December 28, 2010

Kerinduan nan Sungkan




Sejenak ingat dirimu

Ingin rasanya kembali

menyapa dirimu

becanda seperti dulu lagi

tanpa jarak, tanpa prasangka

tertawa lepas, riang mengisi hari-hari …

Kini,

yang tersisa hanyalah sebuah kerinduan…

aku rindu…

begitu rindu….

kerinduan nan sungkan….

Aaaaaarghhh!!!

Musisi 80-an Sepertinya Harus Turun Gunung Lagi… (Catatan Pinggir “Live Performance” Fariz RM @Friday Jazz Night, Pasar Seni Ancol)



Foto: Neilstha Firman–80-an

Barangkali banyak pihak yang akan sepakat menyatakan bahwa salah satu era emas musik Indonesia itu terjadi pada era 80-an dimana suguhan musik-musik yang dihadirkan ke masyarakat begitu variatifnya, baik dari jenis musik maupun tematiknya. Masyarakat tentu masih ingat era lagu-lagu “menye-menye” ala Pance Pondaag, Obbie Messakh, Deddy Dores yang umumnya dirilis oleh label JK Records, begitu juga Rhoma Irama dan kawan-kawan dari musik dangdut, Krakatau, Karimata mewakili jazz fusion, God Bless, Makara dan lain-lain mewakili rock, hingga musik-musik pop progressive ala Fariz RM, Iwan Fals, Mus Mujiono, Oddie Agam dan banyak lagi.

Selain lagu-lagu pop sentimentil ala JK Records, umumnya musik-musik dari genre musik lainnya juga menghadirkan tematik yang menyuarakan berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat seperti “Judi” yang dibawakan oleh Rhoma Irama, Makara dengan ‘Sangkakala”, “Fabel” dan tentu saja “Laron-laron”, Iwan Fals dengan “Wakil Rakyat”, “Bung Hatta”, “Kereta Tiba Pukul Berapa?” dan lain-lain, God Bless dengan “Kehidupan”, “Semut Hitam”, “Badut-badut Jakarta” dan masih banyak lagi yang bertutur atau menyentil situasi sosio-politik dan mampu mendeskripsikan kehidupan ‘wong cilik’ yang masih mayoritas di negeri ini. Sementara nama-nama seperti Fariz RM, Mus Mujiono, Oddie Agam dan kawan-kawan yang walaupun umumnya hadir dengan lagu-lagu bertema cinta, tetapi karena sajian musiknya yang ‘rancak’ dan variatif, maka karya-karya mereka itu masih asyik disimak hingga sekarang.

Membandingkan dengan lagu-lagu Indonesia sekarang yang umumnya ditampilkan oleh berbagai band pria, menurut saya, karya-karya band-band itu sepertinya hanya bertahan dalam waktu yang relatif singkat saja. Mungkin hal ini terjadi karena keseragaman tematik dan genre musik yang dihadirkan sehingga gampang membuat orang bosan. Terasa sekali dominasi industri musik sehingga band-band itu tampil sesuai dengan selera pasar yang sebenarnya mulai jenuh untuk tidak mengatakan sebagai sudah ‘jengah’. Musik Indonesia sekarang sepertinya hanya bicara soal kuantitas ekonomis saja.

Sebagai sebuah karya seni, musik sejatinya dapat menjadi salah satu inspirasi kehidupan, pembuai imajinasi inspiratif yang dapat mengiringi perjalanan kehidupan seorang penikmatnya. Musik-musik yang segar menurut saya akan dapat menjadi media hiburan yang membakar semangat seseorang dalam mengarungi kehidupannya. Namun begitu, ada juga upaya dari berbagai pemusik yang mencoba mencari alternatif untuk menyegarkan musik Indonesia dengan tampil secara independen seperti nama-nama band Koil, KJP dan lain-lain yang sayangnya, karena distribusi dan promosi yang terbatas, gaung mereka seperti tidak bergema sama sekali dibandingkan dengan ‘mainstream’ musik yang tengah “bertahta”.

Salah satu upaya lainnya dalam menyegarkan kembali musik Indonesia adalah dengan dengan menggiatkan kembali panggung-panggung musik yang menghadirkan berbagai musisi lintas zaman dan genre. Barangkali itulah salah satu alasan yang membuat Donny Hardono dengan Donny Sound System (DSS) -nya dan Pasar Seni Ancol menggelar kembali Friday Jazz Night di Pasar Seni Ancol yang sudah cukup lama tenggelam. Panggung musik ini yang walaupun bertitel Jazz menghadirkan berbagai musisi lintas genre. Sebulan yang lalu, panggung Pasar Seni menampilkan salah seorang musisi kharismatik Indonesia, Fariz RM yang didukung sejumlah musisi seperti gitaris Donny Suhendra, perkusionis Iwan Wiradz dan kawan-kawan yang tegabung dalam Anthology Band.

Pilihan untuk menampilkan musisi Fariz RM, menurut saya, adalah suatu hal yang sangat tepat sekali menuju upaya itu. Musisi multi-instrumentalis ini terasa istimewa menilik perjalanan karir bermusiknya yang telah menerbitkan sekitar 1700 karya musik selama rentang 30-an tahun karir bermusiknya ini. Selain itu, kiprah “pengembaraan”-nya di sejumlah band dan kerjasama dengan berbagai musisi lintas genre hingga “rangkap” jabatannya pada berbagai posisi instrumen musik di banyak group band, yang dilakukannya pada satu periode waktu tertentu mungkin menjadi alasan panitia menampilkannya.

Panggung ketika itu terasa sangat asyik dan mendekatkan para penikmat musik dengan para musisi yang tampil. Musisi tidak tampil dalam balutan selebritinya tetapi dalam kapasitasnya sebagai seniman hingga suasana yang tercipta “menyatu” seperti yang diinginkan Fariz RM saat mengawali penampilannya, “Saya menginginkan keakraban di sini dan semoga para penonton bisa “menyatu” menikmati karya-karya saya.” Tak lupa, Fariz juga mengajak para penonton untuk beramal sebagai bentuk kepeduliannya sebagai seorang warga negara Indonesia yang tengah dilanda musibah dan malam itu, para penonton mampu menggalang dana senilai 4 juta lebih. Setelah itu, para penonton “hanyut mengalir” menyimak dan bernyanyi bersama sang idola hingga tak terasa waktu berjalan hingga jam 10:30 saat panggung usai.



Fariz RM sendiri tampil prima layaknya dua puluhan tahun silam. Penonton juga mendapat kejutan dengan kemunculan tiba-tiba salah seorang musisi kharismatik Indonesia lainnya, Mus Mujiono yang hadir sebagai penonton. Fariz mendaulat sahabatnya itu untuk tampil bersama. “No, gue tahu loe ada di situ, ayo sini ke panggung,” ajak Fariz kepada Mus Mujiono. Dan penonton pun mendapatkan kepuasannya dengan penampilan “George Benson” Indonesia itu membawakan salah satu “lagu wajib”-nya, ‘Masquarade’.

Bagi saya, penampilan Fariz RM bersama Anthology Band menjadi sebuah ‘oase’ dahaganya saya akan penampilan musik-musik Indonesia berkualitas. Ditengah menikmati suguhan musik yang dihadirkan saya membayangkan musisi-musisi seperti Fariz RM, Mus Mujiono, dan lain-lainnya sepertinya memang harus “turun gunung lagi” dengan membuat karya-karya rekaman terbaru mereka sehingga karya-karya musik Indonesia kembali semarak.

Sebuah kejutan lagi bagi saya seolah menjawab apa yang ada di benak saya malam itu ketika Fariz RM melontarkan bahwa ia sedang bekerjasama dengan Erwin Gutawa untuk menggarap album terbarunya yang rencananya akan dirilis Januari 2011. Wah…Sangat ditunggu nih…:)

Rinus Michel, Total Football Belanda dan Barcelona



Rasanya para penggemar bola di dunia sekarang ini akan sepakat bila Barcelona disebut sebagai klub yang paling impresif dan menghibur. Apalagi bila menyaksikan bagaimana tim yang sekarang ditangani oleh Joseph Guardiola yang notabene adalah salah satu anak didik Johan Cruyff, seorang maestro Total Football yang pernah menangani klub Catalan tersebut pada akhir 80-an dan awal dekade 90-an, itu mampu membuat rival utamanya di tanah Spanyol, Real Madrid keteteran dan kemasukan lima gol tanpa balas saat kedua tim bertemu dalam laga klasik, El Clasico akhir November silam. Padahal seperti yang kita ketahui, Real Madrid saat ini ditangani oleh Jose Mourinho yang disebut tahu betul tentang rahasia dapur Barca karena ia adalah anak didik dari seorang meneer Belanda lainnya yang pernah menangani Barca, Louis van Gaal saat Mourinho menjadi penerjemah dan asisten sang meneer.

Gaya sepakbola Total Football Belanda itu ternyata juga mengilhami timnas Spanyol yang ironisnya mampu mengalahkan tuannya sendiri pada Final Piala Dunia Juli lalu. Pasalnya, di timnas Spanyol sekarang, bercokol banyak pemain Barcelona yang sekaligus menjadi pemain-pemain utama negeri matador itu. Mereka antara lain adalah kapten tim, Charles Puyol, duo maut lapangan tengah:Andreas Iniesta, Xavi Hernandez, Pedro dan lain-lain.

Ya, sepakbola ala Barcelona atau acap disebut juga dengan Barca ini memang sangat kental dengan sepakbola negeri kincir angin Belanda. Hal itu diakui sendiri oleh Cruyff, “Ya, saya pikir sangat fantastis bagi Spanyol karena menerima sesuatu yang bukan milik Anda (transfer ilmu “Total Football”). Tentu ini merupakan hasil proses panjang. Spanyol menyediakan sepak bola yang bagus untuk Belanda dan Barca.”

“Orang Catalonia yang sekarang berusia 45 atau 50 tahun mulai melihat sepak bola Belanda untuk pertama kalinya sekitar 36 tahun lalu, ketika saya masih bermain di sana. Kemudian pada tahun 1990-an, mereka kembali melihat (gaya sepak bola Belanda) pada Barcelona ketika saya melatih. Jadi, sepakbola Spanyol sekarang lebih Belanda ketimbang Spanyol. Mereka tumbuh dalam sepak bola Belanda,” lanjut Cruyff.

Johan Cruyff masih dianggap sebagai pelatih tersukses Barca sampai saat ini. Selama sembilan tahun membesut Barca (1987-1996). Ayah dari Jordy Cruyff, yang sempat merumput di Old Trafford itu, mampu memberikan 11 piala (empat gelar La Liga, satu piala Liga Champions, satu Piala Winners, satu Piala Raja, satu Piala Super Eropa dan tiga Piala Super Spanyol). Dengan catatan demikian, tak heran bila Barca selalu ‘patuh’ akan nasehat dan arahan Cruyff hingga saat ini. Kesuksesan Pep Guardiola sekarang tak lepas dari jasa meneer Belanda lainnya, Frank Rijkaard yang direkomendasikan Cruyff.

Barcelona adalah salah satu klub pelopor dibentuknya kompetisi La Liga atau Divisi Satu pada musim 1928/29, bersama dengan Real Madrid dan Athletic Bilbao. Barca berhasil menjadi juara pada musim pertama La Liga. Ketiga klub tersebut belum pernah terdegradasi sampai saat ini. Tapi dalam soal prestasi, hanya Real Madrid yang mampu menyaingi Barca. Baik Barca maupun Real Madrid menjadi dua klub tersukses di Spanyol, Eropa dan dunia.Barcelona bahkan selum pernah absen dalam berbagai kompetisi Eropa sejak tahun 1955, baik di Liga Champions, Piala UEFA, Piala Winners, sampai sekarang. Stadion Camp Nou adalah markas Barca yang mampu menampung sekitar 98.700 penonton.

Kapan Total Football Mulai Mempengaruhi Gaya Barcelona

Era sepakbola Belanda di Barcelona dimulai ketika Rinus Michel, si arsitek Total Football itu mulai merantau ke Spanyol dan berlabuh di Barcelona pada 1971 setelah sukses bersama Ajax Amsterdam. Anak didiknya di Ajax yang mampu menerjemahkan kemauan si arsitek, Cruyff menyusul dan mulai meraih sukses dengan meraih sukses pertamanya di tanah Spanyol dengan meraih gelar Liga Spanyol pada tahun 1974.

Johan Cruyff sendiri lebih dari satu dekade kemudian mengikuti sang guru untuk menakhodai Barca pada 1987 setelah sukses bersama Ajax dengan gelar Piala Winners Eropa. Cruyff pun kemudian membawa jenderal pertahanan timnas Belanda ketika itu, Ronald Koeman. Koeman lah yang menjadi penentu sukses Barca untuk merebut Piala Champions untuk pertama kalinya pada tahun 1992. Koeman yang terkenal dengan tendangan geledeknya itu mampu menjebol gawang salah satu kiper terbaik dunia masa itu, Pagliuca sekaligus membuyarkan harapan klubnya Sampdoria untuk meraih gelar Piala Champions untuk pertama kalinya.

Setelah tidak lagi menjadi pelatih, kerjasama Cruyff dan Belanda di Barca tetap berlanjut. Atas rekomendasi Cruyff, Louis van Gaal kemudian juga sempat melatih Barca dengan memboyong beberapa skuad Tim Oranye seperti Patrick Kluivert, Bogaard, Cocu, De Boer bersaudara dan lainnya. Dan terakhir adalah Frank Rijkaard. Rijkaard datang saat Barca dalam keadaan ‘runyam’. Sentuhan Rijkaard kemudian sukses memberikan gelar La Liga pada tahun keduanya dan mempersembahkan Champions Cup pada tahun 2006. Rijkaard masih dianggap sebagai bagian dari raihan prestasi Joseph Guardiola saat ini. Keindahan sepakbola Barca sekarang bermula dari hasil karya Rinus Michel. “Rome was not built in a night”. Ya, tidak ada kesuksesan dalam semalam. Semua keberhasilan merupakan akumulasi dari upaya berkelanjutan.

September 13, 2010

Pesona Jakarta dan "Laron-laron"





Secercah cahaya dalam kegelapan
dian menyala dan membagi terang
laron-laron terpesona datang menghampiri
namun hangus dalam nyala api dia yang panas membara oh oh wo woh….

namun dian tetap indah dan menyala megah
beribu laron datang lagi dan kembali musnah
tiada sadar bahaya dibalik keindahan berselubung berjuta kehangatan dan kenikmatan dunia wo hoo wo ho… wo wo wo ho….

reff :
apakah engkau juga laron yang terpedaya apakah engkau ingin jadi laron tertipu

laron-laron desa berduyun-duyun ke kota
menuju gemerlap lampu-lampu yang indah
dengan harapan dan impian tentang nirwana namun apa yang ditemui hanyalah sejuta kecewa

Lagu “Laron-laron” di atas adalah milik salah satu band terbesar tanah air yaitu Makara yang dirilis lebih dari dua dekade lalu. Lagu itu sangat pas menggambarkan fenomena urbanisasi yang terjadi di ibu kota. Barangkali lagu itu juga dimaksudkan sebagai kritik kepada para penyelenggara negara dari kelompok musik progressive rock itu melihat ketimpangan pembangunan yang terjadi di Indonesia saat itu sehingga banyak orang, termasuk penulis sendiri, dan juga sebagian Anda hehehehe, memilih tinggal dan bekerja di Jakarta.

Dua puluh tahun lebih kemudian, lagu tersebut ternyata masih sangat relevan dengan fenomena yang ada yaitu Jakarta yang semakin sesak. Biasanya, fenomena arus urbanisasi terjadi saat seusai mudik lebaran dimana para pemudik membawa para sanak dan handai taulan mereka untuk mengadu peruntungan di Jakarta. Jadi tak heran bila Jakarta yang biasanya lebih lengang di hari-hari lebaran, kini sepertinya nyaris tidak berubah sama sekali dimana kemacetan masih terjadi dimana-mana. Kalau sudah begitu, Anda bisa bayangkan bagaimana beban Jakarta selanjutnya seiring dengan arus balik para pemudik yang membawa serta para kerabat dan handai taulan mereka ke kota yang telah berusia lebih dari 450 tahun ini.

Mengapa Jakarta menjadi magnet?

Terdapat banyak alasan tentunya mengapa Jakarta menjadi pilihan. Bagi penulis pribadi, yang memang kebetulan telah lama menetap dan tinggal di Jakarta dimana diboyong oleh orang tua saat memasuki usia sekolah SMP yang tentunya telah memiliki ikatan emosional yang kuat dengan salah satu kota terpolusi terbesar di dunia ini. Sehingga, hal demikian juga menjadi suatu alasan dari penulis sendiri untuk tetap menyukai tinggal di kota ini walaupun dalam beberapa tahun belakangan ini penulis mulai mengeluhkan minimnya waktu untuk dapat menikmati diri sendiri dan bersosialisasi akibat kemacetan akut yang setiap hari ditemui.

Kemacetan itu tidak saja membuat jenuh tetapi juga telah menyebabkan menurunnya produktivitas penulis dengan kegiatan-kegiatannya. Tetapi, barangkali sama dengan Anda, mempertimbangkan untuk tinggal di kota lain? rasanya ada perasaan berat juga ya? Itu alasan dari penulis, lalu bagaimana dengan Anda dan juga para pendatang baru yang memilih mencoba peruntungannya di Jakarta ini? Lalu, apakah hubungan tulisan ini dengan lagu Makara di atas? Bagi penulis, lagu itu sekedar “reminder” saja bagi siapapun yang ingin datang ke Jakarta dan barangkali senafas juga dengan Makara yang hendak menyampaikan, bahwa pemerataan pembangunan memang belum terjadi di Indonesia tercinta ini. Pemerataan dimaksud bukan hanya masalah pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan dari berbagai dimensi lainnya. Sebab, berkaca dari pengalaman penulis saat ditempatkan di salah satu kota lainnya oleh perusahaan dimana dahulu penulis bekerja, ada “atmosfir” yang sangat berbeda memang. Intinya, memang pada pemerataan di segala bidang.

September 12, 2010

HALAL BIHALAL



a. Taubat (Tobat)

Al-Quran mengisyaratkan adanya dua pelaku tobat, yakni Allah dan manusia. Di sini dapat ditambahkan bahwa ada dua macam tobat (kembalinya)Allah. Pertama, lahir sebelum lahirnya tobat manusia secara aktual. Ketika itu ia baru dalam bentuk keinginan dan kesadaran tentang dosa-dosanya. Tobat pertama Tuhan ini antara lain tercermin dari firman-Nya dalam Al-Quran surat Al-Baqarah
ayat 186,

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,
maka sesungguhnya Aku dekat...

Kata 'ibadi (hamba-hamba-Ku) baik yang ditulis dengan memakai
huruf Ya' (sebanyak 17 kali) maupun tidak (4 kali), semuanya
digunakan untuk menunjukkan hamba Allah yang taat atau yang
bergelimang di dalam dosa tetapi berkeinginan kembali
kepada-Nya.

Perhatikan firman-Nya:

Masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku dan masuklah
ke dalam surga-Ku (QS Al-Fajr [89]: 29-30).

Dan firman-Nya:

Wahai hamba-hamba-Ku yang bergelimang dalam dosa (dan
telah menyadari dosanya sehingga ingin kembali),
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah (QS
Al-Zumar [39]: 53)

Surat Al-Baqarah ayat 186 di atas menjelaskan bahwa Allah
dekat dengan hamba-hamba-Nya, walaupun mereka masih
bergelimang dalam dosa dan maksiat tetapi telah memiliki
kesadaran untuk bertobat.

Tobat Allah (kembalinya Allah) terhadap yang berkeinginan
dekat kepada-Nya, lebih jelas terlihat pada ayat berikut:

Maka Adam menerima dan Tuhan-Nya (petunjuk) berupa
kalimat-kalimat, dan Dia bertobat (mengampuninya) (QS
Al-Baqarah [2]: 37).

Pemberian kalimat-kalimat itu memberi isyarat bahwa Allah
membuka pintu tobat-Nya, dan memberi taufik kepada mereka yang
berdosa, yang terketuk hatinya untuk kembali. "Penerimaan
kalimat-kalimat dari Tuhan" itulah yang mengantarkan Adam
mengajukan permohonan ampun kepada Allah.

Langkah pertama dari tobat Allah ini, antara lain dipahami
pula dari redaksi-redaksi fashilat (penutup) ayat-ayat yang
berbicara tentang tobat-Nya.

Perhatikanlah kedua ayat berikut ini:

Allah hendak menerangkan kepada kamu dan mengantarmu ke
jalan orang-orang sebelum kamu (para Nabi dan
orang-orang saleh) dan hendak menerima tobatmu. Allah
Maha Mengetahui lagi Bijaksana (QS Al-Nisa' [4]: 261.

Maka barangsiapa bertobat (di antara pencuri-pencuri
itu) sesudah melakukan kejahatannya, dan memperbaiki
diri, sesungguhnya Allah bertobat kepadanya (menerima
tobatnya). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang (QS Al-Ma-idah [5]: 39).

Penutup surat An-Nisa ayat 26 mengisyaratkan langkah pertama
tobat Allah, yang dilakukan-Nya kepada mereka yang diketahui
terketuk hatinya atau memiliki kesadaran terhadap dosanya.
Langkah tersebut dilakukan oleh Allah karena Dia Maha
Mengetahui segala sesuatu, termasuk bisikan-bisikan hati
manusia, dan karena Dia Maha Bijaksana. Dalam posisi inilah
Allah memberi petunjuk kepada Adam dengan kalimat-kalimat yang
wajar diucapkan untuk memohon ampun, karena betapapun, manusia
selalu membutuhkan petunjuk-Nya, lebih-lebih pada saat ia jauh
dari Allah Swt.

Penutup surat Al-Ma-idah juga berbicara tentang tobat A1lah,
tetapi kali ini dia benar-benar telah "tobat" (kembali) ke
posisi semula. Namun harus disadari bahwa hal ini baru terjadi
jika sang hamba yang berdosa bertobat dan memperbaiki diri.
Allah mendekatkan diri dan kembali ke posisi semula,
disebabkan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

b. Al-'Afw (Maaf)

Kata al-'afw terulang dalam Al-Quran sebanyak 34 kali. Kata
ini pada mulanya berarti berlebihan, seperti firman-Nya:

Mereka bertanya kepadamu tentang hal yang mereka nafkahkan
(kepada orang). Katakanlah, "al-'afw" (yang berlebih dari
keperluan) (QS Al-Baqarah [2]: 219).

Yang berlebih seharusnya diberikan agar keluar. Keduanya
menjadikan sesuatu yang tadinya berada di dalam (dimiliki)
menjadi tidak di dalam dan tidak dimiliki lagi. Akhirnya kata
al-'afw berkembang maknanya menjadi keterhapusan. Memaafkan,
berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam
hati.

Membandingkan ayat-ayat yang berbicara tentang tobat dan maaf,
ditemukan bahwa kebanyakan ayat tersebut didahului oleh usaha
manusia untuk bertobat. Sebaliknya, tujuh ayat yang
menggunakan kata 'afa, dan berbicara tentang pemaafan semuanya
dikemukakan tanpa adanya usaha terlebih dahulu dari orang yang
bersalah. Perhatikan ayat-ayat berikut:

Allah mengetahui bahwa kamu tadinya mengkhianati dirimu
sendiri (tidak dapat menahan nafsumu sehingga
bersetubuh di malam hari bulan Ramadhan dengan dugaan
bahwa itu haram) maka Allah memaafkan kamu (QS
Al-Baqarah [2]: 187).

Allah memaafkan kamu, mengapa engkau memberi izin
kepada mereka, sebelum engkau mengetahui orang-orang
yang benar (dalam alasannya) dan sebelum engkau
mengetahui pula para pembohong? (QS Al-Tawbah [9]: 43).

Balasan terhadap kejahatan adalah pembalasan yang
setimpal, tetapi barangsiapa yang memaafkan dan berbuat
baik, ganjarannya ditanggung oleh Allah (QS Al-Syura
[42]: 40).

Perhatikan juga firman-Nya dalam surat Ali-'Imran ayat 152 dan
155, juga Al-Maidah ayat 95 dan lOl. Ternyata tidak ditemukan
satu ayat pun yang menganjurkan agar meminta maaf, tetapi yang
ada adalah perintah untuk memberi maaf.

Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada
Tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah? (QS Al-Nur
[24): 22).

Kesan yang disampaikan oleh ayat-ayat ini adalah anjuran untuk
tidak menanti permohonan maaf dari orang yang bersalah,
melainkan hendaknya memberi maaf sebelum diminta. Mereka yang
enggan memberi maaf pada hakikatnya enggan memperoleh
pengampunan dan Allah Swt. Tidak ada alasan untuk berkata,
"Tiada maaf bagimu", karena segalanya telah dijamin dan
ditanggung oleh Allah Swt.

Perlu dicatat pula, bahwa pemaafan yang dimaksud bukan hanya
menyangkut dosa atau kesalahan kecil, tetapi juga untuk dosa
dan kesalahan-kesalahan besar.

Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 51-52, berbicara tentang
pemaafan Allah bagi umat Nabi Musa a.s. yang mempertuhankan
lembu:

Dan (ingatlah) ketika Kami berjanji kepada Musa
(memberikan Taurat) sesudah empat puluh hari, lalu kamu
menjadikan anak lembu (yang dibuat dari emas) untuk
disembah sepeninggalnya, dan kamu adalah orang-orang
yang zalim. Kemudian sesudah itu Kami maafkan
kesalahanmu, agar kamu bersyukur (QS Al-Baqarah [2]:
51-52).

c. Al-Shafh (Lapang Dada)

Kata al-shafh dalam berbagai bentuk terulang sebanyak delapan
kali dalam Al-Quran. Kata ini pada mulanya berarti lapang.
Halaman pada sebuah buku dinamai shafhat karena kelapangan dan
keluasannya.

Dari sini, al-shafh dapat diartikan kelapangan dada. Berjabat
tangan dinamai mushafahat karena melakukannya menjadi
perlambang kelapangan dada.

Dari delapan kali bentuk al-shafh yang dikemukakan, empat di
antaranya didahului oleh perintah memberi maaf.

Perhatikan ayat-ayat berikut:

Apabila kamu memaafkan, dan melapangkan dada serta
melindungi, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
penyayang (QS Al-Thaghabun [64]: 14).

Hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada! Apakah
kamu tidak ingin diampuni oleh Allah? (QS Al-Nur [24]:
22) .

Maafkanlah mereka dan lapangkan dada. Sesungguhnya
Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan
(terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya) (QS
Al-Ma-idah [5]: l3. Juga baca surat Al-Baqarah [2]:
lO9).

Ulama-ulama Al-Quran seperti Ar-Raghib Al-Isfahani menyatakan
bahwa al-shafa lebih tinggi kedudukannya dari al-'afw (maaf).
Pernyataan yang dikemukakan itu dapat dipahami melalui alasan
kebahasaan sebagai berikut.

Seperti dikemukakan terdahulu dari kata al-shafh lahirlah
shafhat yang berarti halaman. Jika Anda memiliki selembar
kertas yang ditulisi suatu kesalahan, lantas kesalahan itu
ditulis dengan pensil, Anda tentu dapat mengambil penghapus
karet untuk menghapusnya. Seperti demikianlah ketika Anda
melakukan 'afw (memberi maaf). Seandainya kesalahan pada
kertas itu ditulis dengan tinta, tentu Anda akan menghapusnya
dengan Tipp Ex agar tidak terlihat lagi, dan di sini Anda
melakukan takfir seperti yang akan dijelaskan kemudian.
Betapapun Anda menghapus bekas kesalahan, namun pasti sedikit
banyak, lembaran tersebut tidak lagi sama sepenuhnya dengan
lembaran baru. Malah barangkali kertas itu menjadi kusut. Nah,
di sinilah letak perbedaan antara al-shafh yang mengandung
arti lapang dan lembaran baru dengan takfir. Al-Shafh menuntut
seseorang untuk membuka lembaran baru hingga sedikit pun
hubungan tidak ternodai, tidak kusut, dan tidak seperti
halaman yang telah dihapus kesalahannya.

Mushafahat (jabat tangan) adalah lambang kesediaan seseorang
untuk membuka lembaran baru, dan tidak mengingat atau
menggunakan lagi lembaran lama. Sebab, walaupun kesalahan
telah dihapus, kadang-kadang masih saja ada kekusutan masalah.

Tadi telah dikemukakan bahwa memberi maaf dilanjutkan dengan
perintah al-shafh. Perintah memaafkan tetap diperlukan, karena
tidak mungkin membuka lembaran baru dengan membiarkan lembar
yang telah ada kesalahannya tanpa terhapus. Itu sebabnya
ayat-ayat yang memerintahkan al-shafh tetapi tidak didahului
oleh perintah memberi maaf, dirangkaikan dengan jamil yang
berarti indah. Selain itu, al-shafh juga dirangkaikan dengan
perintah menyatakan kedamaian dan keselamatan bagi semua pihak
(perhatikan firman-Nya dalam Al-Quran surat Al-Hijr [15]: 85,
serta Al-Zukhruf [43]: 89):

Berlapang dadalah terhadap mereka dengan cara yang baik
(Al-Hijri [5]: 85).

Berlapang dadalah terhadap mereka dengan mengatakan
salam/kedamaian (QS Al-Zukhruf [43]: 84).

d. Al-Ghufran

Al-ghufran terambil dari kata kerja ghafara yang pada mulanya
berarti menutup. Rambut putih yang disemir hingga tertutup
putihnya disebutkan dengan ghafara asy-sya'ra. Dari akar kata
yang sama, lahir kata ghifarah, yang berarti sepotong kain
yang menghalangi kerudung sehingga tidak ternodai oleh minyak
rambut. Maghfirah Ilahi adalah "perlindungan-Nya dari siksa
neraka."

Dalam Al-Quran surat Ali Imran (3): 31 dinyatakannya bahwa,

Katakanlah, "Jika kamu benar-benar mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan menutupi
dosa-dosamu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang."

Kemudian dalam Al-Quran surat Al-Anfal (8): 29, dinyatakan,

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertakwa
kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu
furqan (petunjuk membedakan yang hak dan yang batil),
dan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu, serta
yaghfir lakum (melindungi kamu dari siksa). Dan Allah
mempunyai karunia yang besar.

Dari kedua ayat di atas terlihat, bahwa kata yaghfir bila
dirangkaikan dengan menyebutkan dosa, berarti menutup dosa
dengan sesuatu. Sedangkan bila tidak dirangkaikan dengan
menyebutkan dosa --sebagaimana ditunjukkan dalam surat
Al-Anfal ayat 29-- berarti melindungi manusia dari siksa atau
bencana. Baik dalam konteks pertama maupun konteks kedua,
ayat-ayat tersebut memperlihatkan bahwa ghufran (pengampunan
atau perlindungan) tidak dapat diperoleh kecuali setelah
memenuhi syarat-syarat tertentu.

Dari kedua ayat tersebut juga terbaca bahwa syarat penutupan
dosa dan perlindungan dari siksa adalah berbuat kebajikan. Di
sini terlihat salah satu perbedaan antara al-'afw (maaf)
dengan ghufran. Karena itu, ditemukan ayat yang menggabungkan
keduanya, yakni:

Hapuskanlah dosa kami, lindungilah kami, dan rahmatilah
kami (QS Al-Baqarah [2]: 286).

TAKFIR

Untuk menutup dosa dengan pekerjaan tertentu, Al-Quran juga
menggunakan istilah takfir. Kata ini, terambil dari kata
kaffara yang berarti menutup.

Al-Quran mempergunakan kata kaffara dengan berbagai bentuknya
sebanyak 14 kali (kecuali kaffarat), pelakunya ada1ah A11ah
Swt.

Yang empat kali itu selalu digandengkan dengan syarat
melakukan amal-amal saleh, atau upaya meninggalkan dosa-dosa
besar.

Perhatikan misalnya firman Allah:

Apabila kamu menghindari dosa-dosa besar yang dilarang
untuk melakukannya, akan Kami tutupi
kesalahan-kesalahanmu (QS Al-Nisa' [4]: 3l).

Orang-orang yang beriman dengan beramal saleh pasti
Kami tutupi kesalahan-kesalahan mereka ... (QS
Al-'Ankabut [29]: 7)

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal
saleh, ditutupi kesalahan-kesalahannya (QS Al-Taghabun
[64]: 9).

Dari keempat belas kali yang disebut itu, teramati pula tiga
belas di antaranya dirangkaikan dengan kata as-sayyiat yang
diterjemahkan sebagai kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa
kecil. Hanya satu ayat yang tidak menyebutkan kata as-
sayyiat, melainkan menggunakan istilah aswa' alladzi 'amilu
(perbuatan terjelek yang mereka lakukan), yang pada hakikatnya
dapat juga diartikan sebagai dosa-dosa kecil.

Nah, dari sini dapat dipahami bahwa dosa-dosa kecil seseorang
dapat ditoleransi oleh Allah Swt. akibat adanya amal-amal
saleh yang menutupinya .

Dalam konteks ini Nabi Saw. berpesan,

Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, dan
susulkanlah kesalahan dengan kebaikan, niscaya kebaikan
itu menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak
yang baik. (HR At-Tirmidzi melalui sahabat Nabi Abu
Dzar).

Demikian sedikit dan banyak kesan yang dapat diperoleh dari
ayat-ayat Al-Quran berkaitan dengan halal-bihalal/maaf
memaafkan.

----------------
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net

September 08, 2010

Inovasi Teknologi dan Surat Al-Alaq



Melihat fenomena kirim-mengirim ucapan Selamat Hari Idul Fitri tahun ini melalui media jaringan sosial seperti facebook semakin menyadarkan kita akan cepat dan masifnya dinamika inovasi teknologi saat ini. Kita jadi punya banyak pilihan dan semakin mempermudah urusan.

Namun demikian, inovasi teknologi juga membawa konsekwensi negatif yang bersifat multidimensional. Layanan pesan singkat (sms) melalui seluler dulu berhasil menggeser dominasi kartu-kartu ucapan seperti ucapan Selamat Lebaran dan sebagainya, hingga bahkan mampu menggilas keberadaan bisnis wartel. Sekarang, para operator seluler agaknya harus merelakan menurunnya pendapatan mereka dari pulsa-pulsa sms layanan mereka karena keberadaan jaringan sosial dunia maya.

Begitu juga di bidang penerbitan yang nantinya bukan tidak mungkin menjadi arus media utama dengan semakin maraknya keberadaan portal-portal virtual. Teknologi jugalah yang telah menggilas keberadaan toko-toko kaset/CD. Demikian juga dengan keberadaan toko-toko online yang sedikit banyak telah berimbas pada toko-toko konvensional karena sebagian orang malas bepergian akibat kemacetan, dan sebagainya. Dan bukan sesuatu yang mustahil pula nantinya, keberadaan kantor-kantor konvensional akan mengalami pergeseran.

Fenomena di atas semakin membuat kita sadar akan pentingnya inovasi dan kreativitas bila kita tidak ingin dilibas zaman. Fenomena di atas harusnya dilihat sebagai terciptanya berbagai peluang. Di sinilah peran visi dan kemampuan "membaca" (Iqra') kita perlukan. Ini jugalah yang membuat kita sadar bahwa perintah Allah SWT kepada Rasul-Nya Baginda Rasulullah melalui surat pertama yang diturunkan-Nya yaitu Surat Al-Alaq benar adanya. Apa pun fenomena yang terjadi berupa rencana dan ciptaan-Nya tidak ada yang sia-sia dan semakin menyadarkan kita bahwa Allah itu memang ada.

Akhlak Islami



Akhlak Islami tampaknya semakin hari semakin pudar, etos Akhlak Islam ini sulit di aplikasikan karena memang tidak dijadikan standar baku dalam pendidikan modern khususnya bagi umat Islam di Indonesia.
Cukup bagi kita sebuah ayat Al-Qur'an yang mengukapkan kemulian akhlak/perangai Nabi Saw. dan hal ini sebenarnya menjadi acuan pentingnya mengaplikasikan akhlak mulia minimal semampu kita.

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

" Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. AL-Qalam: 4)

I. APA AKHLAK ITU ?

Akhlak adalah suatu keinginan yang ada di dalam jiwa yang akan dilakukan dengan perbuatan tanpa intervensi akal atau pikiran. Menurut Al Ghazali akhlak adalah sifat yang melekat dalam jiwa seseorang yang menjadikan ia dengan mudah tanpa banyak pertimbangan lagi. Versi lainnya mengatakan akhlak itu adalah suatu sifat yang tertanam didalam jiwa seseorang dan sifat itu akan timbul disetiap ia bertindak tanpa merasa sulit (timbul dengan mudah) karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah:
1. Akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam dalam jiwa seseorang, dan telah menjadi kepribadiannya.
2. Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa dipikir terlebih dahulu. Ini berarti bahwa saat melakuakan sesuatu perbuatan, yang bersangkutan bisa saja dalam keadaan tidak sadar, hilang ingatan, tidur dan gila.
3. Akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak adalah perbutan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan sendiri.
4. Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau bersandiwara.
5. Akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena keikhlasan semata-mata karena Allah, bukan karena dipuji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian.

Contohnya seseorang yang terbiasa makan dan minum dengan tangan kirinya, maka dimanapun, dan dalam keadaan bagaimanapun ia akan spontan makan dan minum menggunakan tangan kirinya. Orang yang terbiasa menjelekan orang lain (ghibah), tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain), dan lainnya, maka dimanapun berada mereka tidak akan berubah, meskipun di dalam mesjid, atau di masjidil Haram sekalipun.

II. Perbedaan Antara Akhlak Islam, Etika dan Moral

Etika adalah salah satu cabang dari filsafat yang mempelajari tingkah laku manusia untuk menentukan nilai perbuatan tersebut. Sedangkan justifikasi baik buruknya suatu perbuatan, parameternya adalah akal pikiran. Sedangkan moral berarti baik atau buruknya satu perbuatan dan kelakuan seseorang yang akhirnya menjadi adat istiadat masyarakat. Berdasarkan definisi tersebut diketahui bahwa baik buruknya suatu tindakan, secara moral hanya bersifat lokal.
Penggunaan istilah etika, moral, norma ataupun nilai sering disamakan dengan istilah akhlak, namun jika diteliti ternyata antara etika, moral maupun akhlak terdapat perbedaan dan persamaan. Persamaan antara akhlak, etika dan moral terletak pada obyek, yakni sama-sama membahas baik-buruknya tingkah laku manusia. Sedangkan perbedaannya terletak pada parameternya. Kalau etika menggunakan parameter akal fikiran, moral menggunakan tolak ukur adat istiadat satu masyarakat atau kebudayaan tertentu. Sedangkan akhlak menggunakan parameter agama, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. sedangkan perbedaanya akhlak menilai perbuatan manusia dengan tolak ukur Qur’an dan Sunnah. Perbedaan secara khusus, moral lebih bersifat praktis, dan bersifat lokal, sedangkan sedangkan etika lebih bersifat universal dengan kata lain berlaku di setiap daerah bahkan di semua kebudayaan tertentu. Contohnya, mencuri, korupsi, memukul dan lainnya oleh pandangan etika menurut adat dan kebudayaan dimanapun dianggap tercela dan buruk.

III. Tujuan Akhlak Islam

Akhlaq Islam bukanlah semata-mata anjuran menuju perbaikan nilai kehidupan manusia didunia, tapi ia memberikan dampak bagi kehidupannya di akhirat. Seseorang yang berakhlaq baik tentunya akan mendapat ganjaran pahala, dan sebaliknya orang yang berakhlaq buruk pasti ia akan merasakan adzab Allah Swt yang sangat pedih. Seorang yang senantiasa mengucapkan kata-kata yang baik, misalnya, tentunya baik buat dirinya dan orang lain di dunia ini dan juga mendapatkan ganjaran pahala yang akan menambah berat timbangan amal sholehnya di hari akhirat kelak. Dan seorang pengumpat, pencaci, penghasud tentunya akan memberikan akibat buruk bagi dirinya dan orang lain didunia dan melicinkan jalannya untuk menikmati siksa Allah di neraka kelak.
Suka atau tidak, mau ataupun tidak mau, senang atau tidak, seorang muslim haruslah berakhlak yang baik dengan tuntunan yang telah dijelaskan dengan gamblang oleh Al-Qur’an maupun sunnah Nabi. Akhlak Islam tidak saja meliputi gerak langkah saja, namun hatipun harus berakhlak, fikikiranpun harus pula berakhlak.


Oleh: Kang Ackmanz/Akhlak Muslim on Facebook