April 17, 2010

"Gado-gado"



Sudah lama juga rasanya tidak memposting dan melihat-lihat blog saya ini. Sekarang tiba saatnya untuk menulis goresan catatan lagi hehehe...

Okelah...Singkat cerita begini, tadi siang saya makan salah satu makanan kegemaran saya yang bernama gado-gado. Entah kenapa saya yang doyan makan ini sangat menyukai makanan khas Indonesia yang entah dari mana asal sebenarnya itu. Pasalnya hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki gado-gado versi mereka. Sebagaimana soto yang beraneka versi, gado-gado juga demikian. Ada gado-gado Betawi, gado-gado Padang, Bandung dan lain-lainnya. Yang pasti saya bersyukur karena ada makanan sehat dan lezat seperti itu.

Tetapi kenapa judul tulisan saya ini mesti memakai tanda kutip? …

Begini ceritanya saudara-saudara…Sembari menikmati gado-gado, saya membaca koran yang isinya juga “gado-gado” alias beraneka-ragam sehingga menginspirasi saya membuat tulisan ini karena mendadak di benak saya muncul berbagai pikiran beraneka-ragam sebagaimana gado-gado yang saya santap itu. Isinya juga tentang perasaan “gado-gado” karena ada sinisme, kemunafikan, kegeraman, atau apalah…hhalaahh…

Membaca salah satu topik tulisan yang diwartakan bagaimana Mendagri mendadak merasa perlu mengatur dan membatasi mereka-mereka yang hendak terjun mengabdi di dunia pelayanan masyarakat alias politik. Saya pada dasarnya sangat setuju dengan jalan pikiran pak Mendagri kita itu. Terus, batin saya bertanya, lho, apakah itu gak demokratis namanya?

Kemudian bathin saya berkata sendiri…Persetan demokratis atau tidak! Masalahnya, pantaskah orang-orang seperti Maria Eva yang beberapa tahun silam video perzinahannya beredar itu masuk ke dunia politik? Bisa apa dia? Tanya bathin saya sinis. Mau dibawa kemana negara kita ini? hhalahh…..Memangnya loe udah baik dan siapa sih loe Nof? munafik dan sok loe!!! batin saya memberontak.

Kemudian saya mengenang beberapa pilkada di daerah yang membuat hubungan kekerabatan masyarakat kita jadi berantakan hanya karena haus kekuasaan dan popularitas. Hubungan kekerabatan masyarakat yang tadinya akrab berubah jadi beringas karena hasut dan fitnah. Orang-orang yang sebenarnya tidak memiliki kapasitas sebagaimana Maria Eva itu mencoba masuk ke dunia politik hanya karena memiliki uang dan pengaruh di masyarakatnya. Itulah yang membuat saya jadi sangat mengerti dan mendukung apa yang dilakukan pak Mendagri kita itu.

Politik itu sebenarnya bisa membawa kemuliaan bila hasrat dan niat siapa yang ingin mengabdi di dunia itu berangkat dari niat ingin menjadi solusi dan ingin berkontribusi positif pada kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat banyak. Saya tidak ingin mengatakan bahwa orang-orang dari dunia hiburan atau entertainment tidak memiliki kapasitas dan benar-benar berangkat dari niat itu karena ada juga yang saya yakin demikian. Saya sejauh ini juga mengapresiasi dari apa yang telah Kang Dede Yusuf perbuat yang bisa saya lihat dari berbagai kiprah dan aktivitasnya dan saya rasa dia memang punya kapasitas akan hal itu. Tetapi orang-orang seperti Maria Eva?

Ah, sudahlah…Terlalu banyak masalah yang sepertinya tidak selesai-selesai di negara ini. Tidak jelas apakah ada keinginan untuk menuntaskan setiap masalah itu atau tidak dari mereka yang telah mengemban amanat untuk mengabdi pada negeri ini. Hmmm….Sudahlah, akhirnya saya menuntaskan gado-gado saya itu dan menambah seporsi lagi. Gado-gado memang enak! :)

February 01, 2010

Tiger Woods: Macan yang Tidak Beruntung di Tahun Macan



Siapa gerangan yang tidak tahu Tiger Woods? Ya, dialah salah satu atlet golf fenomenal dan diyakini sebagai salah seorang atlet termuda terkaya di dunia saat ini, dimana hartanya ditaksir berkisar US$1 Milyar. Tapi siapa yang menyangka sebelumnya, kalau dibalik tampang kalem dan kebersahajaannya ternyata dia menyimpan hasrat libido yang tak terkendali!

Menyebut tiger alias macan mengingatkan saya akan perkataan salah seorang legenda tinju nasional Indonesia, Syamsul Anwar Harahap beberapa tahun yang lalu mengomentari keperkasaan si leher beton Mike Tyson di masa jayanya. Tyson digambarkan sebagai "seekor macan" dan masih menurut Syamsul Anwar pula, hal itu dikarenakan karena Tyson juga "buas" memangsa kaum wanita. Belakangan Tyson akhirnya terjerambab juga karena persoalan yang menyangkut wanita juga.

Adakah Tiger Woods juga akan mengikuti Tyson? Bisa ya, bisa tidak. Tetapi kabar terbaru mengatakan ternyata Tiger Woods memiliki selingkuhan sebanyak dua digit selama masa pernikahan resminya dengan seorang wanita Norwegia yang telah memberinya dua orang anak itu! Tapi kayaknya, di tahun macan ini, si macan agaknya harus merelakan berbagai turnamen dan uang hasil dari turnamen beserta uang-uang kontrak endorsemen berbagai perusahaan yang kini telah memutuskan kontrak mereka dengan si macan ini. Dan kabarnya pula, untuk waktu yang tidak ditentukan si macan di tahun macan ini harus rela mengikuti rehabilitasi untuk mengobati kecanduan seksnya yang gila itu. Tetapi, masih untung, si istri kabarnya mencabut gugatan cerainya.

January 29, 2010

Media Portal: Sebuah Peluang Jurnalistik Alternatif


Kemajuan teknologi membuat kita semakin banyak memiliki pilihan. Dulu, bila kita memerlukan informasi, pilihan-pilihan media yang dapat kita pilih adalah tv, radio, surat kabar, tabloid dan majalah. Sekarang ini, kita mengenal teknologi internet, maka kita pun mendapatkan pilihan akses berita melalui portal-portal berita di dunia maya. Keberadaan portal maya sekarang ini seolah menjadi trend sehingga membuka peluang bisnis.

Jumlah pembaca berita portal atau akrab kita sebut sebagai portal online sudah melebihi jumlah pelanggan koran konvesional, artinya pasar sudah mulai bergeser ke dunia internet. Bahkan, kini pemain raksasa semacam Aburizal Bakrie, Telkom dan lainnya dikabarkan akan merilis portal baru. Tingkat percepatan penyampaian berita, kemudahan dan kemurahan pencarian berita setidaknya menjadi alasan pemicu mengapa pasar lebih memilih pencarian informasi melalui internet daripada harus berlangganan koran setiap hari. Sebagai contoh, Detik.com, salah satu portal berita yang cukup sukses di Indonesia. Dengan lebih dari 6 juta view tiap bulannya, Detik.com mampu menggaet pemasang iklan banner dan teks di situsnya. Meskipun setiap iklan banner dihargai ratusan juta rupiah, tapi tetap saja pelanggan rela mengantri agar berkesempatan mengisi ruang yang ditawarkan.

Sementara itu, kelompok media konvensional mapan sekelas Kompas-Gramedia Group telah lama serius dengan Kompas.com nya. Awalnya mereka terjun menggunakan nama KCM atau Kompas cyber Media namun karena dianggap kurang hoki sehingga mereka memutuskan mengganti nama menjadi kompas.com saja. Kelompok media mapan lainnya yang menaungi beberapa stasiun tv swasta, yaitu kelompok MNC meluncur dengan produk Okezone.com. Kelompok-kelompok media tersebut sepenuhnya menyadari bahwa media internet adalah the next generation dari bisnis yang mereka geluti.Dari aspek sumber daya, mereka tidak perlu lagi memikirkannya karena sudah tersedia. Lalu bagaimana dengan para pemain baru yang sebelumnya belum memiliki sumber daya tersebut?

Mereka pada awalnya mungkin keteteran, namun mereka tetap bertahan dan mencari celah. Pendeknya, bisnis media online adalah bisnis yang menjanjikan karena internet semakin murah dan mudah, banyak para pengguna internet baru, dan banyak pengguna internet baru mengakses internet untuk mencari komunitas dan informasi. Melihat pasar pengguna internet yang diprediksi akan mencapai 50% pada tahun 2016 sesuai data yang dikeluarkan oleh Internal Microsoft Advertising, ditambah lagi dukungan pihak telekomunikasi mobile seperti 3G, 3.5G, WiMax, dan lain sebagainya semakin menguatkan asa para pemain di bisnis ini. Namun demikian, mengapa sebuah portal bisa sukses sedang yang lainya gulung tikar dalam waktu kurang dari satu tahun? Kebanyakan portal yang sukses adalah portal yang mengetahui kebutuhan para pelanggannya, yaitu pemasang iklan dan pengunjung situs.

Kerasnya persaingan yang ada membuat banyak perusahaan membenahi tampilan portal agar menjadi user friendly dan advertiser friendly, selain memperhatikan kecepatan load page. Semakin cepat seorang user membuka sebuah halaman portal, maka akan semakin lebih menarik minatnya untuk tetap loyal dengan sebuah portal. Pemilik portal harus mampu memonitor secara seksama informasi para pengunjungnya yang meliputi :
1. Jumlah pengunjung
2. Durasi kunjungan
3. Waktu berkunjung
4. Konten apa yang dikunjungi
5. Alasan berkunjung
6. Darimana berkunjung
7. Kapan berkunjung balik

Sumber :
Resep.web.id,
arthazone.com,
Nukhman Luthfie/Andy Orange mood Santoso@facebook

Radio Streaming: Terobosan Radio Menyikapi Perkembangan Teknologi


Seiring dengan penetrasi internet di dunia yang mulai mencapai angka 1 miliar pengguna (user), kebutuhan untuk mendapatkan layanan berbasis internet juga semakin meningkat. Data menunjukkan bahwa terdapat 80% pengguna internet memanfaatkannya untuk mengirimkan email, 60% menggunakan instant messaging (seperti Yahoo atau MSN Messenger) dan 55% mengunduh file. Kemudian 22% pengguna internet juga mulai menikmati video. Dunia perbankan juga memanfaatkannya dengan memperkuat jaringan ATM mereka layanan internet banking dan toko buku dilengkapi dengan layanan toko buku online. Hal yang sama juga terjadi di bidang media massa dan menjadi tantangan baru industri ini dalam mempertahankan loyalitas dan meningkatkan jumlah konsumen. Contohnya, media cetak, sekarang ini menghadapi persaingan baru dengan media portal yang dapat diakses secara fleksibel.

Industri media “konvensional” mulai berbenah dan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi terkini. Salah satunya adalah industri radio. Dari data yang ada, tercatat 78 buah stasiun radio di seluruh Indonesia yang telah memanfaatkan teknologi streaming (radio internet) ini. Dengan fasilitas teknologi tersebut, para pendengar radio dapat menikmati acara-acara radio melalui webcast, winamp, i-tunes atau win media player. Untuk menikmati winamp, para pendengar bisa langsung mengklik url atau meng-copy url serta menambah url di playlist mereka. Untuk menikmati fasilitas lainnya, para pendengar dapat mengunjungi web masing-masing. Sementara radio konvensional memiliki keterbatasan geografis. Siaran yang disajikan hanya dapat dinikmati dalam wilayah yang kecil, baik kecamatan maupun kabupaten/kotamadya. Ini berbeda dengan radio internet yang jangkauannya mengglobal. Namun, ada juga stasiun radio yang mengharuskan Anda meng-instal real player-nya terlebih dahulu. Lalu seperti apakah sebenarnya teknologi streaming itu?

Ada dua macam subkategori streaming, yaitu on-demand stream dan webcast stream. On-demand stream dikontrol oleh klien sedangkan webcast stream dikontrol oleh server. On-demand stream diaktifkan oleh permintaan user dan bisa dipresentasikan kapan saja sesuai dengan perintah klien dan konten disimpan di dalam server. Secara sederhana, on-demand stream dimisalkan seperti melihat video kaset, kita dapat melakukan fast-forward, rewind, maupun pause terhadap proses presentasi. Pada webcast stream, klien hanya dapat menentukan kapan memulai dan mengakhiri suatu konten.

Jika webcast adalah suatu peristiwa yang bersifat langsung, pengguna harus melakukan hubungan pada server webcast stream untuk melihat konten sesuai jadwal yang telah ditentukan. Proses ini dapat dimisalkan seperti kita menonton televisi atau mendengarkan radio. Untuk kedua hal ini, baik stasiun tv ataupun stasiun radio menjadi pihak yang mengatur konten presentasinya. (nfr) Sumber: katahati@blogspot.com bayush@shvoong.com RomiSatriaWahono.net

Peran Keluarga Bagi Tumbuh Kembang Remaja


Barangkali banyak yang setuju dengan pernyataan bahwa masa remaja adalah masa-masa yang paling indah bagi seseorang. Masa remaja adalah sebuah masa transisi seseorang dari masa kanak-kanak ke masa usia dewasa. Masa remaja adalah masa bagi seseorang mencari identitas diri. Masa remaja sebenarnya adalah sebuah fase rawan bagi seorang remaja karena kelabilan jiwanya yang sering membuatnya berpikir dan bertindak secara naif. Di sinilah peran orang tua dan keluarga sangat penting bagi seorang remaja.

Orang tua dan keluarga seharusnya memberikan perhatian yang lebih terhadap anak atau anggota keluarganya yang masih berusia remaja. Mereka seharusnya bisa menempatkan diri mereka sebagai seorang sahabat. Kenapa demikian? Bila sebuah keluarga kurang memberikan perhatiannya terhadap diri seorang anak yang telah memasuki usia remaja; karena kenaifan mereka; seringkali lebih mempercayai teman-teman mereka ketimbang orang tua dan anggota keluarganya. Masalahnya, tidak semua teman yang benar-benar baik bagi seorang remaja.

Remaja seringkali menempatkan hubungan persahabatan di atas segalanya hingga kadang-kadang mereka melawan orang tua mereka. Remaja suka bersahabat, rasa solidaritas diantara mereka tinggi sekali bahkan mereka lebih mengutamakan teman atau sahabat dari pada orang tua, mereka mau berkorban apa saja demi persahabatan. Tetapi tidak sedikit remaja yang jatuh karena gagal dalam persahabatan. Karena dia tidak sadar kalau dia selama bersahabat itu dijajah pribadinya oleh sahabatnya. Hal tersebut sebenarnya merupakan kejahatan yang terselubung dengan mengatasnamakan persahabatan. Kita semua harus waspada dan jangan sampai lengah dan terkecoh. Penjajahan pribadi artinya adanya dominasi atau penguasaan seseorang terhadap pribadi orang lain.

Sebuah keluarga yang memiliki seorang anak berusia remaja selayaknya melakukan langkah-langkah berikut ini: Langkah pertama adalah langkah konsolidasi dan melihat apakah apakah perilaku seorang anak remaja masih memiliki prilaku normal atau mencemaskan. Misalnya pemurung, suka melawan, lebih senang sendiri atau lebih suka bersama teman-temannya daripada bersama anggota keluarga. Seoarng remaja ingin menyatakan bahwa ia berbeda dengan orang tua dan anggota keluarganya yang lain. Hal ini dapat kita lihat dari cara seorang remaja berpakaian yang merujuk mode mutakhir, gaya potongan rambut dan jenis music yang mereka nikmati.

Tindakan selanjutnya adalah menetapkan batas dan mempertahankannya. Menetapkan batas itu sangatlah penting, tetapi batas-batas itu haruslah cukup lebar untuk memungkinkan eksplorasi yang sehat.

• Bila perilaku seorang remaja membahayakan atau melampaui batas-batas disiplin nilai-nilai keluarga dan normatif, langkah berikutnya adalah memahami apa yang tidak beres.

• Depresi dan perilaku yang membahayakan diri selalu merupakan respon terhadap stres yang tidak dapat diatasi seorang anak remaja.

• Anak remaja yang berperilaku atau suka membolos seringkali akibat meniru dan mengikuti teman-temannya, dan merupakan respon dari sikap dan nilai-nilai keluarga yang terlalu ketat atau terlalu longgar.

• Minum-minuman alkohol dan menghisap ganja biasanya merupakan respon terhadap stres dan akibat meniru teman yang salah. Masalah seksual paling sering mencerminkan adanya kesulitan diri di dalam proses pendewasaan. Secara umum masalah yang terjadi pada remaja dapat diatasi dengan baik jika orang tuanya termasuk orang tua yang "cukup baik". Donald winnicott, seorang psikoanalisis dari Inggris memperkenalkan istilah "good enough mothering". Ia menggunakan istilah ini untuk mengacu pada kemampuan seorang ibu dalam mengenali dan memberi respon terhadap kebutuhan anaknya, tanpa harus menjadi ibu yang sempurna. Sekarang laki-laki pun telah "diikutsertakan", sehingga cukup beralasan untuk membicarakan tentang "menjadi orang tua yang cukup baik" (good parenting).

Secara umum tugas-tugas yang dilakukan oleh sebuah keluarga yang cukup baik adalah sebagai berikut:

1. Memenuhi kebutuhan esensial; sandang, pangan dan kesehatan.
2. Memberikan ikatan dan hubungan emosional, hubungan yang erat ini merupakan bagian penting dari perkembangan fisik dan emosional yang sehat dari seorang anak, terutama saat seorang anak berusia remaja.
3. Memberikan sutu landasan yang kokoh, ini berarti memberikan suasana rumah dan kehidupan keluarga yang stabil.
4. Membimbing dan mengendalikan perilaku dengan nilai-nilai normatif.
5. Memberikan berbagai pengalaman hidup yang normal, hal ini diperlukan untuk membantu seorang anak remaja agar dapat berprilaku matang dan akhirnya mampu menjadi seorang dewasa yang mandiri. Sebagian besar keluarga telah memberikan pengalaman-pengalaman itu secara alami.
6. Mengajarkan cara berkomunikasi, keluarga yang baik mengajarkan anak agar mampu menuangkan pikiran ke dalam kata-kata dan memberi nama pada setiap gagasan, mengutarakan gagasan-gagasan yang rumit dan berbicara tentang hal-hal yang terkadang sulit untuk dibicarakan seperti ketakutan dan amarah.
7. Menjadi sahabat, sebuah keluarga selayaknya mengajak teman-teman anaknya yang berusia remaja berkumpul bersama-sama mereka. Ini dilakukan untuk mengetahui dengan siapa saja anaknya bergaul.
8. Berkomunikasi dengan guru di sekolahnya terutama wali kelas dan guru pembimbingnya.Karena, seorang guru juga merupakan “orang tua” bagi seorang anak yang wajib membimbing, mendidik nilai-nilai selain memberikan pengajaran keilmuan.
9. Memberikan nilai-nilai keteladanan. Di tengah kepungan informasi yang sedemikian masif saat ini, dimana kecenderungan untuk meninggalkan nilai-nilai keluarga dan mengedepankan budaya pemberontakan yang seolah menemukan pembenaran bagi remaja karena kenaifan dan gejolak mudanya, maka keluarga hendaknya dapat memainkan peran sebagai salah satu unit pranata social yang mampu menyiapkan seorang generasi yang dapat bermanfaat bagi lingkungan dan bangsanya kelak. Itulah salah satu tanggungjawab kita sebagai warga negara yang baik. Terlalu utopis? Tidak juga… Semoga bermanfaat…(nfr)

Sumber: Lask, Bryan. Memahami dan mengatasi masalah anak. 1985. Gramedia. Jakarta Nadeak, wilson. Memahami anak remaja. 1991. Kanisius. Yogyakarta

January 22, 2010

Kreativitas itu Baik dan Perlu


Menurut Wikipedia, kreatifitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan dan konsep, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. Dari sudut pandang keilmuan atau secara epistemologis, hasil dari pemikiran kreatif (kadang disebut pemikiran divergen) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari kreatifitas adalah tindakan membuat sesuatu yang baru atau menciptakan inovasi.

Orang yang punya kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan penuh imajinasi adalah orang-orang yang menyenangkan dan bisa menjadi aset yang paling berharga bagi orang-orang di sekitarnya. Dalam suatu perusahaan, orang-orang kreatif sangat diperlukan dan sangat diandalkan oleh perusahaan dimana mereka bekerja. Orang-orang kreatif ini bisa saja datang dengan segenap ide luar biasa. Kreatifitas merupakan suatu elemen yang sangat diperlukan dalam perusahaan.

Kreatifitas seharusnya menjadi DNA dalam perusahaan, begitu kata Barney Waters, VP Marketing PUMA North America. Semua orang yang bekerja di perusahaan tersebut mempercayai apa yang dinamakan kreatifitas. Begitu juga saat krisis melanda. Orang-orang kreatif memiliki tingkat keberanian di atas rata-rata. Bagaimana tidak dapat dikatakan berani bila mereka sering membuat keputusan beresiko? Orang-orang seperti ini begitu percaya diri untuk keluar dari wilayah nyaman yang ditempatinya. Bagi mereka, tantangan itu adalah suatu peluang. Di saat banyak orang kesulitan mendapatkan pekerjaan, mereka justru menyatakan keluar dari tempat mereka bekerja dan pindah ke sebuah perusahaan yang kondisinya jauh di bawah kondisi perusahaan tempat mereka bekerja sebelumnya. Ada lagi yang malah mencari dan membuka peluang bagi mereka sendiri. Orang-orang kreatif itu sangat intuitif tetapi penuh perhitungan. Ide-ide orang kreatif pada awalnya dianggap sebuah ketidakwajaran. Pernahkah Anda mendengar kisah seorang pengusaha teh botol yang pada awalnya banyak ditertawakan oleh para koleganya. Tetapi, sekarang ini Anda bisa melihat bagaimana perkembangan bisnis tersebut. Hampir di setiap gerobak makanan dan minuman dan warung di pinggir jalan menjajakan the botol, belum lagi di terminal, di café, resto dan lain sebagainya.

Orang-orang kreatif selalu hadir untuk menciptakan terobosan inovatif. Mereka bisa mewujudkan apa yang orang lain pikirkan tidak mungkin menjadi mungkin. Melatih Kreatifitas Berpikir dan bertindak kreatif itu sangat perlu kita latih. Caranya?

• Berpikir bahwa tidak ada yang tidak mungkin Kunci awalnya adalah bersikap optimis.

Yakinlah, sesuatu yang akan kita kerjakan mampu kita selesaikan. Buang semua pikiran bernada pesimis. Misalnya, ”Saya mungkin bisa mengerjakan”. Ganti dengan ungkapan penuh optimisme. Contoh, ”Saya pasti bisa mengerjakannya”, ”Bagi saya tidak ada kata menyerah!”. Pernyataan optimis melatih kita berani masuk ke persoalan. Pola pikir pun berkembang, karena dipaksa memeras otak dan bergerak agar tekad dan keinginan yang kita punya dapat diwujudkan.

• Menghilangkan Cara Berpikir Konservatif

Biasanya, orang yang berpikir konservatif enggan menerima perubahan, meski perubahan itu menguntungkan. Mereka mempertahankan status quo. Karena ingin mempertahankan gaya konservatif, perubahan ditanggapi secara dingin, bahkan dipersepsikan sebagai ancaman. Karena merasa nyaman atau diuntungkan dengan cara konservatif, ketika dituntut untuk mengubah pola pikir, orang-orang seperti ini takut akan mengalami kerugian. Hendaknya disadari, cara berpikir konservatif memasung pemikiran kreatif karena pikiran dibekukan oleh sesuatu yang statis. Padahal dalam berpikir kreatif unsur statis semestinya dihilangkan. Mulailah berpikir dinamis, dengan terus mengolah pemikiran untuk menemukan pola pikir efektif. Tiga Cara Mengurangi atau Menghilangkan Pola Pikir Konservatif. Pertama, terbuka terhadap masukan. Masukan adalah bahan mentah sangat berharga. Lalu, kita mengolahnya menjadi “barang jadi” lewat pemikiran kreatif. Jadi, jangan apriori dan cemas menghadapi ide, usulan, bahkan kritik. Karena semua itu merangsang kita berpikir kreatif. Kedua, mencoba pekerjaan atau hal di luar bidang kita. Untuk ”memperkaya” diri, pola pikir juga perlu menghadapi sesuatu yang berbeda dari biasanya. Ketiga, harus bersikap asertif dan proaktif. Kita dituntut ”menjemput bola” dalam menghadapi sesuatu, dan bukan ”menunggu bola”. Bertindak proaktif berarti membuat diri bebas memilih tindakan, tentu berdasarkan perhitungan matang. Ini bisa terjadi kalau kita mempunyai kreatifitas berpikir. Bagaimana? Berani terima “tantangan” ini? (nfr)

Diolah dari Berbagai Sumber

Paradoksnya Kita


Menyaksikan dan mendengar berbagai kegiatan kampanye yang dilakukan para peserta PEMILU tahun lalu sungguh menarik walaupun kadang-kadang membuat kita tersenyum miris. Para kontestan tentu berupaya semaksimal mungkin untuk meraih simpati rakyat yang akan memilih mereka. Sederhananya, mereka berjualan dan jualan mereka adalah partai berikut visi dan misi mereka. Sebagai calon legislatif (caleg) hingga calon presiden (capres). Yang namanya jualan, para penjual selalu mengklaim bahwa produk mereka adalah yang terbaik atau nomor satu. Mereka kadang-kadang tampil secara jor-joran demi pencitraan diri/partai sebagai yang terbaik.

Sebagian para calon tadi tidak segan-segan menghabiskan dana yang sangat besar yang sumbernya kita tidak tahu. Sebagian kontestan ada yang berkampanye menggunakan moda transportasi pesawat dengan layanan super mewah. Itu demi sebuah status dan ‘kewibawaan”. Berbicara mengenai kewibawaan, Saya pribadi menilai hal ini masih merupakan sebagai salah satu paradok dari sekian banyak macam paradok yang ada di negeri tercinta kita ini.

Kita membenci pelaku korupsi tetapi kita tidak menghargai para pegawai pemerintah yang jujur sehingga anggota kelurganya hanya naik bis kalau bepergian. Kita mencela barang-barang yang mereka miliki yang menurut kita sudah ketinggalan zaman seperti telepon seluler yang mereka punya dan lain sebagainya. Kita mungkin juga heran dan malah mengatakan betapa tololnya mereka itu. Punya posisi kok hidup cuma seperti itu. Mereka jujur, tidak korupsi tetapi kita malah mencela mereka. Sebaliknya, bila kita mendapati para pelayan publik yang hidupnya makmur, kita langsung menghakimi mereka telah berbuat tidak jujur dengan jabatan yang mereka pegang. Padahal, bisa saja mereka sebenarnya adalah para pelayan publik yang amanah dan jujur tetapi mungkin mereka memiliki usaha sampingan yang bersih dan halal. Mereka kreatif. Mereka menggunakan waktu mereka dengan sangat baik.

Nah, adakalanya kita begitu menyanjung seseorang atau keluarganya karena kedermawanan mereka padahal kita tahu bahwa harta mereka bukan berasal dari perilaku jujur. Seorang guru yang santun, jujur tetapi bersahaja tidak dihargai oleh para muridnya yang terdiri dari putra-putri orang-orang kaya. Tetapi bila yang mengajar adalah orang yang berasal dari kalangan “the have” juga, maka si guru mendapatkan “wibawa”nya. Maka, tidaklah mengherankan bila fenomena ini marak dimana-mana. Celakanya lagi, hingga seorang ustad atau pendeta pun dilihat dari apa yang dia punya, bukan dari apa yang dia katakan.

Dengan memiliki materi maka seseorang baru dapat menjadi “siapa”. Maka kalau Anda hanyalah seorang ustadz kampung dan Anda tidak bermateri , jangan harap Anda dapat memberikan pencerahan di sebuah mesjid mewah di sebuah kawasan mewah seperti di Jakarta ini. Anda tidak memiliki nilai jual. Suka atau tidak suka, kita harus mengakui keadaan seperti ini. Saya pun kadang-kadang juga berpikiran demikian. Saya diam-diam juga mengalami sindrom paradoks ini. He..he..he..ternyata…Podo wae :)) !!! (nfr)