January 11, 2010

Kawasan Kemang: Dulu dan Sekarang



Mendengar Kawasan Kemang pasti yang terlintas di benak kita adalah suatu kawasan pemukiman yang banyak didiami oleh kalangan ekspatriat alias orang asing yang bekerja di Jakarta. Kawasan yang diambil dari salah satu jenis buah suku mangga-manggaan ini yaitu Mangifera caecea yang dulunya banyak tumbuh di kawasan yang terletak diantara Kebayoran Baru dan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan tersebut.

Dulu, kawasan ini adalah salah satu kawasan hijau nan teduh di Jakarta dimana Anda masih bisa mendengarkan suara kicau burung. Mungkin pesona itulah yang menjadi daya tarik mengapa banyak ekspatriat memilih bermukim disana selain lokasinya yang strategis. Seiring dengan perkembangan zaman dan karena semakin banyak saja orang asing yang memilih bermukim disana, dimana telah tercatat sekitar 30 juta jiwa, menjadikan kawasan Kemang sebagai salah satu kawasan wisata malam ibu kota. Anda bisa melihat gemerlap kehidupan malam yang berlangsung setiap hari.

Jalan-jalan utama di kawasan ini telah disulap menjadi kafe, restaurant, hotel dan night club. Berbagai masakan (cuisine) hadir disana, mulai dari penganan Indonesia hingga penganan manca negara. Untuk urusan makanan, Kemang telah menjadi miniature dunia dan secara perlahan kawasan ini berubah menjadi kawasan kosmopolit. Bila Anda ingin bergabung dalam komunitas global maka Anda bisa saja ikut serta dalam beberapa komunitas asing yang terbuka seperti American Women’s Association (AWA), Australian & New Zealand Association (ANZA) dan Jakarta International Community Center (JICC) sehingga Anda dapat berbagi pengalaman dan cakrawala. Tidak mengherankan apabila di tahun 1999 silam, gubernur DKI menetapkan kawasan Kemang sebagai Kampung Modern melalui SK No. 140/1999. Kawasan ini pun diancang-ancang akan berubah status menjadi kawasan usaha walaupun dalam prakteknya telah terjadi. Banyak rumah-rumah pemukiman telah disulap menjadi kafe, salon, spa, toko-toko souvenir dan restaurant walaupun sebenarnya pemerintah daerah DKI belum menetapkan kawasan ini sebagai salah satu kawasan usaha alias bisnis. Pemerintah DKI baru hanya sebatas melaksanakan studi apakah kawasan itu layak dijadikan sebagai kawasan bisnis atau tidak. Namun pada kenyataannya, tercatat ada lebih dari 50 kafe telah hadir di kawasan yang di zaman dulu banyak dihuni oleh masyarakat etnis Betawi ini. Kafe-kafe tersebut berjejer di sepanjang jalan Kemang Raya hingga jalan Ampera Raya.

Satu kesamaan yang paling signifikan diantara kafe-kafe tersebut adalah suguhan music hidup alias live music untuk menarik minat banyak pengunjung. Geliat dan dinamika kawasan Kemang secara drastic ini tidak hanya disebabkan oleh semakin banyaknya warga asing yang tinggal disana, tetapi juga karena akses ke sana sangat gampang karena terletak tidak jauh dari kawasan Kebayoran Baru dan Sudirman. Tak heran bila kalangan jetset dan selebriti pun banyak berkunjung ke sana. Hanya saja kawasan Kemang menjadi seperti umumnya kawasan di Jakarta yang semrawut. Bila Anda melewati jalan-jalan di sana baik malam maupun siang hari, jangan kaget bila Anda terjebak kemacetan yang disebabkan oleh ketidakdisiplinan para pengendara terutama yang memarkir kendaraan mereka secara sembarangan. Sebagai kawasan kosmopolit, sangat disayangkan bila lalu-lintas di kawasan itu tidak tertata rapi penuh kedisiplinan seperti di banyak negara para warga asing tersebut. Apakah kedisiplinan para warga asing itu telah terpengaruh dengan tingkat kedisiplinan warga Jakarta yang minta ampun egoisnya ini? Bagaimana menurut Anda? (nfr). Dari berbagai sumber

4 comments:

  1. I grew up in Kemang. I could walk from MCDonnald to Pomp Bensin near the Sekolah Dasar.... (forget the name of it). My last visit was kinda bit surprise me to see the entire Kemang changed completely. I got lost when the taxi driver took me around. My eyes was wide open and my jaw almost drop. But, I still proud to call it my kampung Kemang. Thanks to posted this Nof.

    ReplyDelete
  2. You are welcome,Angel...I've got the same opinion with you though I never live there...what I am afraid of loosing its authentic

    ReplyDelete
  3. well, saya tinggal di kemang dari kecil sampe sekarang dan ya banyak banget sih perubahannya. bahkan ketika org tau saya tinggal disana, mereka responnya "hah? emang masih ada rumah disana?". orang asli yg tinggal di kemang pun banyak yang sudah pindah, karena (mungkin) tergiur dengan nilai jual tanah yg tinggi di kemang, cuma beberapa yg masih bertahan.

    ReplyDelete
  4. hahaha ... Jakarta banget ya Rachma Putri :)

    ReplyDelete