelihara organisasi yang cepat dan fleksibel

4. Pelaksanaan
Mengembangkan dan memelihara pelaksanaan operasional secara sempurna

Bab 7. Meraih Suara & Kemampuan untuk Mempengaruhi :
Menjadi Bilah Kemudi Kecil

Menjadi Panutan atau menyajikan keteladanan adalah jiwa dan pusat dari segala upaya kepemimpinan.

Hal tersebut di atas dimulai dengan Menemukan Suara Anda – Mengembangkan Empat Kecerdasan dan Mengekspresikan Suara Anda dalam Visi, Disiplin, Gairah dan Nurani. Memberikan Keteladanan mengenai karakteristik-karakteristik pribadi akan mengubah tiga Peran lainnya (Perintis, Pemberdaya dan Penyelaras).

BILAH KEMUDI KECIL
Bilah Kemudi Kecil adalah ungkapan mengenai suatu hal yang dapat merubah Paradigma secara hebat. Bilah Kemudi Kecil adalah satu bagian kecil pada kemudi yang menggerakkan bilah/ bagian yang digunakan untuk merubah arah perahu atau kapal laut. Pemimpin yang bersikap sebagai Bilah Kemudi Kecil menjalankan Inisiatif di dalam lingkaran pengaruhnya. Mengambil Inisiatif adalah salah satu bentuk dari Pemberdayaan Diri. Kita (Saya) memberdayakan diri kita sendiri berdasarkan masalah atau tantangan yang sedang kita hadapi. Terdapat 7 Tingkat Inisiatif atau Pemberdayaan Diri.

7 Tingkat Inisiatif atau Pemberdayaan Diri
1. Menunggu Sampai diperintahkan
2. Bertanya
3. Membuat Rekomendasi
4. “Saya Bermaksud Untuk…….”
5. Melaporkan dan Langsung Melaporkannya
6. Melakukan dan Melaporkannya Secara Berkala
7. Melakukannya
Semakin tinggi tingkat pemberdayaan diri kita maka kita semakin layak dipercaya dan semakin besar mendapatkan tingkat kepercayaan.



Bab 8 Suara yang Membuat Kita Layak Dipercaya : Menjadi Panutan Berkenaan dengan Karakter dan Kompetensi

90 persen dari semua kegagalan kepemimpinan adalah kegagalan pada karakter.
Kepercayaan selain merupakan kunci bagi semua hubungan, juga merupakan perekat bagi organisasi. Kepercayaan adalah semen yang menyatuan batu bata. Kepercayaan juga merupakan buah dari sifat layak dipercaya, baik pada orang maupun pada organisasi.

Kepercayaan datang dari 3 Sumber, yaitu :
1. Pribadi
2. Lembaga
3. Seseorang yang secara sadar memilih untuk memberikan kepercayaan kepada orang lain – memberikan nilai tambah/ pemberdayaan pada orang lain.

Kepercayaan merupakan buah dari kelayakan untuk dipercaya, kelayakan untuk dipercaya datang dari Karakter dan Kompetensi.

KARAKTER
Tiga Sisi Karakter Pribadi :

1. Integritas
Integritas adalah memenuhi janji yang dibuat kepada diri sendiri dan/ atau orang lain. Integritas berarti bahwa Anda berfokus pada dan hidup dengan prinsip maupun hukum alam yang mengatur konsekwensi dari perilaku kita.
Kombinasi dari keberanian dan kebaikan hati adalah sumber sekaligus hasil dari Integritas

2. Kematangan
Kematangan berkembang saat seseorang membayar harga yang dituntut oleh Integritas dan mencapai kemenangan pribadi terhadap dirinya sendiri, yang memungkinkan dia untuk bersikap berani sekaligus baik hati.

3. Mentalitas Berkelimpahan
Mentalitas Berkelimpahan berarti bahwa Anda (Saya) tidak memandang kehidupan sebagai persainganyang hanya memberi ruang untuk satu pemenang. Anda akan memandang kehidupan sebagai kumpulan besar dari berbagai peluang, sumber daya dan kekayaan yang terus membesar.
Mentalitas Berkelimpahan melihat pesaing-pesaing merela sebagai sekelompok guru yang paling berharga dan penting bagi diri mereka.

Bab 9 Suara dan Kecepatan Kepercayaan

Untuk dapat Mengilhami Orang Lain untuk Menemukan Suara Mereka terdapat beberapa persyaratan (12 Persyaratan) yang harus dipenuhi yaitu :

1. Kecepatan Kepercayaan
Kepercayaan lebih cepat dari apapun yang bisa Anda pikirkan, karena jika ada kepercayaan, kesalahan dimaafkan dan dilupakan. Kepercayaan adalah pengikat kehidupan.

2. Kewibawaan Moral dan Kecepatan Kepercayaan
Kecepatan Kepercayaan akan membangun Kewibawaan Moral. Kewibawaan Moral merupakan pelaksanaan pilihan bebas berdasarkan prinsip-prinsip, yang hampir selalu memerlukan bentuk-bentuk pengorbanan tertentu.

3. Berusaha Memahami Terlebih Dahulu
Upaya kita untuk memahami orang lain benar-benar membuat kepercayaan akan lebih diberdayakan.

4. Membuat dan Memenuhi Janji
Tidak ada yang menghancurkan kepercayaan lebih cepat daripada membuat janji dan tidak memenuhinya. Sebaliknya, tidak ada yang membangun dan memperkuat kepercayaan yang lebih baik daripada memenuhi janji yang sudah anda buat.

5. Kejujuran dan Integritas
Kejujuran dan integritas pribadi merupakan hal yang amat penting untuk semua hubungan dan juga bagi kesehatan jiwa kita.

6. Keramahan dan Sopan Santun
Keramahan dan sopan santun yang tulus bersumber dari khasanah SQ yang besar.

7. Berpikir Menang-Menang atau Tidak Bertransaksi
Berpikir menang-menang adalah bentuk kerjasama untuk mencapai solusi baru dan kreatif serta memenuhi kepentingan semua pihak.

8. Menjelaskan Harapan
Harapan-harapan yang jelas akan menghilangkan kegagalan komunikasi.

9. Setia pada yang Tidak Hadir
Hal ini merupakan salah satu ujian tertinggi bagi karakter maupun keeratan jalinan suatu hubungan.

10. Meminta Maaf
Mintalah maaf jika membuat kesalahan dan hiduplah dengan lebih baik (tidak mengulangin lagi kesalahan yang sama).

11. Memberikan dan Menerima Umpan Balik
Terbuka dan jujurlah dalam memberikan dan menerima umpan balik (feedback).

12. Memaafkan
Memaafkan yang sejati berarti melupakannya, membiarkannya berlalu dan bergerak maju.

Bab 10 Menyatukan Suara: Mencari Alternatif Ke-Tiga

Alternatif Ke-Tiga adalah sebuah alternatif yang lebih baik daripada semua alternatif yang telah diusulkan.
Alternatif itu merupakan hasil upaya kreatif sepenuh hati.Alternatif itu muncul karena orang-orang yang terlibat/ mau melibatkan diri, bersedia untuk menghadapi resiko dan terluka, dengan cara membuka diri, sudi mendengarkan, dan mencari hal-hal yang lebih baik dan mulia.
Alternatif Ketiga bukanlah kompromi diantara cara saya dan anda; melainkan mencapai sesuatu yang lebih tinggi dari sebuah kompromi. Alternatif Ketiga sama dengan yang disebut oleh pengikut Budha sebagai jalan tengah – sebuah posisi tengah yang lebih tinggi dan lebih baikdari pada kedua cara yang ada sebelumnya, seperti ujung dari sebuah segitiga.
Dua Langkah untuk mencapai Sinergi (Alternatif Ketiga)
1. Apakah Anda (Saya) bersedia untuk mencari pemecahan masalah yang lebih baik daripada yang telah dikemukakan oleh masing-masing pihak?
2. Apakah Anda (Saya) sepakat pada aturan sederhana ini:
“Tak seorangpun dapat mengajukan pandangannya, sampai mereka mampu menyatakan kembali pandangan orang lain, yang memuaskan orang lain itu“

Bab 11 Satu Suara: Merintis Visi, Nilai-nilai dan Strategi Bersama

Merintis jalan adalah peran dalam sebuah organisasi atau tim yang setara, artinya menjadi panutan bagi individu lainnya.

Visi dan Nilai-nilai bersama dianalogikan dengan :
“Membaca halaman yang sama” atau “Bernyanyi pada lembar lagu yang sama”.
Pertanyaan Misi dan rencana strategis yang baik harus mampu menyentuh siapapun di segala tingkat dalam sebuah organisasi dan kapasitasnya memungkinkan menjelaskan hal-hal yang dilakukan untuk menumbang terhadap pelaksanaan strategis dan keselarasan yang harmonis dengan nilai-nilai pemandu.

Untuk menciptakan lingkungan yang memiliki focus dan kerjasama tim dari puncak sampai pada lapisan paling bawah, semua anggota organusasi harus tahu apa yang menjadi prioritas tertinggi, meyakininya, menerjemahkannya menjadi tindakan-tindakan yang spesifik memiliki disiplin untuk tetap pada arah yang sudah ditetapkan dan saling mempercayai serta mau berkolaborasi secara efektif.

Bab 12 Suara dan Disiplin Pelaksanaan: Menyelaraskan Tujuan dan Sistem untuk mencapai Hasil

Penyelarasan adalah merancang dan menjalankan system dan struktur yang memperkuat nilai-nilai inti dan prioritas strategis tertinggi dari organisasi.
Peran penyelarasan menuntut kewaspadaan terus menerus
Pekerjaan menyelaraskan tidak akan pernah selesai. Hal ini membutuhkan upaya dan penyesuaian terus menerus.

Salah satu cara penyelarasan adalah secara serius membandingkan dan belajar (benchmarking) dengan/ dari kinerja organisasi anda dengan dengan organisasi serupa yang memiliki kinerja lebih baik.

Alat Bantu Penyelarasan: Sistem Umpan Balik.
Pentingnya umpan balik berlaku baik untuk organisasi maupun bagi setiap orang di dalam sebuah organisasi.

Alat / Papan Pencatat Skor (Score Board) yang baik adalah alat Umpan balik yang sangat berguna dan penting untuk Penyelarasan dan Pencapaian Hasil.

Bab 13 Suara yang Memberdayakan: Membebaskan Gairah dan Bakat

Pemberdayaan manusia (penyelarasan suara-suara) dilihat sebagai buah dari pemberian contoh atau teladan, penyelarasan dan perintis jalan.
Alat Bantu Pemberdayaan: Proses Kesepakatan Menang-Menang
Kesepakatan menang-menang memungkinkan fleksibilitas, adaptasi, dan kreativitas pada tingkat yang jauh lebih tinggi.

Skema Pribadi Utuh dalam Kerja yang Utuh

Pribadi yang Utuh terdiri dari:
1. Pikiran Merencanakan
2. Tubuh Melakukan
3. Hati Mengevaluasi
4. Jiwa Melayani
Unsur Melayani sebagai Pusat dari Skema Pribadi yang Utuh dalam Kerja yang Utuh, untuk mengakui kebutuhan Jiwa, untuk mendapatkan makna dan memberikan kontribusi pada Kerja yang Utuh.

Bab 14 Kebiasaan Ke-8 dan Titik Gemilang

Kebiasaan ke-8 memberi Anda (Saya) pola pikir dan perangkat keahlian untuk secara terus menerus menggali potensi yang ada di dalam diri manusia sehingga mencapai Titik Gemilang (Keagungan).

TITIK GEMILANG (Mencapai Keagungan)
Keagungan Kepemimpinan dicapai oleh orang-orang yang tanpa memandang posisi atau jabatan mereka, memilih untuk mengilhami orang lain untuk menemukan suara mereka.

Untuk pelaksanaan menuju jalur keagungan yang membebaskan dan mewujudkan potensi manusia terdapat 4 Disiplin Pelaksanaan:

Disiplin 1: Fokus pada Tujuan-tujuan Terpenting
Orang secara alamiah hanya mampu berfokus dengan amat baik hanya pada satu hal dalam satu saat.

Disiplin 2: Membuat Alat Ukur dan Papan Skor yang Menggugah
Sebuah Papan Skor memungkinkan Anda (Saya) untuk memanfaatkan sebuah prinsip dasar, “Orang bermain dengan cara berbeda jika skor yang mereka capai dicatat“.

Disiplin 3: Terjemahkan Tujuan Skala Besar Menjadi Tindakan-tindakan Spesifik
Untuk mencapai tujuan yang belum pernah anda capai sebelumnya, Anda perlu melakukan hal-hal yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya.

Disiplin 4: Saling Menjaga Akuntabilitas, Sepanjang Waktu

Tiga Praktek Kunci sebagai Karakteristik dari Akuntabilitas yang Efektif:
1. Pelaporan Diagnosis Singkat (Triage Reporting)
2. Menemukan Alternatif Ke-Tiga
3. Melancarkan Jalan (Menyingkirkan Hambatan dan Menelaraskan Tujuan)

Bab 15. Menggunakan Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain

Dorongan dari dalam diri untuk
- Menemukan Suara Anda dan
- Mengilhami Orang Lain untuk Menemukan Suara Mereka
mendapatkan bahan bakar dari satu tujuan yang menjangkau segalanya, yaitu melayani berbagai kebutuhan manusia.

Era Kebijaksanaan
Era kebijaksanaan yaitu saat di mana informasi dan pengetahuan disatukan dengan tujuan dan prinsip.

Kebijaksanaan
Kebijaksanaan adalah penggunaan pengetahuan secara bermanfaat bagi orang banyak.

Kebijaksanaan juga berarti memadukan informasi dan pengetahuan dengan tujuan bermakna dan menggunakan prinsip yang lebih tinggi.
Kebijaksanaan mengajar kita untuk menghargai semua orang dan untuk merayakan setiap perbedaan yang ada dalam kelompok, serta mengikuti pedoman etis berikut:
“Melayani berarti Melampaui Diri Sendiri“.

KATA AKHIR DAN KESIMPULAN

Paradigma Dasar, manusia utuh terdiri dari tubuh, pikiran, hati dan jiwa.
Saat seseorang (saya) Menjalankan Kebiasaan Ke-8, berarti orang itu Meningkatkan Kebebasan dan Kemampuan Memilih untuk Memecahkan Tantangan dan Melayani Berbagai Kebutuhan Manusia.

Kepemimpinan merupakan pilihan, bukan jabatan; merupakan seni untuk memampukan orang lain; untuk memberdayakan manusia.
Gunakanlah Suara Kita dengan Bijaksana untuk Melayani Orang Lain.

Catatan dari Penyunting:

Ringkasan ini jauh dari sempurna, oleh karena itu Bacalah Buku Aslinya, The 8th Habit. Buku aslinya memuat banyak sekali cotoh yang memudahkan kita untuk lebih memahami dan mengerti serta menjalankan Kebiasaan Ke-8 ini.
Selamat menjalankan Kebiasaan Ke-8.

Alfred Untung

January 16, 2011

Air Zam-Zam dan Keutamaannya



Oleh: Kang Armanz

Air Zam-zam terletak di depan Kabah dan saat ini sumur zam-zam telah di tutup demi kelancaran jamaah Haji datu Umroh yang hendak ber Towaf.

Dalam hadist-hadist disebutkan besarnya manfaat air zam-zam, bahkan disunahkan bagi jamaah Haji maupun Umroh untuk meminumnya, dan kesunahan minum air zam-zam juga bagi seluruh muslimin.

Banyak hadist yang menjelaskan keutamaan minum air zam-zam antara lain:



“Sunnguh (air zam-zam itu) penuh keberkahan dan memberi kenyang pada orang yang lapar.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat Thoyalisi lain ada tambahan, “ penyembuh dari semua penyakit.”

Jadi kesimpulan dari hadist diatas adalah:

“ Bahwa air-zam-zam itu adalah air penuh keberkahan, yang bisa mengenyangkan orang yang lapar dan air penyembuh dari semua penyakit.”

Mengenai bisa mengenyangkan orang yang lapar ini pernah dibuktikan oleh seorang sahabat, Abu Dzar Al-Ghifari, yang pernah menetap selama 1 bulan di Kota Mekkah dan hanya minum air air zam-zam saja tanpa rasa lapar selama itu.

Bahkan dalam satu riwayat dari Imam Bukhori disebutkan bahwa Nabi Saw pernah dibersihakan dengan air Zam-zam oleh Malaikat ketika beliau masih kecil.



Kautamaan Minum Air Zam-zam

Ada beberapa Hadist yang menunjukan keutamaan minum Air Zam-zam

ماء زمزم لما شرب له

“Air zam-zam itu tergantung (niat) orang yang meminumnya.”(HR. Ibnu Majah)

Artinya keberkahan air zam-zam itu tergantung dari niat yang meminumnya, dan ini menunjukan bahwa air zam-zam bukan sekedar air pelepas dahaga saja. Namun lebih dari itu ia bisa menjadi wasilah (perantara) agar air zam-zam yang kita minum mengandung manfaat dan berkah bagi tubuh kita.



Etika Minum Air Zam-Zam

* Minum sambil menghadap Kiblat
* Membaca Basmalah terlebih dahulu
* Bernafas (mengeluarkan nafas) 3 x ketika minum
* Membaca Hamdalah selesai Minum
* Duduk ketika minum, namun ada riwayat dari Imam Bukhori yang berasal dari riwayat Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw pernah minum air zam-zam sambil berdiri.
* Dengan demikian berdiri maupun duduk dibolehkan ketika minum air zam-zam. Namun duduk lebih utama. Tapi bagi yang berhaji atau umroh tentunya sulit minum sambil duduk, ketika selesai mengerjakan tawaf karena banyak nya jamaah yang berkurumun mengambil air zam-zam (saat ini pintu akses ke sumur zam-zam telah ditutup, sehingga para jamaah hanya bisa mengambil air zam-zam di tong air zam-zam yang telah disediakan)
* Ketika minum disisakan sedikit kemudian sisa air itu di usapkan ke kepala, wajah dan dada
* Berdoa ketika minum air zam-zam



Doa Minum Air Zam-zam

Dari riwayat Ibnu Abbas bahwa Ibnu Abbas ketika minum air zam-zam berdoa:



اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً ، وَ رِزْقاً وَاسِعاً وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ



“Ya Allah aku minta ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas dan obat dari segala penyakit.”

Adopted from:

www.amanitour.com

Copyright © 2010
by Kang Ackmanz.

Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi: Fakta atau Fiksi?



Lima orang anak memiliki uang Rp. 100.000. Bila dirata-rata, maka masing-masing anak memiliki uang sebesar Rp. 20.000. Faktanya, anak 1 memiliki uang sebesar Rp. 50.000. Anak 2 = Rp. 25.000. Anak 3 = Rp. 15.000. Anak 4 = Rp. 9.000, dan anak 5 = Rp. 1000 saja. Katanya pendapatan / kapita masyarakat Indonesia sekarang adalah sebesar USD 3.000/tahun. Faktanya: ???

Peningkatan angka pertumbuhan ekonomi yang acap digadang-gadang oleh pemerintah mungkin terjadi. Masalahnya apalah arti peningkatan pertumbuhan bila fakta yang terjadi adalah yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin miskin...

Persoalan kaya dan miskin memang merupakan hal yang sunatullah (taken for granted), tetapi ini masalah ketidakadilan dan 'pemiskinan'. Sekarang bahkan para peritel besar pun sudah meringsek pemukiman di perkampungan sehingga membuat para pedagang kecil di sana keteteran dimana penghasilan mereka semakin berkurang.

Sementara, bicara keadilan tentu tidak bisa dengan analogi memberikan jumlah uang yang sama nominalnya kepada dua orang anak yang berbeda tingkatan pendidikan. Memberi uang jajan ke anak yang telah di SMA tentu tidak sama nominalnya ke anak yang baru duduk di tingkat SD...

Translating-Interpreting



Many of the things I learned as an interpreter are equally useful in advertising.

One such lesson is the importance of ‘back translation’ – a validation test where someone else translates your translation back into the original language.

This re-translation is the true measure of success, because it shows how well the intended message has survived communication.

Here’s an example:

Original English:

Some Japanese women believe that fairness
is more important than intelligence.

Italian translation:

Alcune donne giapponesi credono che la pelle chiara
sia più importante dell’intelligenza.

The ‘back translation’ – converting that Italian translation back into English:

Some Japanese women believe that pale skin
is more important than intelligence.

However, in the original, “fairness” refers to being evenhanded, not to skin pigmentation.

Looking back at that original, it’s easy to see how this misunderstanding occurred.

But if you only saw the Italian translation, you wouldn’t have the benefit of that context.

You’d only see this contentious statement, which could easily cause offense.

And therein lies the lesson: when it comes to communication, subtle nuances can have a significant impact.
Brand interpreters

Advertisers must navigate such nuances every day, because audiences only see translations.

They never see the beautifully crafted PowerPoint slides.

They never hear the eloquent strategic rationale.

They only ever see the ads.

And if they can’t translate the messages in those ads back to what we intended to share, we’ve failed.

So how do we mitigate the dangers of nuance?
From lesson to learning

During a particularly tough back-translation test, a colleague shared some invaluable advice:



It’s amazing how such a simple change can make a world of difference.


Adopted from:

Eskimon

January 14, 2011

Tentang Tawakal


Tawakal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Alloh Ta’ala untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, ”Dan barangsiapa bertaqwa kepada Alloh, niscaya Dia akan jadikan baginya jalan keluar dan memberi rizqi dari arah yang tiada ia sangka-sangka, dan barangsiapa bertawakal kepada Alloh, maka Dia itu cukup baginya.” (Ath Tholaq: 2-3)Makna Bertawakal Kepada Alloh

Banyak di antara para ulama yang telah menjelaskan makna tawakal, diantaranya adalah Al Allamah Al Munawi. Beliau mengatakan, “Tawakal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakali.” (Faidhul Qadir, 5/311). Ibnu ‘Abbas radhiyallohu’anhuma mengatakan bahwa tawakal bermakna percaya sepenuhnya kepada Alloh Ta’ala. Imam Ahmad mengatakan, ”Tawakal berarti memutuskan pencarian disertai keputus-asaan terhadap makhluk.” Al Hasan Al Bashri pernah ditanya tentang tawakal, maka beliau menjawab, ”Ridho kepada Alloh Ta’ala”, Ibnu Rojab Al Hanbali mengatakan, ”Tawakal adalah bersandarnya hati dengan sebenarnya kepada Alloh Ta’ala dalam memperoleh kemashlahatan dan menolak bahaya, baik urusan dunia maupun akhirat secara keseluruhan.” Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, ”Tawakal yaitu memalingkan pandangan dari berbagai sebab setelah sebab disiapkan.”

Mendapatkan Kebaikan dan Menghindari Kerusakan

Ibnul Qayyim berkata, ”Tawakal adalah faktor paling utama yang bisa mempertahankan seseorang ketika tidak memiliki kekuatan dari serangan makhluk lainnya yang menindas serta memusuhinya. Tawakal adalah sarana yang paling ampuh untuk menghadapi keadaan seperti itu, karena ia telah menjadikan Alloh sebagai pelindungnya atau yang memberinya kecukupan. Maka barang siapa yang menjadikan Alloh sebagai pelindungnya serta yang memberinya kecukupan, maka musuhnya itu tak akan bisa mendatangkan bahaya padanya.” (Bada’i Al-Fawa’id 2/268)

Bukti yang paling baik adalah kejadian nyata, Imam Al Bukhori telah mencatat dalam kitab shohih beliau, dari sahabat Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma, bahwa ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke tengah-tengah api yang membara beliau mengatakan, “Hasbunallohu wa ni’mal wakiil.” (Cukuplah Alloh menjadi penolong kami dan Alloh adalah sebaik-baik pelindung). Perkataan ini pulalah yang diungkapkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika dikatakan kepada beliau, Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berencana untuk memerangimu, maka waspadalah engkau terhadap mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam bab Tafsir. Lihat Fathul Bari VIII/77)

Ibnu Abbas berkata, “Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika ia dilemparkan ke tengah bara api adalah: ‘Cukuplah Alloh menjadi penolong kami dan Alloh sebaik-baik pelindung’.” (HR. Bukhori)

Bertawakal Kepada Alloh Adalah Kunci Rizki

Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim)

Dalam hadits yang mulia ini Rosululloh menjelaskan bahwa orang yang bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, pastilah dia akan diberi rizki. Bagaimana tidak, karena dia telah bertawakal kepada Dzat Yang Maha Hidup yang tidak pernah mati. Abu Hatim Ar Razy berkata, ”Hadist ini merupakan tonggak tawakal. Tawakal kepada Alloh itulah faktor terbesar dalam mencari riqzi.” Karena itu, barangsiapa bertawakal kepadaNya, niscaya Alloh Subhanahu Wa Ta’ala akan mencukupinya. Alloh berfirman yang artinya, “Dan barangsiapa bertawakal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan (yang dikehendakiNya). Sesungguhnya Alloh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq: 3). Ar Rabi’ bin Khutsaim berkata mengenai ayat tersebut, “Yaitu mencukupinya dari segala sesuatu yang membuat sempit manusia.”

Tawakal Bukan Berarti Tidak Berusaha

Mewujudkan tawakal bukan berarti meniadakan usaha. Alloh memerintahkan hamba-hambaNya untuk berusaha sekaligus bertawakal. Berusaha dengan seluruh anggota badan dan bertawakal dengan hati merupakan perwujudan iman kepada Alloh Ta’ala.
Sebagian orang mungkin ada yang berkata, “Jika orang yang bertawakal kepada Alloh itu akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalas-malasan, lalu rizki kita datang dari langit?” Perkataan itu sungguh menunjukkan kebodohan orang itu tentang hakikat tawakal. Nabi kita yang mulia telah menyerupakan orang yang bertawakal dan diberi rizki itu dengan burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rizki dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian, pabrik atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakal kepada Alloh Yang Maha Esa sebagai tempat bergantung.

Para ulama -semoga Alloh membalas mereka dengan sebaik-baik kebaikan- telah memperingatkan masalah ini. Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau berkata: “Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan meninggalkan usaha, sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka bertawakal kepada Alloh dalam bepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan mereka mengetahui bahwa kebaikan (rizki) itu di TanganNya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut”. (Tuhfatul Ahwadzi, 7/8)

Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata, “Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rizkiku datang sendiri”. Maka beliau berkomentar, “Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya Alloh telah menjadikan rizkiku dalam bayang-bayang tombak perangku (baca: ghonimah)’. Dan beliau juga bersabda, ‘Sekiranya kalian bertawakal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya, niscaya Alloh memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.’ (Hasan Shohih. HR.Tirmidzi). Selanjutnya Imam Ahmad berkata, “Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan mengelola pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita.” (Fathul Bari, 11/305-306)

Kalau kita mau merenungi maka dapat kita katakan bahwa pengaruh tawakal itu tampak dalam gerak dan usaha seseorang ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya. Imam Abul Qasim Al-Qusyairi mengatakan, “Ketahuilah sesungguhnya tawakal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak lahiriah maka hal itu tidak bertentangan dengan tawakal yang ada di dalam hati setelah seseorang meyakini bahwa rizki itu datangnya dari Alloh. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena takdir-Nya. Dan jika terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dariNya.” (Murqatul Mafatih, 5/157)

Diantara yang menunjukkan bahwa tawakal kepada Alloh tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah sebuah hadits. Seseorang berkata kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakal ?” Nabi bersabda, “Ikatlah kemudian bertawakallah kepada Alloh.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan Al Albani dalam Shohih Jami’ush Shoghir). Dalam riwayat Imam Al-Qudha’i disebutkan bahwa Amr bin Umayah Radhiyallohu ‘anhu berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rosululloh!! Apakah aku ikat dahulu unta tungganganku lalu aku bertawakal kepada Alloh, ataukah aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakal?’, Beliau menjawab, ‘Ikatlah untamu lalu bertawakallah kepada Alloh.” (Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakal, no. 633, 1/368)

Tawakal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Hendaknya setiap muslim bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Alloh, dan bahwa rizki itu hanyalah dari Dia semata.

Sumber:
mediamuslim.wordpress.com/2007/01/05/tawakal/

January 12, 2011

Bercermin pada Khalid Bin Walid



Oleh: Muhammad Nuh

Melakoni jalan hidup tak ubahnya seperti menelusuri jalan setapak di pegunungan. Kadang menurun, suatu saat menanjak melampaui pucuk pohon tertinggi. Saat itulah, semua terlihat kecil. Bahkan, puncak gunung pun ada di telapak kaki. Berhati-hatilah, karena di balik gunung ada jurang.

Kurir Khalifah Umar Al-Khaththab agak heran dengan reaksi Khalid bin Walid. Selepas membaca surat khusus Khalifah, panglima perang Islam yang kesohor itu bicara pelan kepada sang kurir. “Jangan sampaikan pada siapa pun isi surat ini.” Dan kurir itu pun setuju.

Itulah pesan Khalid bin Walid sesaat setelah membaca surat penghentian jabatan panglima perang dirinya. Sama sekali, hal itu bukan lantaran ia menolak titah khalifah yang baru dilantik. Bukan pula karena khawatir kalau popularitasnya akan merosot. Ia cuma ingin menjaga agar semangat pasukan tetap prima. Dan kemenangan Perang Yarmuk yang sedang bergolak pun bisa diraih.

Popularitas Khalid dalam kemiliteran Islam saat itu, memang nyaris tak tertandingi. Ia memang sempurna di bidangnya: ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan kharismatik di tengah prajuritnya. Benar-benar idola yang pas buat mujahid Islam saat itu.

Keputusan Umar mengganti Khalid justru di saat puncak ketenaran bukan sebagai jegalan. Justru, Umar ingin menyelamatkan Khalid dari fanatisme yang berlebihan. Beliau pun khawatir kalau pasukan Islam mengalami pergeseran motivasi.

Menariknya, semua itu diterima Khalid dengan lapang dada. Dalam hitungan detik, ia bisa memahami maksud surat Umar itu. Ia tuntaskan perang dengan begitu sempurna. Setelah sukses, kepemimpinan pun ia serahkan ke penggantinya: Abu Ubaidah.

Itulah penggalan kisah seorang Khalid bin Walid. Pelajaran berharga buat mereka yang mengalami fitnah popularitas. Sekecil apa pun ketenaran, kalau tidak dibangun dengan pondasi yang kokoh, akan menjadi bencana besar. Setidaknya, buat kebaikan diri sang tokoh.

Kalau merujuk pada sosok Khalid bin Walid, ada beberapa bekal yang bisa diambil pelajaran. Pertama, ketokohan Khalid asli datang dari dalam. Bukan sekadar rekayasa media, bukan juga klaim sepihak. Itulah kelebihan khusus Khalid. Rasulullah saw. dan Khalifah Abu Bakar mengembangkan kelebihan itu pada saluran yang pas.

Kelebihan yang alami itulah yang menjadikan ketokohan Khalid tak terbantahkan. Bahkan, oleh musuh sekali pun. Seorang panglima Romawi, Georgius, pernah mengatakan, “Saya ingin sekali jawaban jujur dari Anda, Wahai Panglima. Apakah Tuhan menurunkan pedang dari langit kepada Nabi Anda dan pedang itu diserahkan khusus buat Anda?” Tentu saja, pertanyaan itu membuat Khalid bin Walid tersenyum.

Kedua, Khalid tidak terobsesi dengan ketokohannya. Ia tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan. Itu dianggapnya sebagai bagian dari buah perjuangan. Hal itulah yang pernah diungkapkan Khalid mengomentari pergantiannya, “Saya berjuang untuk kejayaan Islam. Bukan karena Umar!” Jadi, di mana pun posisinya, selama masih bisa ikut berperang, stamina Khalid tetap prima. Itulah nilah ikhlas yang ingin dipegang seorang sahabat Rasul seperti Khalid bin Walid.

Rasulullah saw. mengatakan, “Siapa memurkakan Allah untuk meraih keridhaan manusia maka Allah murka kepadanya dan menjadikan orang yang semula meridhainya menjadi murka kepadanya. Namun, siapa meridhai Allah meskipun dalam kemurkaan manusia maka Allah akan meridhainya dan meridhakan kepadanya orang yang pernah memurkainya. Allah memperindahnya, memperindah ucapan dan perbuatannya.” (HR. Aththabrani)

Ketika popularitas ada di tangan, sebenarnya seseorang sedang berada di puncak godaan. Persis seperti kuli bangunan yang berada di gedung tinggi. Kian tinggi posisinya, semakin besar tiupan angin. Dan kalau jatuh pun akan jauh lebih sakit.

Di antara godaan itu mengatakan, “Anda ini orang besar. Anda tahu apa yang Anda lakukan. Anda tak mungkin salah.” Pada saat yang bersamaan, kalau itu masuk dalam hati dan merembes menjadi sikap diri; orang menjadi ‘ujub. Ia merasa kalau dirinya memang besar. Tak ada yang layak mengatur dirinya. Termasuk, mungkin, oleh Allah swt. sendiri.

Itulah yang pernah diucapkan Iblis. “Saya lebih baik dari Adam. Aku dari api, dan dia dari tanah! Bagaimana mungkin mesti sujud padanya!” Itulah puncak kesalahan dari orang besar. Orang yang terjebak dalam kepopulerannya. Na’udzubillah!

Khalid bin Walid pun akhirnya dipanggil Allah swt. Umar bin Khaththab menangis. Bukan karena menyesal telah mengganti Khalid. Tapi, ia sedih karena tidak sempat mengembalikan jabatan Khalid sebelum akhirnya ‘Si Pedang Allah’ menempati posisi khusus di sisi Allah swt.

Sumber: Dakwatuna.com

January 09, 2011

HACKING, CRACKING, CARDING, PHISING, SPAMMING, DEFACING, dsb...



Oleh: Nurseal si Pelaut

Indonesia bukan hanya terkenal sebagai negara terkorup di dunia, melainkan juga Negara dengan “carder” tertinggi di muka bumi, setelah Ukrania. “carder” adalah penjahat di internet, yang membeli barang di toko maya (online shoping) dengan memakai kartu kredit milik orang lain. Meski pengguna internet Indonesia masih sedikit dibanding negara Asia Tenggara lainnya, apalagi dibanding Asia atau negara-negara maju, nama warga Indonesia di internet sudah “ngetop” dan tercemar! Indonesia masuk “blacklist” di sejumlah online shoping ternama, khususnya di amazon.com dan ebay.com Kartu kredit asal Indonesia diawasi bahkan diblokir. Sesungguhnya, sebagai media komunikasi yang baru, internet memberikan sejuta manfaat dan kemudahan kepada pemakainya. Namun internet juga mengundang ekses negatif, dalam berbagai tindak kejahatan yang menggloblal. Misalnya, tindak penyebaran produk pornorgrafi, pedofilia, perjudian, sampah (spam), bermacam virus, sabotase, dan aneka penipuan, seperti carding, phising, spamming, dll. Yang gawat, nama negara terseret karenanya.


Berikut sejumlah jenis kejahatan via internet :


CARDING


Carding adalah berbelanja menggunakan nomor dan identitas kartu kredit orang lain, yang diperoleh secara ilegal, biasanya dengan mencuri data di internet. Sebutan pelakunya adalah “carder”. Sebutan lain untuk kejahatan jenis ini adalah cyberfroud alias penipuan di dunia maya. Menurut riset Clear Commerce Inc, perusahaan teknologi informasi yang berbasis di Texas – AS , Indonesia memiliki “carder” terbanyak kedua di dunia setelah Ukrania. Sebanyak 20 persen transaksi melalui internet dari Indonesia adalah hasil carding. Akibatnya, banyak situs belanja online yang memblokir IP atau internet protocol (alamat komputer internet) asal Indonesia. Kalau kita belanja online, formulir pembelian online shop tidak mencantumkan nama negara Indonesia. Artinya konsumen Indonesia tidak diperbolehkan belanja di situs itu.Menurut pengamatan ICT Watch, lembaga yang mengamati dunia internet di Indonesia, para carder kini beroperasi semakin jauh, dengan melakukan penipuan melalui ruang-ruang chatting di mIRC. Caranya para carder menawarkan barang-barang seolah-olah hasil carding-nya dengan harga murah di channel. Misalnya, laptop dijual seharga Rp 1.000.000. Setelah ada yang berminat, carder meminta pembeli mengirim uang ke rekeningnya. Uang didapat, tapi barang tak pernah dikirimkan.


HACKING


Hacking adalah kegiatan menerobos program komputer milik orang/pihak lain. Hacker adalah orang yang gemar ngoprek komputer, memiliki keahlian membuat dan membaca program tertentu, dan terobsesi mengamati keamanan (security)-nya. “Hacker” memiliki wajah ganda; ada yang budiman ada yang pencoleng. “Hacker” budiman memberi tahu kepada programer yang komputernya diterobos, akan adanya kelemahan-kelemahan pada program yang dibuat, sehingga bisa “bocor”, agar segera diperbaiki. Sedangkan, hacker pencoleng, menerobos program orang lain untuk merusak dan mencuri datanya.


CRACKING


Cracking adalah hacking untuk tujuan jahat. Sebutan untuk “cracker” adalah “hacker” bertopi hitam (black hat hacker). Berbeda dengan “carder” yang hanya mengintip kartu kredit, “cracker” mengintip simpanan para nasabah di berbagai bank atau pusat data sensitif lainnya untuk keuntungan diri sendiri. Meski sama-sama menerobos keamanan komputer orang lain, “hacker” lebih fokus pada prosesnya. Sedangkan “cracker” lebih fokus untuk menikmati hasilnya. Kasus kemarin, FBI bekerja sama dengan polisi Belanda dan polisi Australia menangkap seorang cracker remaja yang telah menerobos 50 ribu komputer dan mengintip 1,3 juta rekening berbagai bank di dunia. Dengan aksinya, “cracker” bernama Owen Thor Walker itu telah meraup uang sebanyak Rp1,8 triliun. “Cracker” 18 tahun yang masih duduk di bangku SMA itu tertangkap setelah aktivitas kriminalnya di dunia maya diselidiki sejak 2006.


DEFACING


Defacing adalah kegiatan mengubah halaman situs/website pihak lain, seperti yang terjadi pada situs Menkominfo dan Partai Golkar, BI baru-baru ini dan situs KPU saat pemilu 2004 lalu. Tindakan deface ada yang semata-mata iseng, unjuk kebolehan, pamer kemampuan membuat program, tapi ada juga yang jahat, untuk mencuri data dan dijual kepada pihak lain.


PHISING


Phising adalah kegiatan memancing pemakai komputer di internet (user) agar mau memberikan informasi data diri pemakai (username) dan kata sandinya (password) pada suatu website yang sudah di-deface. Phising biasanya diarahkan kepada pengguna online banking. Isian data pemakai dan password yang vital yang telah dikirim akhirnya akan menjadi milik penjahat tersebut dan digunakan untuk belanja dengan kartu kredit atau uang rekening milik korbannya.


SPAMMING


Spamming adalah pengiriman berita atau iklan lewat surat elektronik (e-mail) yang tak dikehendaki. Spam sering disebut juga sebagai bulk email atau junk e-mail alias “sampah”. Meski demikian, banyak yang terkena dan menjadi korbannya. Yang paling banyak adalah pengiriman e-mail dapat hadiah, lotere, atau orang yang mengaku punya rekening di bank di Afrika atau Timur Tengah, minta bantuan “netters” untuk mencairkan, dengan janji bagi hasil. Kemudian korban diminta nomor rekeningnya, dan mengirim uang/dana sebagai pemancing, tentunya dalam mata uang dolar AS, dan belakangan tak ada kabarnya lagi. Seorang rector universitas swasta di Indonesia pernah diberitakan tertipu hingga Rp1 miliar dalam karena spaming seperti ini.


MALWARE


Malware adalah program komputer yang mencari kelemahan dari suatu software. Umumnya malware diciptakan untuk membobol atau merusak suatu software atau operating system. Malware terdiri dari berbagai macam, yaitu: virus, worm, trojan horse, adware, browser hijacker, dll. Di pasaran alat-alat komputer dan toko perangkat lunak (software) memang telah tersedia antispam dan anti virus, dan anti malware. Meski demikian, bagi yang tak waspadai selalu ada yang kena. Karena pembuat virus dan malware umumnya terus kreatif dan produktif dalam membuat program untuk mengerjai korban-korbannya.




HACKING FACEBOOK, BAGAIMANA MENGHINDARINYA?


Kebanyakan kasus hacking dikarenakan ketidaktahuan player terhadap aktifitas share acoount, downloading files yg tidak jelas, hacking tools, dan mengunjungi website yg mengandung software yg tidak jelas / mencurigakan.


"tambahan dari poin² dibawah : usahakan pass email anda berbeda dengan pass akun² ataupun jejaring sosial yang anda telah buat itu berbeda"


Contoh-contoh hacking facebook :


1. Phising (Hati-hati kalau anda lagi main facebook, di suruh login lagi, itu hanya login tipuan yg bisa mencuri email dan password mu)2. Facebook freezer (Membeku kan email, ingat jangan pernah kamu mengobral email facebook mu)


Point² ini yg berkaitan dengan keamanan account meliputi :


1. Sharing ID & password account dengan orang lain.2. Password yang terlalu simple.3. Jarang melakukan penggantian password secara berkala.4. Menulis ID & Password di buku / sobekan kertas yg tidak disimpan dengan aman.




Dibawah ini beberapa langkah untuk mengantisipasi hacking account :


1. Jangan membuka/membaca email dr orang yg tidak dikenal.2. Jangan men-download software/files dr website yg tidak kamu kenal.3. Jangan mengunjungi website yg mencurigakan & tidak kamu kamu kenal.4. Jangan share ID, password dan account detail.5. Jangan memberitahukan ID & password apabila ada orang lain yg meminta, kebanyakan GM/staff suatu MMORPG tidak pernah menanyakan password kepada player.6. Jangan menulis ID & password melalui public chat (termasuk whisper, chat party ataupun guild chat. Jika terpaksa gunakan sms atau telepon untuk memberitahukan ID/password anda)7. Jangan melakukan transaksi dengan seseorang di game yg belom anda kenal / temui.8. Usahakan password mengandung alphabet & numeric sehingga tidak mudah ditebak oleh orang lain.9. Jangan lupa untuk mengganti password secara berkala terutama bila anda pernah login di warnet/gamecenter lain (bukan tempat yg biasa anda gunakan untuk bermain game).10. Pastikan kamu benar benar logout dr game apabila ingin AFK ( away from keyboard )11. Ketika kamu sudah selesai bermain, pastikan sudah benar" logout dan restart komputer anda.


Hati hati apabila anda menemukan beberapa situs di internet yg menawarkan software untuk anda dalam bermain game , karena mungkin di dalam software tersebut mengandung software lain yg merugikan (contoh : keylogger yg akan mencuri beberapa data penting di komputer anda termasuk ID & password) ataupun virus ( contoh : trojan ).


Trojan :adalah semacam virus yg akan mencuri informasi dr suatu komputer dan mengirimkannya ke email yg telah di set oleh si pengirim virus. Contoh : bila Trojan telah masuk di dalam directory game yg anda maenkan, maka ketika anda menyalakan game client dan login, maka ID & password akan segera dikirim ke si pembuat virus (trojan) tersebut.


Keylogger :adalah semacam program yg akan me-record apa yg kamu ketik melalui keyboard / mouse. Beberapa keylogger yg lebih kuat bahkan mampu me-record URL dr website yg anda kunjungi.Dari pengalaman di atas, maka beberapa game online developer menyediakan fasilitas on screen keyboard untuk menulis ID & password guna mengantisipasi hal tersebut.


Virus, Trojan applications dan key-logging software semuanya dapat mencuri data data game anda dan biasanya ter-install di komputer melalui executable program. Executable artinya bila akhiran dr file tersebut adalah .EXE , atau dengan cara click kanan file tsb dan pilih properties. Jika File Type berjenis Application, maka bisa dikatakan file tersebut executable.


Dalam banyak kasus biasanya hacker menaruh (baca = menyembunyikan) viruses, keyloggers, etc dalam executable files yg berhubungan dengan game. Trik yg biasa digunakan adalah menaruhnya kedalam suatu program seperti berikut :


1. Gold duplicating / gold making software2. Create / Item duplicating software3. Auto hunting software / BOT system.4. Teleportation / movement-cheating programs.5. Unrealistic program yg memungkinkan player untuk invisiblilty, 1 hit kills, etc.




Dibawah ini adalah point point yg berhubungan dengan Komputer Security :


1. Computer UpdatesJika kamu menggunakan Windows, pastikan kamu sudah mempunyai update terbarunya. Kamu dapat mendapatkannya dengan mudah diMicrosoft Windows Update.


2. Firewall SoftwareFirewall bertujuan untuk mengatur agar komputer kita tidak secara langsung berhubungan dengan komputer luar yg mungkin berbahaya.Windows XP SP2 Firewall Zone Alarm (http://www.zonealarm.com/)SyGate (http://www.sygate.com/)BlackICE Defender (http://www.networkice.com/)


3. Antivirus SoftwareSuatu program yg bertugas untuk melakukan scanning terhadap memory computer untuk mengenali adanya suatu virus dan memusnahkannya.


* Kaspersky (http://www.download.com/Kaspersky-Anti-Virus/3000-2239_4-10589989.html?tag=lst-0-2) * AVG Free (http://free.grisoft.com/freeweb.php)* Tauscan (http://www.tauscan.com/)* Moosoft (http://moosoft.com/)* Symantec security check (http://www.symantec.com/securitycheck)


4. Anti-Spyware Software:Suatu software yg bertugas untuk melakukan scanning terhadap computer's storage space dan mengidentifikasi serta melenyapkan program yg di design untuk memonitor penggunakan komputer kita tanpa sepengetahuan kita.


* Ad-Aware SE (http://www.lavasoftusa.com/)* Ewido Anti-Spyware (http://www.ewido.net/en/download/)* Spybot-Search & Destroy



(Tulisan ini diambil dari beberapa sumber, semoga bermanfaat)

First Thing First in Writing



Oleh: Donny Anggoro

Sesungguhnya tatkala almarhum Paus Sastra H.B Jassin pernah berkata bahwa salah satu resep atawa formula menulis yang baik itu tak lain hanyalah menulis apa yang kita ketahui, tak banyak juga di zaman kini yang melakukannya. Biasanya hal ini terjadi pada penulis-penulis pemula atau yang sedang merintis sehingga banyak karya-karya yang sebetulnya bisa dibuat lebih bagus malah hancur oleh “ulah” sendiri.

Sebagai penulis juga pernah sebagai editor sastra dan bahasa saya sering menjumpai masalah ini di berbagai kesempatan. Jika hal ini terjadi pada penulis pemula, saya masih bisa mengerti. Tetapi saya sulit memaklumi lagi kalau hal ini terjadi pada banyak penulis, bahkan yang punya gelar mentereng di universitas terkemuka. Sialnya, (dan sepertinya hidup di Indonesia sepertinya selalu sial) hal ini juga terjadi bukan pada penulis saja melainkan merambah juga kepada para pembicara di even diskusi maupun di televisi serta radio. Banyak istilah-istilah asing sering diucapkan oleh para pengamat politik, ekonomi, pejabat, dan wakil rakyat di berbagai media yang alih-alih malah membingungkan. Hal ini kedengarannya malah meragukan apakah ia sungguh-sungguh mengerti masalah yang sedang dibicarakannya atau hanya sekedar pamer istilah asing yang membuat pemirsa menjadi sebal.

Nasihat orang-orang tua zaman dahulu mungkin terdengar kuno tapi nasihat H.B Jassin bagi saya rasa-rasanya masih relevan jika diterapkan di zaman sekarang bukan hanya oleh kaum penulis saja tapi juga kepada orang-orang yang sudah diakui kapasitasnya sebagai ahli atau pengamat yang sering dipanggil menanggapi pelbagai masalah aktual yang terjadi di negeri ini. Akan tetapi tulisan pendek ini supaya tidak melebar tentunya akan saya fokuskan kepada masalah yang terjadi pada dunia penulisan saja.

Mengenai istilah-istilah asing yang njelimet dan sok keren yang diucapkan para pengamat dan pejabat (juga para wartawan terutama di media televisi) baiknya saya singgung sebagai muasal mengapa bisa terjadi karena disebabkan dari awal ketika mungkin ide-ide itu hendak disampaikan disebabkan dari penggagasnya sendiri yang ketika sedang menulis tidak jujur sehingga jadinya ia tidak menulis apa yang (sungguh-sungguh) ia ketahui.

Pernah saya ketika ditugaskan menyunting sebuah penerbitan berkala dari sebuah lembaga bergengsi menemukan banyak istilah asing yang membingungkan juga terlalu banyak catatan kaki yang bukannya memberikan informasi sumber bacaan, melainkan terlihat sekali bahwa penulisnya seperti sedang “pamer bacaan” buku-buku asing yang dikutipnya untuk sebuah tulisan.

Terlalu banyaknya kutipan sering saya temui pada bacaan-bacaan filsafat dan agama juga budaya (tapi kepada tulisan esai filsafat yang lebih sering terjadi) sehingga membuat kita menjadi dengan mudah mengatakan bahwa ia kurang percaya diri sehingga tidak berani mengungkapkan pemikirannya sendiri.

Saya heran dan mengelus dada kenapa hal ini bisa terjadi pada orang-orang yang seharusnya berpredikat “hebat”: lulusan atau sedang menimba ilmu di sebuah perguruan tinggi ternama. Bahkan S2 segala. Tapi belakangan toh saya jadi mafhum ketika pernah mengikuti kuliah Mudji Sutrisno, ia sendiri berujar perlunya diajari pelajaran menulis (lagi) kepada mahasiswa-mahasiswa yang sedang mengikuti program S2 di kampusnya STF Driyarkara. “Kebanyakan dari mereka tidak bisa menulis dengan baik,” begitu alasan yang diucapkan romo berambut gondrong itu.

Kalau budayawan Mudji Sutrisno saja gusar sehingga menerapkan perlunya pelajaran menulis bagi para mahasiswanya yang seharusnya ditinjau dari strata program pendidikannya seharusnya lebih dari S1, bagaimana dengan para pembaca kita yang telanjur “eneg” membaca tulisan yang jadinya tak hanya menggurui bahkan terkesan “sok”? Tentunya kita juga gusar dan bagi orang awam mungkin rasanya jadi terlihat “agung” memamerkan bacaan tinggi yang hanya dijumpai rak-rak perpustakaan lembaga atau kampus tertentu yang aksesnya tak bisa disentuh orang kebanyakan.

“Menulis apa yang kamu ketahui” rasa-rasanya mungkin menjadi janggal bagi penulis dari “kategori” yang saya keluhkan itu. Mungkin jadinya terasa kurang afdol. Tapi juga mencemaskan karena yang diketahui barangkali mungkin hanya sedikit dengan hanya mengutip pemikiran si anu yang hasilnya malah keminter. Padahal hal ini bisa kita hindari dengan “hanya” banyak membaca saja tulisan-tulisan budaya atau filsafat yang sesekali muncul di media massa. Dalam hal ini kita patut berterimakasih kepada para redaktur dan kebijakan redaksi surat kabar (on-line juga termasuk) yang memuat tulisan begitu di medianya sehingga kita bisa dengan sederhana mempelajarinya.

Kaidah-kaidah yang menganut gaya kepenulisan populer mungkin yang harus diikuti para penulis itu dengan banyak membaca tulisan senada yang dimuat di media massa. Sehingga apa yang mrucut lalu ditulis bukan kutipan-kutipan, alih-alih bikin istilah asing yang menyebalkan. Karena tak mungkin memuat catatan kaki seabreg-abreg sehingga membuat para penulisnya dengan sadar harus menyingkat sesuatu sampai demikian padat hingga muncul pikiran “asli” sang penulis.

Barangkali kutipan satu atau dua tak menjadi masalah tapi saya pernah menemui baru pada alinea pertama sudah ada catatan kaki. Anehnya lagi, ketika saya ditugaskan menyunting tulisan tersebut untuk embrio sebuah jurnal yang sedang dipersiapkan terbit catatan kaki itu malah disetujui oleh pemilik modal dengan alasan “Ini kan jurnal?”

O, jadi mentang-mentang jurnal yang aturannya “lebih longgar” (atau sebenarnya lebih ketat karena memfokuskan diri pada satu masalah dengan lebih mendalam) daripada artikel di media massa seperti koran bisa seenaknya “pamer bacaan”? Eh, kawan si pemilik modal ganti berkilah, ”penulisnya S2, lulusan luar negeri!”. Padahal budayawan Mudji Sutrisno saja di kampus sudah gusar dengan tulisan mahasiswa S2 yang menurutnya masih perlu banyak belajar menulis lagi.

Alamak.

Saran saya untuk mengembalikan lagi tulisan itu untuk ditulis ulang dan direvisi ditolak mentah-mentah dengan alasan deadline yang sudah dekat. Padahal jika mau ditelisik lebih lanjut ada sebuah jurnal ilmiah yang cukup baik (dan alhamdulilah masih terbit sampai 16 tahun!) tulisan-tulisannya tak banyak mencantumkan catatan kaki!

Selain catatan kaki istilah asing bertaburan di mana-mana yang diperoleh dari “hanya” meng-Inggris-kan tulisan bahasa Indonesia. Pernah dengar istilah “cultural focus”? Juga ada kata ”followers” yang kelihatan sekali dicomot dengan meng-Inggris-kan bahasa Indonesia dari “pengikut”?

Kalau tak ingat saya hanya pekerja di situ mungkin sudah saya buang saja tulisan itu ke keranjang sampah apalagi setelah diselidiki konon sang penulis yang kini juga pendeta itu memang semenjak maih menulis skripsi gemar mencantumkan catatan kaki begitu banyak sehingga menurut penuturan salah seorang kawannya di kampus tulisan atau skripsinya yang tebal itu kurang mencerminkan ide-ide penulisannya sendiri. Lantas bagaimana dia bisa lulus, tanya saya. Itu karena dia pintar ngomong, kata kawan itu. Ah. Lagi-lagi urusan “lobby-lobby” yang cenderung menempatkan riset sebagai paria!

“Menulis apa yang kamu ketahui” mungkin terdengar sepele tapi ini penting. Resep ini menurut saya tentunya mujarab bagi penulis jenis tulisan apapun, bukan hanya sastrawan saja. Sastrawan Hudan Hidayat secara tidak langsung dalam sebuah even diskusi juga pernah menekankan hal ini kepada pendengarnya. Hudan memang tidak menyerukan “menulis apa yang kamu ketahui” (walau kurang lebih semangatnya sama dengan H.B Jassin). Hudan menekankan perlunya keluar gagasan asli dari penulis tanpa harus bawa banyak-banyak catatan kaki dan aneka macam kutipan. Artikel ilmiah, features, atau artikel populer tentunya akan lebih bermanfaat dengan gaya yang mengalir bahkan kalau perlu seperti orang bercerita saja. Bahkan saking indahnya sebuah tulisan artikel sampai-sampai untuk mengejar “craft” atau keahlian pembuatnya mengadopsi gaya menulis sastra sehingga dikenal istilah “jurnalisme sastrawi”. Bukankah sebenarnya dengan “meniru” orang bercerita pada praktiknya saja kita tak perlu berindah-indah dengan istilah mentereng karena yang terpenting pesannya sampai dan pembaca mengerti?

Saya pikir gelar mentereng dan lulusan luar negeri seperti alasan kawan saya itu bukan hal yang bijaksana meloloskan tulisan dengan begitu banyak centang perenang yang keminter dan istilah asing yang dibuat-buat seolah-olah ia lebih pintar dari pembaca. Gelar mentereng sebagai alasan sama halnya kita lebih menghargai orang karena “pakaiannya lebih bagus dari orang lain”. Pendek kata, lebih menghargai kulit ketimbang isi. Atau lebih menghargai dari penampilan yang mentereng, hebat dan berwibawa. Lebih menghargai orang naik BMW daripada orang yang naik bus atau bajaj.

Alamak.

Bukankah di sini apapun bisa terjadi? Gelar mentereng dan “seolah-olah” lulusan luar negeri bisa dibeli. Ingat kasus pejabat dengan ijazah “aspal” bertahun-tahun silam? Ingat kasus lembaga-lembaga pendidikan Indonesia yang akhirnya ditutup karena seolah-olah berafiliasi dari universitas luar negeri dengan menjual ijazah yang harganya konon sampai 10 juta rupiah?

Kembali ke laptop….eh….salah. kembali ke jurnal.

Alih-alih menggurui jurnal tersebut konon kabarnya batal terbit. Meski saya seharusnya dapat sesuatu berupa honor dari menyunting tulisan macam begitu saya lalu bersyukur akhirnya tidak jadi terbit karena ada sesuatu yang terjadi sehingga kepandiran tak lagi merajalela!

January 05, 2011

Get up, Stand up!!!



Semakin Anda memahami lebih banyak tentang dunia di sekitar Anda, semakin bergairah dan penasaran terhadap kenyataan hidup dalam hidup Anda.
-------------------------------------------------------------------------
Gairah adalah salah satu elemen pokok yang meringankan upaya dan mengubah kegiatan-kegiatan yang biasa-biasa saja menjadi suatu pekerjaan yang dapat dinikmati.

Semakin besar “Mengapa” Anda akan semakin besar energi yang mendorong Anda untuk meraih sukses.

Mimpi tidak hanya membantu Anda berhadapan dengan kegagalan, tetapi mereka juga memotivasi Anda secara konstan.

Mimpi masa kini adalah kenyataan hari esok.

Anda bisa, jika Anda berpikir bisa, selama akal mengatakan bisa. Batasan apakah sesuatu masuk akal atau tidak, kita lihat saja orang lain, jika orang lain telah melakukannya atau telah mencapai impiannya, maka impian tersebut adalah masuk akal.

Menuliskan tujuan akan sangat membantu dalam menjaga alasan melakukan sesuatu.

Apakah kita bisa untuk mengemban misi kita? Insya Allah kita bisa, karena Allah Mahatahu, Allah tahu sampai dimana potensi dan kemampuan kita. Jika kita tidak merasa mampu berarti kita belum benar-benar mengoptimalkan potensi kita.

Jika target obsesi itu baik, maka memiliki obsesi bukan hanya baik, tetapi harus. Karena motivasi dari sebuah obsesi sangat kuat.

Untuk menjadi sukses, Anda harus memutuskan dengan tepat apa yang Anda inginkan, tuliskan dan kemudian buatlah sebuah rencana untuk mencapainya.

Bisakah kita meraih sukses yang lebih besar lagi?

Merumuskan Visi dan Misi adalah salah satu bentuk dalam mengambil keputusan, bahkan pengambilan keputusan yang cukup fundamental. Visi dan Misi Anda akan menjiwai segala
gerak dan tindakan di masa datang.

Jangan takut dengan gagalnya meraih visi, kegagalan meraih visi sebenarnya bukan suatu kegagalan, tetapi merupakan keberhasilan yang Anda tempuh meski tidak sepenuhnya.

Visi itulah yang akan menuntun perjalanan hidup Anda.

Menciptakan kebiasaan baru adalah salah satu dari kunci sukses. Jika anda ingin sukses Anda harus mulai menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang akan membawa Anda kepada kesuksesan.

Jika Anda ingin menang— dalam bisnis, karir, pendidikan, olah raga, dsb— maka Anda harus memiliki kebiasaan-kebiasaan seorang pemenang pula.

Jika Anda ingin suatu kehidupan yang berbeda, buatlah keputusan yang berbeda juga.

Tengoklah kembali perjalanan Anda saat ini, akan menuju kemana? Apakah ke arah yang lebih baik, atau ke arah yang lebih buruk, atau tetap saja seperti saat ini? Tetapkanlah sebuah putusan dan jalanilah menuju konsekuensinya.

Potensial pilihan Anda begitu melimpah, keputusan Anda dapat saja merubah hidup Anda secara dramatis dalam waktu singkat.

Hanya satu motivasi yang ada, yaitu Allah. Adapun motivasi lainnya harus dalam rangka “karena dan/atau untuk” Allah.

Sumber:
Kata-kata mutiara Motivasi Islami.com

January 03, 2011

Salman Khan, Guru Matematika Luar Biasa yang Menjangkau Murid-muridnya lewat Youtube



Banyak siswa sekolah Amerika yang mengalami masalah dengan pelajaran Matematika. Berbagai penelitian menunjukkan mereka tertinggal dalam bidang studi ini dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di Asia dan di Eropa. Salman Khan, 31, mulai menyadari ini ketika lima tahun lalu, ia membantu mengajari sepupu kecilnya belajar Matematika, mengkonversi kilogram menjadi gram. Berkat bantuannya, sepupunya menjadi pandai dalam pelajaran yang kerap jadi momok itu.


Khan lantas punya gagasan untuk memberi pelajaran Matematika lewat internet. Dan, tahun lalu, ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai analis hede fund, dan memusatkan perhatiannya pada pengajaran Matematika gratis lewat Youtube. Ia memposting 1200 pelajaran Matematika di Youtube yang dapat dilihat dan diikuti secara bebas dan seksama di berbagai belahan dunia. Bentuk pelajaran yang disajikan itu tak ubahnya seperti pelajaran di dalam kelas yang biasa. Khan menjelaskannya lewat suatu papan tulis elektronik dan pemirsa dapat mengikutinya, bahkan dapat memutar-ulang. (Untuk melihat contoh-contohnya klik di sini. Pelajaran-pelajaran yang ia sajikan ini disediakan di bawah bendera Khan Academy yang ia dirikan. (Klik di sini)


Khan tinggal di Lembah Silikon, California bersama istrinya, seorang rheumatologist pada lembaga training di Stanford dan bayi mereka. Inisiatifnya ini, diharapkan dapat merevoulsi sistem pendidikan, terutama lewat jangkauannya yang luas hingga ke lokasi-lokasi terpencil di berbagai belahan dunia.

Sumber:

Kafe Etos 03/01/2011
@Institut Darma Mahardika
http://www.pbs.org/newshour/bb/north_america/jan-june10/khan_02-22.html

Positive Minds




Sering orang mengatakan “Saya bingung” terlalu banyak pilihan. Banyak partai, bingung mau milih yang mana. Banyak peluang bisnis, bingung mau fokus yang mana. Banyak strategi bisnis, bingung mau menerapkan yang mana.

Anda pernah mengalaminya? Atau bahkan sedang mengalaminya?

Jika jawaban ya, artinya ada sesuatu yang perlu dibenahi dalam pemikiran Anda. Informasi yang banyak juga diterima oleh orang-orang sukses, tetapi mereka mampu memilih yang terbaik. Kenapa? Karena mereka memiliki kualitas pemikiran tertentu. Apa kualitas pemikiran tersebut?
Jangan Berhenti Karena Bingung

Anda tidak tahu segalanya. Ilmu itu sangat luas. Maka jika Anda merasa bingung, itu adalah wajar. Semua orang akan bingung saat menemukan sesuatu yang baru, menemukan banyak pilihan, atau menemukan banyak informasi. Namun, yang terpenting adalah jangan sampai bingung menghentikan Anda untuk berusaha. Banyak orang yang bingung kemudian dia menjadi berhenti untuk belajar dan mendapatkan informasi. Ini yang salah!

Saat Anda berhenti belajar dan mendapatkan informasi, ini adalah sebuah kerugian besar. Dunia cepat berubah, jika Anda ketinggalan informasi maka Anda akan tergilas oleh perubahan. Cara atau strategi yang bekerja hari ini, belum tentu akan bekerja besok hari. Jika Anda tidak mengupdate informasi, artinya Anda seperti tempurung dalam katak, eh, katak dalam tempurung. :)
Bingung? Terimalah

Ada yang berkata, semakin banyak kita belajar kita akan sadar bahwa banyak hal yang belum kita ketahui. Jadi, tidak mungkin kita mengetahui segalanya. Terima saja bingung karena itu adalah proses dari belajar. Jika tidak bingung, artinya Anda sudah tahu segalanya atau merasa tahu segalanya. Padahal itu tidak mungkin.

Semua orang mengalami kebingungan. Yang membedakan orang sukses dan tidak adalah bagaimana menyikapi kebingungan tersebut. Terima saja.

Tidak semua harus ada jawabannya. Anda boleh menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang belum ada jawabannya. Carilah jawaban, belajar terus, dan suatu saat Anda akan menemukannya.

Jangan menghindari bingung, menghindari bingung artinya Anda menutup diri untuk belajar dan menerima informasi terbaru.
Bingung Terlalu Banyak Pekerjaan?

Dalam bekerja atau berbisnis, pastinya kita akan mendapatkan tambahan tugas secara terus menerus. Kemudian akan banyak ide-ide baru untuk menjalankan bisnis atau bekerja dari informasi yang terus Anda dapatkan. Lalu, harus bagaimana? Stress?

Tidak perlu stress, sebenarnya ada caranya untuk mengatasi overload tersebut. Saya menjelaskannya pada Modul 7 Revolusi Waktu yang pada intinya ialah kita mencatat dan mereview tugas dan informasi tersebut. Kemudian putuskan mana yang akan kita kerjakan. Silahkan baca modul 7 Revolusi Waktu untuk lebih jelasnya.
Kesimpulan

Bingung adalah sesuatu yang wajar. Yang penting jangan menyerah, tetaplah belajar, dan miliki kemampuan bagaimana mengelola informasi yang banyak sehingga kita tetap mendapatkan update perkembangan jaman dan memetik manfaatnya tanpa harus bingung.



Sumber:
http://www.motivasi-islami.com/

January 02, 2011

Status Facebook dan Tipe Kepribadian Seseorang



Saat ini Facebook telah menjadi gaya hidup dan wadah untuk menunjukkan eksistensi. Namun, berhati-hatilah saat menulis status Facebook, karena hal ini dapat berpengaruh terhadap karir Anda.

Seperti yang dikutip dari detik inet, berikut enam status di Facebook yang bisa membuat Anda kehilangan pekerjaan, berdasarkan survei grup bernama “Fired because of Facebook”:

1. Komentar negatif mengenai pekerjaan atau perusahaan
Seperti yang dikutip dari PC World, banyak anggota Facebook yang menjelekkan pekerjaan atau perusahaan mereka kepada teman atau keluarga mereka. Mereka juga memberitahu melalui Facebook bahwa rekan kantor bersikap tidak baik.
Hal ini sebaiknya tidak dilakukan karena yang ter-posting di Facebook, dapat diketahui oleh banyak orang, sekalipun Anda telah mengaturnya sedemikian rupa agar hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membacanya.

2. Membela bos habis-habisan dalam perseteruan online
Anda tidak berwenang terlalu aktif sampai membela bos dalam suatu perseteruan online. Sejatinya, Anda bukanlah seorang public relations profesional. Dengan demikian, apa yang Anda posting bisa jadi salah dan merusak citra perusahaan.

3. Membicarakan hal rahasia berhubungan dengan perusahaan
Sebaiknya Anda tidak membeberkannya di Facebook. Sebagai contoh, Anda tahu desas-desus bahwa perusahaan tengah membahas beberapa rekan Anda untuk diberhentikan dari pekerjaan

4. Menyembunyikan identitas dan berpura-pura menjadi orang lain
Tentu saja buruk berpura-pura menjadi orang lain. Sebaiknya, jujurlah dengan menjadi diri sendiri, demi menghindari kesalahpahaman.

5. Menceritakan kehidupan pribadi
Tak perlu terlalu mengumbar cerita dalam kehidupan dan aktivitas pribadi Anda di Facebook. Waspadalah, karena hal ini bisa mempengaruhi citra Anda di perusahaan.

6. Mem-posting gambar tak pantas
Tak hanya kata-kata dalam postingan status yang dapat merusak karir Anda. Mem-posting gambar yang tak pantas juga bisa mendatangkan bencana untuk karir Anda. Hal ini pernah terjadi, seorang anggota tim cheerleader bernama Caitlyn Davis, dipecat dari tim hanya karena foto profil dalam akun Facebooknya tengah mengacungkan jari tengah.

Sumber:

http://www.indoflyer.net/forum/printable.asp?m=362911.

Status "Jahili" Renungan Di Balik Layar Facebook



Oleh Abdul Mutaqin

Saya tertegun membaca catatan seorang teman yang dikutipnya dari ISLAMIC LIBRARY “Ketika Iffah mulai luntur” (dibalik fenomena facebook). Sebuah note yang mengusik harga diri, moral etik dan kesantunan dalam komunikasi komunal. Wajah facebook semakin menampilkan mike up penggunanya yang tak terhingga.

Sebagai sebuah fenomena yang rata menggejala, facebook semakin bergeser dari sekedar alternatif jalinan komunikasi di dunia maya. Ada user yang begitu cerdas memanfaatkan statusnya untuk menyampaikan pesan yang bermanfaat. Menjadikannya sebagai alat penggerak solidaritas yang massif untuk menghimpun dukungan atas penderitaan orang lain. Ada yang mendisainnya sebagai link dakwah dan pesan Islam rahmatan lil alamin atau aktifitas lain dalam kerangka amar ma’ruf nahyi munkar. Alhamdulillah, terhadap yang demikian ini, kita patut bersyukur dan mengapresiasinya dengan tulus.

Ada pula user yang menjadikan wallnya bagai “tembok ratapan” atas apa yang dialaminya seharian begitu naif. Ada yang sekedar iseng mengumbar kata yang tidak jelas apa makna dibalik apa yang ia tulis. Yang lebih dari itu, ada pula facebooker yang memanfaatkan status pertemanan mayanya sebagai alat mengelabui orang lain. Bahkan ada yang sengaja memasang “jerat” untuk orang yang dibidiknya. Terhadap yang demikian, sangat terasa bahwa pertemanan di dunia maya hanyalah mendiskon waktu tanpa mendapatkan manfaat apa-apa selain kesenangan semu belaka. Bahkan bisa jadi, facebook tak ubahnya seperti menggali lubang ”sial” bagi penggunanya.

Yang cukup rawan adalah fasilitas audio visual di facebook. Memang, video, film atau gambar, membuat pesan yang ditampilkan di wall begitu jelas dan hidup. Dalam hitungan detik pesan itu diterima ke seberap pun jumlah relasi dalam pertemanan di account facebook. Namun lagi-lagi, ada video atau potongan film atau gambar yang sangat kental nuansa moral etiknya. Ada pula yang sangat rendah nilai moral etiknya. Maka facebook, seperti sebilah pisau bermata dua. Note teman saya itu membuat saya tersadarkan akan hal itu. Katanya, “STATUS FB KAMU...HARGA DIRIMU”. Sebuah catatan menyindir dan menohok atas status pertemanan di dunia maya.

Berteman pada dasarnya adalah naluri. Siapapun memiliki kecenderungan mencari teman, menerima teman dan ingin diterima dalam status pertemanan. Sebab sifatnya yang naluriah (fitrah) itu, Islam mengajarkan agar pertemanan hendaknya diikat dalam bingkai saling menghormati, menghargai dan masing-masing pihak menjaga kehormatan pribadi orang lain dalam jalinan pertemanannya. Bahkan sangat dianjurkan apabila memilih atau menerima teman diniatkan untuk menjalin sillaturrahim dan persaudaraan. Inilah kerangka dasar pertemanan yang patut dikembangkan ddan diindahkan.

Rambu-rambu jalinan pertemanan yang sehat dan hanif sebenarnya sudah sangat jelas kita miliki dalam khazanah Islam; dien yang kita junjung kemuliaannya. Begitu juga dari sisi kejiwaan maupun nilai-nilai moral. Baik nilai-nilai moral yang berkembang di masyarakat (sosial), apatah lagi nilai-nilai Islam sebagai nilai yang paling luhur dalam pola hubungan antar individu seperti telah disinggung. Seyogyanya, seorang facebooker muslim atau muslimah harus setia menampilkan nilai-nilai Islami dan mengembangkannya setiap kali berinteraksi dengan teman di dinding facebooknya. Namun kesadaran demikian belumlah merata dipahami setiap kita.

Memang bagian dari sifat bawaan dalam konteks naluri berteman, manusia memiliki kecenderungan yang beragam. Seseorang memilih teman akan selalu mengikuti kata hati dan kecenderungan yang ada pada dirinya. Setiap orang pastilah begitu. Tetapi kepastian itu beraneka ragam bergantung masing-masing pribadi. Maka dapatlah dimaklumi apabila ada yang menolak berteman dengan seseorang karena menurutnya tidak sesuai dengan type atau selera kecenderungannya.

Sebaliknya, ada orang yang baru beberapa saat berkenalan telah merasa akrab sebab keduanya merasa memiliki kesamaan dalam beberapa hal. Benarlah isi dari sebuah riwayat yang menyatakan:
”Ruh-ruh manusia tersusun laksana prajurit yang berbaris. Mana yang saling kenal (cocok/sesuai/se-ideologi) akan saling berpadu. Dan mana yang saling mengingkari akan berselisih/berpisah.” (HR. Al-Bukhari).
Riwayat ini bukan saja menjelaskan fakta kecenderungan setiap orang dalam memilih teman. Tetapi menjadi dasar untuk mencermati ke mana arah pertemanan itu dibawa. Riwayat ini hemat saya bersesuaian dengan satu riwayat yang menyatakan bahwa:” Setiap yang dilahirkan mengikut fitrah, kemudian ibu bapaknya menjadikannya Yahudi atau Nasrani ataupun Majusi”.

Dengan kata lain, seseorang membawa kecenderungan berteman sejak lahir kepada siapa yang cocok dengannya berteman. Dan kecenderungannya semakin berkembang sebab lingkungan pertemanannya mendukung penuh disebabkan persamaan karakter yang melekat pada jiwanya. Apabila lingkungan pertemanannya bernuansa tauhid, maka besar kemungkinan tauhidnya berkembang subur. Tetapi ketika lingkungannya adalah jahil, tidak tertutup kemungkinan ia menjadi layaknya manusia jahiliyah. Karena itu, idiologi seorang teman patut dicermati.

Sebagaimana kita ketahui, sebuah idiologi akan mengikat seseorang dengan amat sangat kuat. Idiologi itu akan mewarnai pola pikir, pola ucap, pola baca, pola tulis dan segala relasinya yang kemudian menjadi pola dalam setiap interaksinya. Sangat mungkin sekelompok orang akan berteman secara komunal dan akrab karena idiologi marxis yang sama-sama mereka anut. Begitu juga orang yang berpaham pluralis, liberalis atau skuleris akan saling merasa cocok satu sama lain karena sebab yang sama. Maka tidaklah aneh, apabila ada pribadi yang merasa risih berdekatan dengan penjudi, pemabuk atau pezina. Bahkan ia ingin berlari sejauh-jauhnya dari mereka lantaran dirinya lebih banyak berkumpul dan merasa dekat dengan orang-orang yang berakhlak kariimah.

Sebaliknya juga begitu. Secara naluriah, remaja pelaku dan pegiat maksiat yang akrab dengan narkoba, seks bebas, diskotik dan hiburan malam akan menghindari remaja masjid yang senang berlama-lama di masjid, doyan ngaji dan memperdalam agama yang menjadi idiologinya.

Alangkah relevannya riwayat Imam Ahmad yang dengan amat jernih menegaskan bahwa teman seperti idiologi. Dinyatakan dalam riwayatnya:
”Seseorang akan mengikuti agama/keyakinan sahabat karibnya. Maka hendaklah setiap orang memperhatikan siapa yang menjadi sahabatnya itu.” (HR. Imam Ahmad).
Catatan teman saya yang mengutif sorotan atas beberapa status yang banyak muncul di layar facebook memang boleh dikata sudah tidak wajar. Bahkan terkesan vulgar dan seronok. Mungkin bagi yang merasa cocok karena memiliki kesamaan kecenderungan, status itu dianggap biasa-biasa saja, wajar dan lumrah. Tapi ternyata tidak oleh teman saya, dan saya menilainya pun demikian vulgarnya. Namun bisa jadi karena perbedaan karakter dan kecenderungan, yang menilai vulgar itulah yang dituduh memiliki pikiran ngeres, jorok dan seronok.

Cobalah cermati status berikut yang dikutip teman saya dari “Ketika Iffah mulai luntur” (dibalik fenomena facebook). Tertulis status seorang wanita:
“Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya ....?”
Sekilas, bunyi status seperti ini memang biasa saja apabila hanya untuk dinikmati sendiri oleh penulisnya. Tetapi ketika status seperti itu dibagikan kepada sekian ribu isi kepala, maka segera akan menjadi masalah.

Komentar-komentarlah yang mempertegas bahwa status itu mengundang masalah seperti ditulis salah seorang lelaki yang dalam komentarnya:
”mau ditemanin? Dijamin puas deh…” Apa yang Anda bayangkan kemudian? Bukankah coretan dinding seperti ini terkesan liar meskipun dapat ditebak arahnya? Lain hal kalau komentar itu berbunyi misalnya,” minum wedang jahe Mba, pasti menghangatkan”. Atau,” gosok gigi, cuci kaki, ambil selimut tebal, tidur deh”. Bukankah kesan yang ditimbulkannya berbeda dari yang pertama?
Kutipan selanjutnya, seorang wanita lainnya menuliskan statusnya:
“bangun tidur, badan sakit semua, biasa ... habis malam jumat ya begini...”. Yang laki-laki tidak kalah hebat menulis statusnya, “habis minum jamu nih…., ada yang mau menerima tantangan? Status dan komentar seperti itu bersahut-sahutan tak terkendali. Sampai kepada status yang berbunyi, “ mau tidur nih, panas banget…bakal tidur pake dalaman lagi nih”.

Status kurang elok seperti ini langsung memancing berpuluh2 komentar datang. Ada komentar yang nakal dan bernada melecehkan juga bermunculan. Maka sebuah status jahil, akan diaminkan dengan bahasa yang jahil pula. Seperti koor paduan suara, saling sambut penuh ”nafsu’ mengumandangkan suaranya. Tak disadari, status serta komentar seperti itu laksana interaksi persahabatan tanpa hati nurani dan rasa malu. Fenomena di atas menjadi tanda besar bagi facebooker muslim, bahwa hegemoni ‘kesenangan semu’ yang dibungkus dengan ‘persahabatan fatamorgana’ tengah ditampilkan facebook yang melindas semua rasa malu, tata krama dan kehormatan diri. Inikah ciri khas pertemanan maya?

Lalu terngianglah di telinga bait syair yang ditulis sastrawan Taufik Ismail yang dinyanyikan Chrisye. Chrisye memang telah berpulang ke haribaan Allah. Tetapi pesan dalam lagunya seperti tetap hidup dalam konteks menata diri dalam berbagai spektrum. Sangat relevan saat menulis status di facebook yang menyelamatkan.

Akan datang hari
Mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa
Tak ada suara
Dari mulut kita
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita
Bila harinya
Tanggung jawab, tiba…
Rabbana Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah Kukuhkanlah Di jalan cahaya
Sempurna Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu Yang hina

Menilik secara jujur riwayat Imam Ahmad di muka, sesungguhnya teman adalah cermin diri setiap orang. Orang yang berkawan karib dengan pribadi seronok, adalah pantulan bayangan atas cermin dirinya. Begitu pun sebaliknya, senang bergaul dekat dengan orang-orang soleh adalah juga bayangan atas dirinya.

Maka kriteria teman baik dan buruk menjadi sangat jelas. Teman baik bagi seorang muslim adalah teman yang bisa menyelamatkan. Teman yang meneguhkan saat berada di jalan yang lurus dan mengingatkan saat keliru bermain-main di jalan yang salah. Teman baik seperti ini hanya bisa ditemukan pada pribadi yang seiman dan seagama. Sedangkan teman buruk adalah teman yang menjerumuskan pada kehinaan.

Teman yang menjauh saat ingat pada kebaikan dan amal saleh, tetapi mengajak semakin jauh tersesat di saat terlena pada kedurhakaan dan maksiat. Dengan demikian, berhati-hati memilih teman jauh lebih bijak dari sekedar alasan memperbanyak teman tanpa memilah dan memilih siapa di antara semuanya yang layak dijadikan sebagai teman.

Apabila diri kita dianggap sebagai teman, tolonglah teman yang dizalimi dengan memberikannya perlindungan dari kezaliman. Tolong pula teman yang zalim dengan menghentikan perbuatan zalimnya. Dengan begitu kita telah menjadi teman yang baik. Teman yang bukan semata-mata menunjukkan jalan ke surga, tetapi juga teman yang mampu menyelamatkan sahabt dari jilatan api neraka meskipun sebelah kakinya telah tercebur ke jurangnya yang menganga.

Duhai sahabat, mari menulis, menulis yang menyelamatkan
Mari membaca, membaca yang mencerdaskan
Mari berbagi, berbagi yang memuliakan

Depok, April 2010.
abdul_mutaqin@yahoo.com

Ketika Facebook Jadi Alat Politik Kantor



Oleh: Tuhu Nugraha Dewanto

Kehadiran situs-situs jaringan sosial di internet bukan hanya membawa dampak positif dimana hubungan antarpersonal menjadi semakin horisontal, dan orang bisa bebas mengekespresikan diri dan sebagainya. Di balik demokratisasi yang memungkinkan setiap individu menampilkan diri apa adanya, ada bahaya yang mengintai, dari mereka yang tidak siap dengan perubahan ini. Seorang teman yang bekerja di sebuah perusahaan multinasional ternama bercerita, dia mendapat masalah di kantornya gara-gara Facebook.

Alkisah, salah seorang manajer level tinggi mempermasalahkan beberapa foto yang dia pajang di Facebook. Tidak tanggung-tanggung, hal itu dijadikan isu untuk menjatuhkannya di rapat manajerial. Yang mengherankan saya, mungkin juga Anda, sebegitu kurang kerjaankah si manajer itu sehingga "sempat-sempatnya" mengintai Facebook orang lain? Tapi, kalau mau dipikir-pikir lagi, memang inilah realitas kita hari ini. Ketika berdiskusi dengan teman yang lain, ternyata beberapa orang bahkan telah mengantisipasi hal-hal semacam ini dengan sengaja memblokir teman-teman sekantor untuk menjadi teman di Facebook, guna mencegah potensi terjadinya politisasi kantor semacam itu. Atau, ada juga yang lebih telaten dengan melakukan kustomisasi pada privacy policy untuk masing-masing temannya di Facebook.

Kembali ke cerita teman saya tadi, apa pun yang dipermasalahkan oleh sang manajer, ada satu benang merah yang bisa kita tarik dari "kasus" kecil ini. Facebook rupanya telah dianggap sebagai cerminan pribadi seseorang, atau bahasa kerennya personal branding. Perlu diingat, angkata kerja dari Generasi Y yang kini mengisi jabatan profesional di kantor-kantor memang mempunyai karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka adalah para pekerja muda, yang lebih ekspresif, memegang motto 'work hard play hard', dan menginginkan keseimbangan antara bekerja dan bersenang-senang.

Di samping itu, karyawan Gen Y merasa bahwa melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kesenangan pribadi di kantor tidak masalah sepanjang tidak mengganggu urusan pekerjaan. Namun atasan mereka yang notabene dari Generasi X mungkin tidak bisa menerima begitu saja, bahwa ada anak buahnya yang eksentrik dan bergaya, sibuk "bergaul" di dunia maya di sela-sela kerja. Di sinilah timbul perbenturan nilai. Pada titik inilah, diperlukan pengertian dari kedua belah pihak, yakni karyawan dan bos, demi terwujudkan komunikasi yang mampu menjembatani antara dua (atau mungkin lebih) karakter generasi yang berbeda yang saling berinteraksi dalam satu lingkungan kerja.

Menurut saya setidaknya ada empat strategi yang bisa menyelamatkan Anda yang keranjingan Facebook dari jerat politik kantor, seperti dialami teman saya tadi.

1. Coba analisis lingkungan kerja Anda. Apabila Anda bekerja di industri kreatif atau dunia kerja yang fleksibel menerima karakter individual yang eksentrik, tak perlu mencemaskan apa yang akan Anda posting di Facebook.

2. Apakah kinerja Anda ditentukan oleh penilaian bos dan teman sekerja Anda, atau sebuah angka terukur, misalnya, orang-orang sales yang kinerjanya jelas ditentukan pencapaian target. Kalau kinerja Anda lebih banyak ditentukan persepsi bos (dan rekan kerja), maka perlu berhatilah-hati saat posting di Facebook. Sebab, bila ada beberapa orang yang berusaha menjegal Anda, dengan mudah mereka akan menggunakan Facebook untuk merusak citra Anda.

3. Blokir, atau setidaknya batasi jaringan sosial Anda di internet dari teman-teman yang berpotensi menjatuhkan Anda. Ada beberapa hal yang tidak bisa Anda kontrol di Facebook, misalnya Tag foto dari teman Anda, atau komentar-komentar, serta Wall yang ditulis oleh teman Anda.

4. Pertimbangkan berbagai hal yang akan dipublikasikan di Facebook, jangan sampai hal ini akan merugikan citra dan kredibilitas perusahaan, atau profesionalitas Anda di mata klien dan kolega.

Pada akhirnya, kita harus semakin menyadari bahwa saat ini kita hidup pada era ketika aktivitas yang berkaitan dengan kesenangan pribadi tak bisa benar-benar dipisahkan dari pekerjaan. Dalam sebuah organisasi atau perusahaan, karir dan masa depan posisi kita bukan hanya ditentukan oleh kinerja dan kesuksesan kita dalam menyelesaikan pekerjaan. Melainkan, juga oleh lingkungan tempat kita berada, yang terdiri dari atasan, kolega dan para klien yang kini telah saling terkait dan berinteraksi dalam satu jaringan. Dalam konteks ini, kita diingatkan pada pentingnya emotional intellegence, kepandaian untuk bisa menganalisis lingkungan sekitar dan kepekaan untuk memahami orang lain.

(Penulis adalah Web Consultant dan Pengamat Online Media)
portalhr.com