September 04, 2010

Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh



“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya” Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. Bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Subuh tepat waktu?

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Shalat Subuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah rekaatnya; hanya dua rekaat saja. Namun, ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karena waktunya sangat sempit (sampai matahari terbit)

Ada hukuman khusus bagi yang meninggalkan shalat Subuh. Rasulullah saw telah menyebutkan hukuman berat bagi yang tidur dan meninggalkan shalat wajib, rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan shalat Subuh adalah tidur.

“Setan melilit leher seorang di antara kalian dengan tiga lilitan ketika ia tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikkan, ‘Nikmatilah malam yang panjang ini’. Apabila ia bangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu, lepaslah lilitan yang kedua. Kemudian apabila ia shalat, lepaslah lilitan yang ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak, ia akan terbawa lamban dan malas”.

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” [HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.

“Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh tujuh kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh”. “Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka - padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka - ‘Bagaimana hamba-2Ku ketika kalian tinggalkan ?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga’. ” [HR Al-Bukhari]

Sedangkan bagi wanita - walau shalat di masjid diperbolehkan - shalat di rumah adalah lebih baik dan lebih banyak pahalanya, yaitu yang mengerjakan shalat Subuh pada saat para pria sedang shalat di masjid. Ujian yang membedakan antara wanita munafik dan wanita mukminah adalah shalat pada permulaan waktu.

“Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan, dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka” [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid. “Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS Huud:81)

Rutinitas harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh. Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.

“Jika kamu menolong (agama) Allah, maka ia pasti akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad : 7)

“Sungguh Allah akan menolong orang yang menolong agamanya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa” (QS Al-Hajj:40)

TIPS MENJAGA SHALAT SUBUH :

1. Ikhlaskan niat karena Allah, dan berikanlah hak-hak-Nya
2. Bertekad dan introspeksilah diri Anda setiap hari
3. Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulangi kembali
4. Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk shalat Subuh
5. Carilah kawan yang baik (shalih)
6. Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw (tidur awal; berwudhu sebelum tidur; miring ke kanan; berdoa)
7. Mengurangi makan sebelum tidur serta jauhilah teh dan kopi pada malam hari
8. Ingat keutamaan dan hikmah Subuh; tulis dan gantunglah di atas dinding
9. Bantulah dengan 3 buah bel pengingat(jam weker; telpon; bel pintu)
10. Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga

Jika Anda telah bersiap meninggalkan shalat Subuh, hati-hatilah bila Anda berada dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Allah untuk pergi shalat. Anda akan ditimpa kemalasan, turun keimanan, lemah dan terus berdiam diri.

Disarikan dari :
Buku “MISTERI SHALAT SUBUH”
Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh Bagi Para Pribadi dan Masyarakat
Pengarang : DR. Raghib As-Sirjani
Penerbit : Aqwam

Sumber: mudji.net/press/?p=108

September 01, 2010

Tentang Lailat Al-Qadar



Berbicara tentang Lailat Al-Qadar (Lailatul Qadar, malam kemuliaan) mengharuskan kita berbicara tentang surat Al-Qadar.Surat Al-Qadar adalah surat ke-97 menurut urutannya dalam Mushaf, ditempatkan sesudah surat Iqra’. Para ulama Al-Quran menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surat Iqra’. Bahkan sebagian di antara mereka menyatakan bahwa surat Al-Qadar turun setelah Nabi saw berhijrah ke Madinah.

Penempatan urutan surat dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah Allah SWT, dan dari perurutannya ditemukan keserasian-keserasian yang mengagumkan.

Kalau dalam surat Iqra’ Nabi saw (demikian pula kaum Muslim) diperintahkan untuk membaca, dan yang dibaca itu antara lain adalah Al-Quran, maka wajar jika surat sesudahnya yakni surat Al-Qadar ini berbicara tentang turunnya Al-Quran, dan kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam Nuzul Al-Quran.Bulan Ramadhan memiliki sekian banyak keistimewaan, salah satunya adalah Lailat Al-Qadar, suatu malam yang oleh Al-Quran “lebih baik dari seribu bulan.”

Tetapi apa dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja yakni malam ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu, atau terjadi setiap bulan Ramadhan sepanjang masa? Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya, dan benarkah ada tanda-tanda fisik material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya air, heningnya malam, dan menunduknya pepohonan dan sebagainya)? Bahkan masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dan sering muncul berkaitan dengan malam Al-Qadar itu.

Yang pasti dan harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Quran bahwa, “Ada suatu malam yang bernama Lailat Al-Qadar, dan bahwa malam itu adalah malam yang penuh berkah, di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan.”

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami (QS Al-Dukhan [44]: 3-5).

Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena kitab suci menginformasikan bahwa ia diturunkan Allah pada bulan Ramadhan (QS Al-Baqarah [2]: 185) serta pada malam Al-Qadar (QS Al-Qadr [97]: 1).

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). (QS Al-Qadr [97]: 1).

Malam tersebut adalah malam mulia. Tidak mudah diketahui betapa besar kemuliannnya. Hal ini disyaratkan oleh adanya “pertanyaan” dalam bentuk pengagungan, yaitu:

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS Al-Qadr [97]: 2)

Tiga belas kali kalimat ma adraka terulang dalam Al-Quran, sepuluh di antaranya mempertanyakan tentang kehebatan yang berkait dengan hari kemudian, seperti: Ma adraka ma yaum al-fashl, dan sebagainya. Kesemuanya merupakan hal yang tidak mudah dijangkau oleh akal pikiran manusia, kalau enggan berkata mustahil dijangkaunya. Tiga kali ma adraka sisa dari angka tiga belas itu adalah:

Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (QS Al-Thariq [86]: 2)Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (QS Al-Balad [90]: 12)Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS Al-Qadr [97]: 2)

Pemakaian kata-kata ma adraka dalam Al-Quran berkaitan dengan objek pertanyaan yang menunjukkan hal-hal yang sangat hebat, dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia.Walaupun demikian, sementara ulama membedakan antara pertanyaan ma adraka dan ma yudrika yang juga digunakan Al-Quran dalam tiga ayat.

Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu adalah dekat waktunya? (QS Al-Ahzab [33]: 63)Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat? (QS Al-Syura [42]: 17)Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri (dan dosa)? (QS ‘Abasa [80]: 3).

Dua ayat pertama di atas mempertanyakan dengan ma yudrika menyangkut waktu kedatangan kiamat, sedang ayat ketiga berkaitan dengan kesucian jiwa manusia. Ketiga hal tersebut tidak mungkin diketahui manusia.

Secara gamblang Al-Quran –demikian pula As-Sunnah– menyatakan bahwa Nabi saw tak mengetahui kapan datangnya hari kiamat, tidak pula mengetahui tentang perkara yang gaib. Ini berarti bahwa ma yudrika digunakan oleh Al-Quran untuk hal-hal yang tidak mungkin diketahui walau oleh Nabi saw sendiri, sedang wa ma adraka, walau berupa pertanyaan namun pada akhirnya Allah SWT menyampaikannya kepada Nabi saw sehingga informasi lanjutan dapat diperoleh dari beliau. Demikian perbedaan kedua kalimat tersebut.

Ini berarti bahwa persoalan Lailat Al-Qadar, harus dirujuk kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw, karena disanalah kita dapat memperoleh informasinya.Kembali kepada pertanyaan semula, apa malam kemuliaan itu? Apa arti malam Qadar, dan mengapa malam itu dinamai demikian? Di sini ditemukan berbagai jawaban.

Kata qadar sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti:

1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia.

Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan firman Allah dalam surat Ad-Dukhan ayat 3 yang disebut di atas. (Ada ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun). Al-Quran yang turun pada malam Lailat Al-Qadar, diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT mengatur dan menetapkan khithah dan strategi bagi Nabi-Nya Muhammad saw, guna mengajak manusia kepada agama yang benar, yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia baik sebagai individu maupun kelompok.

2. Kemuliaan.

Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran, serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam surat Al-An’am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik:

Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat.(QS. Al-An’am (6): 91)

3. Sempit.

Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr:

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (QS. Al-Qadr (97):4)

Kata qadar yang berarti sempit digunakan Al-Quran antara lain dalam surat Al-Ra’d (13): 26:

Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya). (QS. Al-Ra’d (13): 26)

Ketiga arti tersebut pada hakikatnya dapat menjadi benar, karena bukankah malam tersebut adalah malam mulia, yang bila diraih maka ia menetapkan masa depan manusia, dan bahwa pada malam itu malaikat-malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan. Namun demikian, sebelum kita melanjutkan bahasan tentang Laitat Al-Qadar, maka terlebih dahulu akan dijawab pertanyaan tentang kehadirannya adakah setiap tahun atau hanya sekali, yakni ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu.

Dari Al-Quran kita menemukan penjelasan bahwa wahyu-wahyu Allah itu diturunkan pada Lailat Al-Qadar. Akan tetapi karena umat sepakat mempercayai bahwa Al-Quran telah sempurna dan tidak ada lagi wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, maka atas dasar logika itu, ada yang berpendapat bahwa malam mulia itu sudah tidak akan hadir lagi. Kemuliaan yang diperoleh oleh malam tersebut adalah karena ia terpilih menjadi waktu turunnya Al-Quran.Pakar hadis Ibnu Hajar menyebutkan satu riwayat dari penganut paham di atas yang menyatakan bahwa Nabi saw pernah bersabda bahwa malam qadar sudah tidak akan datang lagi.

Pendapat tersebut ditolak oleh mayoritas ulama, karena mereka berpegang kepada teks ayat Al-Quran, serta sekian banyak teks hadis yang menunjukkan bahwa Lailat Al-Qadar terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Bahkan Rasululllah saw menganjurkan umatnya untuk mempersiapkan jiwa menyambut malam mulia itu, secara khusus pada malam-malam ganjil setelah berlalu dua puluh Ramadhan.

Memang turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu terjadi pada malam Lailat Al-Qadar, tetapi itu bukan berarti bahwa ketika itu saja malam mulia itu hadir. Ini juga berarti bahwa kemuliaannya bukan hanya disebabkan karena Al-Quran ketika itu turun, tetapi karena adanya faktor intern pada malam itu sendiri.Pendapat di atas dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk kata kerja mudhari’ (present tense) oleh ayat 4 surat Al-Qadr yang mengandung arti kesinambungan, atau terjadinya sesuatu pada masa kini dan masa datang.

Apakah bila Lailat Al-Qadar hadir, ia akan menemui setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya itu? Tidak sedikit umat Islam yang menduganya demikian. Namun dugaan itu menurut Quraish Shihab keliru, karena hal itu dapat berarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang terjaga baik untuk menyambutnya maupun tidak. Di sisi lain berarti bahwa kehadirannya ditandai oleh hal-hal yang bersifat fisik-material, sedangkan riwayat-riwayat demikian, tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.

Seandainya, sekali lagi seandainya, ada tanda-tanda fisik material, maka itu pun takkan ditemui oleh orang-orang yang tidak mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa guna menyambutnya. Air dan minyak tidak mungkin akan menyatu dan bertemu. Kebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh Lailat Al-Qadar tidak mungkin akan diraih kecuali oleh orang-orang tertentu saja. Tamu agung yang berkunjung ke satu tempat, tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun setiap orang di sana mendambakannya. Bukankah ada orang yang sangat rindu atas kedatangan kekasih, namun ternyata sang kekasih tidak sudi mampir menemuinya.

Demikian juga dengan Lailat Al-Qadar. Itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Karena, ketika itu, diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinkan malam mulia itu berkenan mampir menemuinya, dan itu pula sebabnya Rasul saw menganjurkan sekaligus mempraktekkan i’tikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, dan Lailat Al-Qadar datang menemui seseorang, ketika itu, malam kehadirannya menjadi saat qadar dalam arti, saat menentukan bagi perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang. Saat itu, bagi yang bersangkutan adalah saat titik tolak guna meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dan sejak saat itu, malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbitnya fajar kehidupannya yang baru kelak di hari kemudian. (Perhatikan kembali makna-makna Al-Qadar yang dikemukakan di atas!).

Syaikh Muhammad ‘Abduh, menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang kehadiran malaikat dalam diri manusia. ‘Abduh memberi ilustrasi berikut ini.Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam bisikan, baik dan buruk. Manusia sering merasakan pertarungan antar keduanya, seakan apa yang terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan ke satu sidang pengadilan. Yang ini menerima dan yang itu menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu mencegah, sampai akhirnya sidang memutuskan sesuatu.

Yang membisikkan kebaikan adalah malaikat, sedang yang membisikkan keburukan adalah setan atau paling tidak, kata ‘Abduh, penyebab adanya bisikan tersebut adalah malaikat atau setan. Turunnya malaikat pada malam Lailatul Al-Qadar menemui orang yang mempersiapkan diri menyambutnya, menjadikan yang bersangkutan akan selalu disertai oleh malaikat. Sehingga jiwanya selalu terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan dia sendiri akan selalu merasakan salam (rasa aman dan damai) yang tak terbatas sampai fajar malam Lailat Al-Qadar, tapi sampai akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian kelak.

Di atas telah di kemukakan bahwa Nabi saw menganjurkan sambil mengamalkan i’tikaf di masjid dalam rangka perenungan dan penyucian jiwa. Masjid adalah tempat suci. Segala aktivitas kebajikan bermula di masjid. Di masjid pula seseorang diharapkan merenung tentang diri dan masyarakatnya, serta dapat menghindar dari hiruk pikuk yang menyesakkan jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan pengetahuan dan pengkayaan iman. Itu sebabnya ketika melaksanakan i’tikaf, dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan Al-Quran, atau bahkan bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa. Tentu saja setiap bacaan tersebut seharusnya juga dimengerti/difahami artinya/maknanya.

Malam Qadar yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat. Saat jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Ar-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia. Karena itu pula beliau mengajarkan kepada umatnya, dalam rangka menyambut kehadiran Lailat Al-Qadar itu, antara lain adalah melakukan i’tikaf.

Walaupun i’tikaf dapat dilakukan kapan saja, dan dalam waktu berapa lama saja, bahkan dalam pandangan Imam Syafi’i, walau sesaat selama dibarengi oleh niat yang suci, namun Nabi saw selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan puasa. Di sanalah beliau bertadarus dan merenung sambil berdoa.Salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayati maknanya adalah:

Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami dan siksa neraka (QS Al-Baqarah [2]: 201).

Doa ini bukan sekadar berarti permohonan untuk memperoleh kebajikan dunia dan kebajikan akhirat, tetapi ia lebih-lebih lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang disertai usaha. Permohonan itu juga berarti upaya untuk menjadikan kebajikan dan kebahagiaan yang diperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.

Adapun menyangkut tanda alamiah, maka Al-Quran tidak menyinggungnya. Ada beberapa hadis mengingatkan hal tersebut, tetapi hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari, pakar hadis yang dikenal melakukan penyaringan yang cukup ketat terhadap hadis Nabi saw.Muslim, Abu Daud, dan Al-Tirmidzi antara lain meriwayatkan melalui sahabat Nabi Ubay bin Ka’ab, sebagai berikut : “Tanda kehadiran Lailat Al-Qadr adalah matahari pada pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar”.

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan: “Tandanya adalah langit bersih, terang bagaikan bulan sedang purnama, tenang, tidak dingin dan tidak pula panas … “.

Hadis ini dapat diperselisihkan kesahihannya, dan karena itu kita dapat berkata bahwa tanda yang paling jelas tentang kehadiran Lailat Al-Qadar bagi seseorang adalah kedamaian dan ketenangan. Semoga malam mulia itu berkenan mampir menemui kita.

Sumber : http://al-quran.bahagia.us/_q.php?_q=sihab&dft=&dfa=&dfi=&dfq=&u2=&ui=1&nba=32




August 29, 2010

Obsesi Ramadhan



Menjelang akhir Ramadhan, seharusnya kaum muslimin meninggalkan kehidupan dunia, seperti yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah Shallahu alaihi wa salam, dan waktunya hanya digunakan beribadah dan bertaqarrub kepada Azza wa Jalla. Tidak lagi disibukkan memikirkan tentang dunia, yang tidak memiliki arti apa-apa dihadapan Allah Ta’ala. Mengejar maghfirah-Nya.

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS, Al-Imran : 133).

Betapa Allah Azza wa Jalla telah memberikan balasan (jaza') yang tak terhitung nilainya, bagi siapa saja yang dengan tulus-ikhlas, beribadah dan memohon ampunan dari Rabbnya, dan akan mendapatkan balasan berupa surga, yang luasnya seluas langit dan bumi, khususnya bagi mereka yang bertaqwa. Seharusnya kaum muslimin berusaha semakin setulus-tulusnya untuk mendapatkan maghfirah (ampunan) dari Rabbul Alamin, dan menjadi orang-orang yang muttaqin (bertakwa) dengan ganjaran, yang digambarkan berupa surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Karena di akhir Ramadhan ada saat 'Lailatur Qadr', di mana Allah Rabbul Alamin akan memberikan ampunan bagi hamba yang bertaqwa.

Bandingkan dengan usaha-usaha manusia yang terobsesi dengan materi dan kenikmatan dunia, dan menghabiskan waktunya hanya untuk mengejar dunia? Berapa materi yang didapatkan oleh manusia selama ia hidup dan bekerja di dunia itu? Bandingkan dengan jaminan dan balasan dari Allah Azza Wa Jalla yang melebihi apa yang didapatkan manusia di dunia. Tidak ada artinya dibandingkan dengan semua yang akan diberikan Allah itu, dibandingkan dengan yang diperoleh manusia.

Manusi hanyalah produktif dan dapat menikmati kehidupannya sebatas umur 50 tahun, sesudah itu, kondisi fisik manusia sudah tidak efektif untuk dapat menikmati kehidupan dunia. Semua yang didapatkan di dunia akan ditinggalkannya. Isteri, anak keturunan, rumah, kendaraan, dan segala harta benda, semuanya akan ditinggalkan. Manusia akan mati.

Manusia hanya akan menempati tempat yang sangat sempit yang bernama alam kubur, yang luasnya tidak lebih dari 1 X 2 yang bersifat kekal. Sebaliknya, kehidupan akhirat akan kekal selamanya. Betapa bahagianya bagi mereka yang mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya, dan ditempatkan surga-Nya?

“Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal”. (QS, Al-Imram : 136). 

Tradisi muslim di Indonesia sangat paradok dengan ajaran Islam. Menjelang akhir Ramadhan mereka bukan lagi justru meningkatkan ibadahnya. Tetapi, yang terus membayangi dalam benak mereka adalah jenis pakaian apa yang akan dipakai saat lebaran (Idul Fitri) nanti? Atau jenis makanan apa yang akan disiapkan menghadapi lebaran (Idul Fitri) nanti? Atau jenis kendaraan (mobil) yang akan digunakan berkunjung dan silaturrahim ke keluarga, sanak-famili dan handai taulan, serta para kerabat dan kolega? Seakan setiap lebaran menjadi parade ‘pamer’ kemewahan, bukan lagi menjadi saat untuk pamer ‘ketaqwaan’ dihadapan sesama muslim.

Karena itu, yang paling sibuk saat menjelang akhir Ramadhan adalah kantor-kantor, pasar, mall, plaza, yang menjadi menu utama pembicaraan hanyalah persiapan menjelang lebaran. Semuanya berkaitan dengan kehidupan duniawi, yang tidak mempunyai relasi dengan kehidupan akhirat. Tidak memiliki relasi dengan tingkat ketaqwaan seseorang dihadapan Allah Azza Wa Jalla. Karena itu, tak heran, kehidupan kaum muslimin semakin carut-marut, hina, tidak memiliki kemuliaan (izzah) dihadapan musuh-musuhnya. Karena, hakekatnya di dalam dada dan sanubari mereka telah tertanam dalam-dalam budaya materialisme, dan bahkan mereka sudah menyembah materi, serta menjadikan materi sebagai sesembahan mereka.

Materi sudah menjadi ‘tuhan-tuhan’ kecil, yang menguasai seluruh hidupnya. Maka tak heran mereka untuk memenuhi kehidupan duniawinya, tak segan-segan mengikuti bisikan syetan, dan berbuat maksiat melanggar semua aturan dan ketentuan Allah Rabbul alamin, dan tidak mau tunduk dan patuh, karena mereka sudah terjerumus kedalam kehidupan materialisme itu.

Sumber: Yusuf Mansur Network on Facebook

Dua Sumber Bencana Kehidupan



Setiap hari kita disuguhkan berbagai macam informasi atau berita mengenai kekerasan: suami membunuh istri, istri menganiaya anak, anak memukuli orang tua, tawuran antar kampung, konflik berdarah dalam pilkadal, anggota gangster melakukan kebrutalan terhadap warga, pelajar putri SMP melakukan aborsi, penipuan, korupsi, ancaman bom, selebriti selingkuh, dan lain-lain. Semuanya itu menjadi sampah pemikiran yang terus menerus mengisi pikiran kita setiap pagi, siang, sore, dan malam. Kita bangun tidur dengan jiwa yang gelisah dan tidur dengan hati yang letih. Begitu setiap hari. Kejahatan melakukan regenerasi dan kaderisasi setiap detik. Negeri ini dipenuhi oleh aroma hati yang membusuk dan pikiran kriminil. Kebathilan mendominasi atmosfir opini tanah air tercinta.

Apabila kemudian terjadi segala macam bencana, maka rasanya kehadiran "tamu" tersebut adalah wajar belaka. Allah SWT berfirman dalam surat Ar Rum ayat 41, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagaian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Jika ditilik lebih mendalam lagi, pada hakikatnya penyebab semua malapetaka dunia ini (setidaknya) ada dua, yaitu Kebodohan dan Kesombongan. Semua ragam kejahatan, kenistaan, keburukan, dan malapetaka bersumber dari dua hal tersebut.

Sumber pertama adalah kebodohan. Kebodohan yang dimaksud adalah keterasingan dari wawasan wahyu suci. Hati dan fikirannya jauh dari pemahaman terhadap petunjuk Allah SWT dan RasulNya. Sehingga semua tindakan, ucapan, tulisan, kebijakan, dan hasil pemikirannya tidak memiliki dasar referensi dan bingkai Islami yang rahmatan lil 'alamin. Segala yang berasal dari dirinya tidak dimaksudkan dan tidak dalam kerangka pengabdian kepada Allah SWT. Lebih semata-mata karena kemauan hawa nafsunya.

Ketiadaan wawasan ini akan mengakibatkan manusia tidak lagi mengindahkan kaidah halal - haram dan juga kaidah manfaat-mafsadat dalam berfikir dan bertindak. Apapun yang diinginkannya dan yang muncul di fikirannya akan (bahkan harus) diwujudkan. Seringkali tidak memperdulikan ekses yang (mungkin) timbul dari hal tersebut (baik positif maupun negatif). Maka kita bisa saksikan parade pertunjukan malapetaka itu: korupsi yang dianggap halal dan lumrah, kebijakan pemerintah yang kontra rakyat dan lingkungan hidup, pembunuhan, perselingkuhan, skandal, pornografi dan pornoaksi di media cetak dan elektronik, kampanye dan sosialisasi budaya permissive, tayangan sinetron yang amoral, kerusuhan sara, pertikaian berdarah dalam ajang pilkadal, dan sebagainya. Rakyat diajak untuk menjadi bodoh. Kurikulum pendidikanpun lebih cenderung ke arah menghasilkan robot-robot untuk memenuhi kebutuhan industri kapitalis. Itupun masih ditambah dengan biaya pendidikan yang sangat mahal. Bayangkan, bahkan untuk menjadi robot miskin nurani pun harus mengeluarkan biaya tinggi. Sungguh dahsyat tayangan peradaban bar-bar ini.

Akibat kebodohan ini yang terus menerus diperdengarkan dan dipertontonkan, maka perlahan tapi pasti akan terbentuk suatu iklim kebodohan massal. Tercipta sebuah masyarakat yang bodoh. Kalaupun ada pihak-pihak yang sadar akan hal ini, sebahagian besar mereka hanya diam saja dan bersikap apatis. Hanya sedikit dari mereka yang berjuang sepenuh hati untuk memerangi kebudayaan bodoh ini.

Bila iklim kebodohan ini dibiarkan terus, maka ummat semakin asing dari firman Allah SWT dan sunnah RasulNya. Maka adzab Allah SWT tiba dan menimpa siapapun juga. Allah SWT berfirman dalam surat Al Anfaal ayat 25, "Takutlah kalian kepada fitnah/bencana yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian". Kebodohan berujung pada bencana.

Sumber kedua adalah kesombongan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Iblis adalah pionir sifat sombong ini. Dia merasa lebih mulia dari Adam 'alaihissalaam, karena dia diciptakan dari api, sedangkan Adam 'alaihissalaam diciptakan dari tanah. Karena perasaan itulah Iblis menolak perintah Allah SWT untuk sujud kepada Adam 'alaihissalaam. Menolak perintah Allah SWT adalah sebuah bentuk penolakan terhadap kebenaran, karena Allah SWT adalah Maha Benar dan sumber kebenaran mutlak satu-satunya. Iblis merasa lebih hebat dan lebih mulia, padahal tidak ada yang lebih hebat dan lebih mulia kecuali Allah SWT.

Manusia yang sombong adalah manusia yang meneladani Iblis. Manusia sombong merasa dirinya lebih hebat. Merasa memiliki kemampuan diri sendiri untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Senantiasa mengklaim setiap pencapaian prestasinya, keberhasilannya, kekayaannya, dan kekuasaannya adalah berasal dari kerja keras otak dan ototnya semata. Mata hatinya tertutup oleh rasa takjub atas apa yang telah dihasilkan oleh dirinya sendiri berupa pikiran dan perbuatan, sehingga lupa bahwa Allah SWT-lah yang mendatangkan segala kemanisan, kesuksesan, kecemerlangan, kekayaan, dan juga kekuasaannya.

Seperti Qarun yang kaya raya tapi lupa kepada Allah SWT dengan mengklaim bahwa kekayaannya itu bersumber dari hasil kecerdasan dan kerja kerasnya semata. Tidak ada rasa syukur. Pada akhirnya Allah SWT menurunkan adzab kepada Qarun: bumi menelan Qarun beserta seluruh harta benda kebanggaannya itu.

Manusia memang sudah Allah berikan akal fikiran dan sudah pula dihamparkan alam semesta untuk diolah. Tapi pengolahan ini semata-mata sebagai bentuk pengabdian. Allah SWT berfirman dalam surat Adz Dzariyat ayat 56, "Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku". Pengolahan alam semesta dengan bekal karunia Allah SWT pada diri manusia adalah sebuah batu loncatan untuk mencapai ridho dan rahmat Allah SWT. Bukan untuk fokus ke pengolahan itu sendiri.

Namun manusia sombong memiliki karakteristik pandangannya sendiri. Karunia Allah SWT yang hebat itu justru dipergunakan untuk mengolah alam bagi kejayaan pribadi dan diakui sebagai hasil upaya pribadi. Bukan untuk mengabdi kepada Allah SWT. Karena melihat kesuksesan demi kesuksesan yang diraih dengan optimalisasi potensi dirinya (yang merupakan karunia Allah SWT) dalam mengolah alam, maka hawa nafsu semakin berperan dalam mengendalikan diri manusia sombong. Tidak ada kata puas dalam meraih segala macam bentuk kenikmatan yang ditawarkan dunia. Benarlah sabda Rasulullah SAW, "Jika manusia diberi emas setinggi gunung uhud, maka dia akan menginginkan lebih lagi".

Maka terjadilah persaingan dalam merebut sumber-sumber kenikmatan duniawi. Saling berlomba (munafasah, bukan musabaqoh) dalam menguasai harta dan tahta. Segala macam cara ditempuh untuk meraihnya. Maka kita saksikan kembali parade pertunjukan malapetaka: semburan lumpur lapindo, tanah longsor akibat pembalakan liar, banjir, kebakaran hutan, kerusuhan sosial berdarah akibat pertarungan perebutan kekuasaan secara tidak fair, kongkalikong pengusaha dan penguasa yang merugikan rakyat, peperangan, dan sebagainya.

Kemanusiaan dinomorduakan. Hawa nafsu diutamakan. Syariat Allah SWT diinjak-injak dan dihinakan, sementara aturan carut-marut yang menindas harkat dan martabat manusia dijunjung tinggi. Sejumlah alasan dipergunakan untuk pembenaran aksi-aksi kesombongan ini: demokrasi, toleransi, liberalisme, pluralisme, dan hak asasi manusia. Kesombongan berujung pada bencana.

Semua upaya untuk memerangi segala macam petaka itu harus dimulai dari pemberantasan akar masalahnya. Berantas kebodohan dan kesombongan. Secara sederhana dan garis besar, obat dari kebodohan adalah belajar, sedangkan obat kesombongan adalah dzikrul maut. Hal ini disadari masih memerlukan penjabaran yang lebih detail dan teliti. Tentunya setiap perjuangan memerlukan tahapannya sendiri yang harus dirumuskan dengan seksama dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dalam suasana ukhuwah Islamiyah. Setidaknya kita bisa memulainya dari diri kita sendiri.

Wallahu a'lam bisshowab.

Oleh Tomy Saleh / Vandi Muhammad
Pengajian Online Daarul Ilmi-Kebon Nanas
Jaktim

Kelebihan Surat Al-Ikhlas


Entah alasan karena pendeknya ayat ini entah apa, dari zamannya baru belajar ngaji di masa kanak-kanak dahulu hingga sekarang saya sangat suka mendengar alunan ayat Al-Qur'an ini hingga beberapa waktu yang lalu mendengarkan suatu kuliah yang menyatakan beberapa makna dan fadillah surat ini.

Nah, sekarang mari kita simak beberapa hal tentang surat pendek yang dahsyat ini.

“Au zubillah himinashsyaitan nirrajiim…bismillahirrahmannirrahiim”

Bacalah ayat ini sebelum anda memulai apa-apa saja karena dengan
bacaan ini akan keluarlah iblis dan syaitan yang berada didalam tubuh kita
dan juga di sekeliling kita, mereka akan berlari keluar seperti cacing kepanasan.

Sebelum anda masuk rumah, bacalah ayat di atas, kemudian bacalah surah
Al-Ikhlas sebanyak 3 kali. Masuklah rumah dengan kaki kanan dan dengan
membaca bismillah. Berilah salam kepada anggota rumah dan seandainya tidak
orang di rumah berilah salam karena malaikat rumah akan menyahut.

Amalkanlah bersholat karena salam pertama yang diucapkan pada akhir sholat
akan membantu kita menjawab persoalan kubur. Apabila malaikat memberi salam, seorang yang jarang bersholat akan sukar menjawab salam tersebut. Tetapi bagi mereka yang kerap bersholat, amalan dari pada salam yang diucap di akhir solat akan menolongnya menjawab salam malaikat itu.

Sabda Rasulullah S.A.W yang artinya:
“Barangsiapa membaca surah Al-Ikhlas sewaktu sakit sehingga dia meninggal
dunia, maka dia tidak akan membusuk di dalam kuburnya, akan selamat dia dari
kesempitan kuburnya dan para malaikat akan membawanya dengan sayap mereka
melintasi titian siratul mustaqim lalu menuju ke syurga”.
(Demikian diterangkan dalam Tadzikaratul Qurthuby).

Rasulullah SAW pernah bertanya sebuah teka-teki kepada umatnya “Siapakah
antara kamu yang dapat khatam Qur’an dalam jangka masa dua-tiga minit?” Tidak ada seorang dari sahabatnya yang menjawab. Malah Saiyidina Ummar telah
mengatakan bahawa mustahil untuk mengkhatamkan Qur’an dalam begitu cepat.
Kemudiann Saiyyidina Ali mengangkat tangannya. Saiyidina Ummar bersuara
kepada Saiyidina Ali bahawa Saiyidina Ali (yang sedang kecil pada waktu itu)
tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Lantas Saiyidina Ali membaca surah
Al-Ikhlas tiga kali. Rasulullah SAW menjawab dengan mengatakan bahawa
Saiyidina Ali betul . Membaca surah Al-Ikhlas sekali ganjarannya sama dengan
membaca 10 jus kitab Al-Quran. Lalu dengan membaca surah Al-Ikhlas sebanyak
tiga kali qatamlah Quran kerana hal itu sama dengan membaca 30 jus Al-Quran.

Berkata Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Ketika saya
(Rasulullah SAW) israk ke langit, maka saya telah melihat Arasy di atas
360,000 sendi dan jarak jauh antara satu sendi ke satu sendi ialah 300,000
tahun perjalanan. Pada tiap-tiap sendi itu terdapat padang sahara sebanyak
12,000 dan luasnya setiap satu padang sahara itu seluas dari timur hingga ke
barat. Pada setiap padang sahara itu terdapat 80,000 malaikat yang mana
kesemuanya membaca surah Al-Ikhlas. Setelah mereka selesai membaca surah
tersebut maka berkata mereka: Wahai Tuhan kami,sesungguhnya pahala dari
bacaan kami ini kami berikan kepada orang yang membaca surah Al-Ikhlas (baik
ia laki-laki maupun perempuan)”.

Sabda Rasulullah SAW lagi:
“Demi Allah yang jiwaku ditanganNya, sesungguhnya Qul Huwallahu Ahadu itu
tertulis di sayap malaikat Jibrail a.s, Allahhus Somad itu tertulis di sayap
malaikat Mikail a.s, Lamyalid walam yuulad tertulis pada sayap malaikat
Izrail a.s, Walam yakullahu kufuwan ahadu tertulis pada sayap malaikat
Israfil a.s.”

NB:
Seandainya kawan-kawan ingin mengumpulkan saham akhirat, sampaikanlah ilmu
ini kepada kawan-kawan yang lain. Seperti sabda Rasulullah SAW ‘Sampaikanlah
pesananku walaupun satu ayat‘.

Sesungguhnya apabila matinya seseorang anak Adam itu, hanya 3 perkara yang akan dibawanya bersama :
1) Sedekah/amal jariahnya
2) Doa anak-anaknya yang soleh
3) Ilmu yang bermanfaat yang disampaikannya kepada orang lain.

Sumber:

Heri Noto@Blog: Manusia Biasa

Memaknai Bulan Ramadhan



Setiap waktu yang diberikan oleh Allah itu adalah anugerah tetapi Allah juga memberikan satu bulan 'bonus' bagi para hamba-Nya untuk lebih dapat menempa diri agar menjadi insan yang lebih baik lagi bagi hamba-Nya yang berhasil dalam satu bulan 'penempaan'.

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana seluruh umat muslim diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh sebagaimana yang telah diperintahkan Allah dalam firman-Nya pada Surat Al-Baqarah/183; "Ya Ayyuhal-Ladzina Amanu Kutiba 'Alaikumush-Shiyamu Kama Kutiba 'Alal-Ladzina Min Qablikum La'allakum Tattaqun" -- ''Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.''

Bulan Ramadhan adalah sebuah momentum mengevaluasi diri dimana setiap muslim perlu melakukan kajian kritis, mengenai posisi diri atau kondisi diri, kualitas diri, baik dihadapan manusia maupun dihadapan Sang Khalik.

Aktivitas puasa selama bulan Ramadhan juga dapat melatih kita untuk mendidik jiwa. Menurut Al-Muhasibi, jika seseorang tahu bahwa tidak bisa maksimal untuk mendidik jiwanya, maka hendaknya dia mulai memberikan sentuhan rasa lapar. Ketika merasa lapar itulah jiwa seseorang biasanya mulai tunduk dan patuh, sehingga seseorang mulai bisa mencela jiwanya sendiri dan mengingatkannya pada adzab Allah dan tempat kembalinya kelak di sisi Allah.

Namun, adalah sebuah kerugian besar, bila bulan Ramadhan yang segera kita tinggalkan ini hanya terlewatkan sebagai bulan menahan lapar dan haus semata sebagaimana sabda Rasulullah: "Kam Min Sha-im, Wa Laisa Lahu Illal-'Athasy Wal-Ju' --- "Banyak orang yang melakukan puasa, tapi tidak ada hasil apa pun kecuali, hanya haus dan lapar".

Puasa merupakan perisai dari panasnya api neraka, juga perisai dari hawa nafsu yang membelenggu. Selain itu puasa juga mempunyai keutamaan yang tidak ada dalam ibadah yang lain, yaitu pengaitannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang telah berfirman dalam hadits qudsy,

“Puasa itu bagi-Ku dan Aku memberi balasan dengannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Kelebihan puasa bisa dilihat dalam dua makna berikut:

1. Puasa termasuk amal yang tersembunyi dan amal batin yang tidak bisa dilihat orang lain, sehingga tidak mudah disusupi riya’.

2. Sebagai cara untuk menundukkan syahwat. Syahwat bisa menjadi kuat karena makanan dan minuman. Selagi lahan syahwat tetap subur, maka syetan bisa berkeliaran di tempat gembalaan yang subur itu. Tapi jika syahwat ditinggalkan, maka jalan ke sana juga menjadi sempit.

Agar puasa Ramadhan tidak kehilangan makna, maka kita juga harus mengisinya dengan amalan-amalan ibadah lainnya, diantaranya adalah shalat tarawih berjamaah, bersedekah, dan membaca Al-Qur’an. Shalat tarawih berjamaah merupakan amalan yang sudah ada sejak zaman Rasulullah, hanya saja beliau tidak terus menerus melaksanakannya secara berjamaah, karena khawatir akan dianggap sebagai sebuah kewajiban. Tradisi shalat tarawih berjamaah dihidupkan lagi oleh Khalifah Umar Ibnu Khattab.

Beberapa kecenderungan yang kurang tepat dalam mengisi bulan Ramadhan;

1. Adalah hal yang bagus bagi kita untuk bergembira menyambut bulan yang mulia ini. Biasanya, kita begitu bergairah datang ke mesjid untuk melakukan ibadah tarawih yang sayangnya,umumnya, hanya terjadi di sepuluh hari yang pertama saja.

2. Saat berbuka puasa, banyak orang yang begitu bermewah-mewah menghadirkan penganan untuk berbuka sehingga menjadi konsumtif dan tentu saja menjadi hal yang berlawanan dengan apa yang diajarkan puasa yaitu untuk menahan hawa nafsu.

3. Pada paruh kedua bulan Ramadhan, biasanya banyak orang yang lebih memikirkan untuk dapat tampil baru dan gaya sebagai perayaan hari kemenangan pada 1 Syawal, yaitu yang sering kita sebut sebagai hari Lebaran sehingga terjebak pada pola konsumtif yang sangat ironis dengan perintah puasa dan tentu saja hal demikian adalah suatu yang berlebihan dan jauh dari kesederhanaan yang dianjurkan. Memang bagus untuk tampil serba baru di hari nan fitri tetapi tampil baru di sini sebenarnya bukan pada penampilan fisik tetapi lebih pada penampilan rohani.

4. Silaturahmi bukan sebagai ajang pamer. Silaturahmi dan saling bermaaf-maafan dengan keluarga dan handai taulan di hari Idul Fitri tentu saja sangat dianjurkan tetapi banyak orang yang untuk melakukannya sampai harus jor-joran dan memaksakan diri. Makna lebaran menjadi sangat terdegradasi karena masih sangat berpikir duniawi dan materialistik yang sekali lagi kontraproduktif dengan hakikat Ramadhan. Banyak dari kita berupaya untuk tampil bermewah-mewahan sehingga akan dapat menyulut kecemburuan sosial.

Petuah Buya HAMKA



Buya Hamka dikenal tidak saja sebagai seorang ulama besar tetapi juga sebagai seorang sastrawan. Karya- karya beliau di bidang sastra antara lain adalah "Tenggelamnya kapal Vander Wijk" dan Tassawuf Modern.

Sementara itu, karya fenomenal beliau adalah tafsir Al-Azhar yang dikerjakan saat beliau berada dalam tahanan politik presiden Soekarno, yang beberapa tahun kemudian jenazahnya diimamkan beliau. Sungguh sosok buya Hamka adalah salah seorang yang patut diteladani. Tidak ada dendam karena semua tindakan semata-mata hanya karena Allah saja.

Kerasnya ujian yang dihadapi beliau dalam menegakkan kebenaran yang diyakininya bukan berarti menjadi penghalang bagi beliau untuk tetap berkarya dan berprestasi yang terefleksikan pada salah satu karya beliau berupa petuah berikut ini:

Tahan menderita kepahitan hidup sehingga penderitaan menjadi kekayaan adalah bahagia.

Kenal akan keindahan dan sanggup menyatakan keindahan itu kepada orang lain adalah bahagia.

Sewaktu kecil anak-anak lelaki menjadi perhiasan mata karena lucunya, karena dia tumpuan harapan, maka setelah dia besar, dia menjadi kebanggaan karena kejayaan hidupnya.


Ikhlas dan sejati akan bertemu di dalam senyuman anak kecil, senyum yang sebenarnya senyum,senyum yang tidak disertai apa-apa.

Kegunaan harta tidak dimungkiri - Tetapi ingatlah yang lebih tinggi ialah cita-cita yang mulia

Adil ialah menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar,
mengembalikan hak yang empunya dan jangan berlaku zalim di atasnya.

Berani menegakkan keadilan, walaupun mengenai diri sendiri, adalah puncak segala keberanian

Yang benar tetap benar, yang salah tetap salah. Kaya dan miskin dihadapan keadilan adalah sama.

Berkisar dan berpaling dari keadilan kerana dorongan hawa nafsu hanyalah mempersulitkan diri sendiri.

Kata - kata yang lemah dan beradab dapat melembutkan hati dan manusia yang keras.

Hawa nafsu membawa kesesatan dan tidak berpedoman dan akal menjadi pedoman menuju keutamaan. Hawa nafsu menyuruh mengelamun, berangan-angan, tetapi akal menyuruh menimbang.

Tidak semua orang yang menolak kebenaran itu tidak tahu bahwa yang ditolakkanya itu benar.

Tiga rukun yang benar dan perlu dalam mencapai utama yaitu dengan tabiat, dengan pengalaman dan dengan pelajaran.

Adapun musuh yang sentiasa menghalangi manusia mencapai keutamaan ialah hawa - nafsu yang menyebabkan marah dan dengki.

Sumber: Dunia Sastra Indonesia