December 28, 2010

Rinus Michel, Total Football Belanda dan Barcelona



Rasanya para penggemar bola di dunia sekarang ini akan sepakat bila Barcelona disebut sebagai klub yang paling impresif dan menghibur. Apalagi bila menyaksikan bagaimana tim yang sekarang ditangani oleh Joseph Guardiola yang notabene adalah salah satu anak didik Johan Cruyff, seorang maestro Total Football yang pernah menangani klub Catalan tersebut pada akhir 80-an dan awal dekade 90-an, itu mampu membuat rival utamanya di tanah Spanyol, Real Madrid keteteran dan kemasukan lima gol tanpa balas saat kedua tim bertemu dalam laga klasik, El Clasico akhir November silam. Padahal seperti yang kita ketahui, Real Madrid saat ini ditangani oleh Jose Mourinho yang disebut tahu betul tentang rahasia dapur Barca karena ia adalah anak didik dari seorang meneer Belanda lainnya yang pernah menangani Barca, Louis van Gaal saat Mourinho menjadi penerjemah dan asisten sang meneer.

Gaya sepakbola Total Football Belanda itu ternyata juga mengilhami timnas Spanyol yang ironisnya mampu mengalahkan tuannya sendiri pada Final Piala Dunia Juli lalu. Pasalnya, di timnas Spanyol sekarang, bercokol banyak pemain Barcelona yang sekaligus menjadi pemain-pemain utama negeri matador itu. Mereka antara lain adalah kapten tim, Charles Puyol, duo maut lapangan tengah:Andreas Iniesta, Xavi Hernandez, Pedro dan lain-lain.

Ya, sepakbola ala Barcelona atau acap disebut juga dengan Barca ini memang sangat kental dengan sepakbola negeri kincir angin Belanda. Hal itu diakui sendiri oleh Cruyff, “Ya, saya pikir sangat fantastis bagi Spanyol karena menerima sesuatu yang bukan milik Anda (transfer ilmu “Total Football”). Tentu ini merupakan hasil proses panjang. Spanyol menyediakan sepak bola yang bagus untuk Belanda dan Barca.”

“Orang Catalonia yang sekarang berusia 45 atau 50 tahun mulai melihat sepak bola Belanda untuk pertama kalinya sekitar 36 tahun lalu, ketika saya masih bermain di sana. Kemudian pada tahun 1990-an, mereka kembali melihat (gaya sepak bola Belanda) pada Barcelona ketika saya melatih. Jadi, sepakbola Spanyol sekarang lebih Belanda ketimbang Spanyol. Mereka tumbuh dalam sepak bola Belanda,” lanjut Cruyff.

Johan Cruyff masih dianggap sebagai pelatih tersukses Barca sampai saat ini. Selama sembilan tahun membesut Barca (1987-1996). Ayah dari Jordy Cruyff, yang sempat merumput di Old Trafford itu, mampu memberikan 11 piala (empat gelar La Liga, satu piala Liga Champions, satu Piala Winners, satu Piala Raja, satu Piala Super Eropa dan tiga Piala Super Spanyol). Dengan catatan demikian, tak heran bila Barca selalu ‘patuh’ akan nasehat dan arahan Cruyff hingga saat ini. Kesuksesan Pep Guardiola sekarang tak lepas dari jasa meneer Belanda lainnya, Frank Rijkaard yang direkomendasikan Cruyff.

Barcelona adalah salah satu klub pelopor dibentuknya kompetisi La Liga atau Divisi Satu pada musim 1928/29, bersama dengan Real Madrid dan Athletic Bilbao. Barca berhasil menjadi juara pada musim pertama La Liga. Ketiga klub tersebut belum pernah terdegradasi sampai saat ini. Tapi dalam soal prestasi, hanya Real Madrid yang mampu menyaingi Barca. Baik Barca maupun Real Madrid menjadi dua klub tersukses di Spanyol, Eropa dan dunia.Barcelona bahkan selum pernah absen dalam berbagai kompetisi Eropa sejak tahun 1955, baik di Liga Champions, Piala UEFA, Piala Winners, sampai sekarang. Stadion Camp Nou adalah markas Barca yang mampu menampung sekitar 98.700 penonton.

Kapan Total Football Mulai Mempengaruhi Gaya Barcelona

Era sepakbola Belanda di Barcelona dimulai ketika Rinus Michel, si arsitek Total Football itu mulai merantau ke Spanyol dan berlabuh di Barcelona pada 1971 setelah sukses bersama Ajax Amsterdam. Anak didiknya di Ajax yang mampu menerjemahkan kemauan si arsitek, Cruyff menyusul dan mulai meraih sukses dengan meraih sukses pertamanya di tanah Spanyol dengan meraih gelar Liga Spanyol pada tahun 1974.

Johan Cruyff sendiri lebih dari satu dekade kemudian mengikuti sang guru untuk menakhodai Barca pada 1987 setelah sukses bersama Ajax dengan gelar Piala Winners Eropa. Cruyff pun kemudian membawa jenderal pertahanan timnas Belanda ketika itu, Ronald Koeman. Koeman lah yang menjadi penentu sukses Barca untuk merebut Piala Champions untuk pertama kalinya pada tahun 1992. Koeman yang terkenal dengan tendangan geledeknya itu mampu menjebol gawang salah satu kiper terbaik dunia masa itu, Pagliuca sekaligus membuyarkan harapan klubnya Sampdoria untuk meraih gelar Piala Champions untuk pertama kalinya.

Setelah tidak lagi menjadi pelatih, kerjasama Cruyff dan Belanda di Barca tetap berlanjut. Atas rekomendasi Cruyff, Louis van Gaal kemudian juga sempat melatih Barca dengan memboyong beberapa skuad Tim Oranye seperti Patrick Kluivert, Bogaard, Cocu, De Boer bersaudara dan lainnya. Dan terakhir adalah Frank Rijkaard. Rijkaard datang saat Barca dalam keadaan ‘runyam’. Sentuhan Rijkaard kemudian sukses memberikan gelar La Liga pada tahun keduanya dan mempersembahkan Champions Cup pada tahun 2006. Rijkaard masih dianggap sebagai bagian dari raihan prestasi Joseph Guardiola saat ini. Keindahan sepakbola Barca sekarang bermula dari hasil karya Rinus Michel. “Rome was not built in a night”. Ya, tidak ada kesuksesan dalam semalam. Semua keberhasilan merupakan akumulasi dari upaya berkelanjutan.

No comments:

Post a Comment